• 20

    Mar

    Sejarah PERSIB Bandung (7): Nyaris Degradasi, SIDOLIG 1903 Jadi Merek

    Tahun lalu, 1925 Sidolig nyaris degradasi. Dalam playoff, calon promosi YMC dapat dikalahkan Sidolig dalam adu tanding (kandang dan tandang). Sidolig jelas tidak akan minta tolong, karena pengurus Sidolig masih perang dingin dengan pengurus BVB. Namun bisa jadi pengurus BVB mau menolong, karena lawan Sidolig dalam playoff ini adalah YMC, klub yang dimiliki orang-orang Tionghoa (bukan milik bangsa Belanda). Pengurus BVB boleh jadi tetap menganggap Sidolig dengan dukungan bobotoh dan pemilik supporter terbanyak harus ada di liga utama, karena menjadi sumber pendapatan terbesar BVB melalui penjualan tiket. Namun tetap tidak ada yang tahu. Yang jelas Sidolig tidak mau sejarahnya terkubur begitu saja (Sidolig didirikan 1903) dan tidak rela investasinya tidak berkembang (telah memiliki lapangan
  • 18

    Mar

    Sejarah PERSIB Bandung (6): Promosi vs Degradasi

    Secara resmi NIVB telah dibentuk (1919) dan sudah berafiliasi secara resmi dengan FIFA (1924). Bandoengsche Voetbal Bond (BVB) menjadi salah satu anggota NIVB yang dengan sendirinya Sidolig (1903), UNI (1904), Sparta (1904), Velocitas (1905), Osvia (1918), Luno (1919), HBS (1918) menjadi klub yang diakui oleh FIFA. Klub-klub sepakbola dari generasi pertama di Bandoeng ada beberapa diantaranya yang mengadopsi nama klub yang tengah berkompetisi di Liga Belanda. Misalnya di Bandoeng, UNI (Unitas), Sparta (Spartaan), HBS (HBS), Velocitas (Velocitas), Stormvogels (Stormvogels), di kota lainnya seperti Hercules, Quick, Excelsior, Go Ahead dan sebagainya. Klub-klub Belanda tersebut berkompetisi dengan klub yang menjadi top dan survive hingga masa kini seperti Fyenoord, Ajax, Vitesse, Go Ahead, N
  • 16

    Mar

    Sejarah PERSIB Bandung (5): Laga Internasional dan Skorsing Pemain

    Sementara itu, di Bandoeng sendiri, kegiatan sepakbola semakin marak. BVB (organisasi sepakbola Bandoeng) semakin menguat. Klub-klub semakin kompetitif. Animo penonton semakin meningkat. Bobotoh (media Belanda menyebutnya Soendanesche), khususnya pendukung klub Sidolig semakin banyak. Penonton bersedia membayar tiket masuk untuk menonton di lapangan. Bobotoh juga makin intens mendampingi tim kesayangannya untuk bertanding di luar kota. Publisitas makin meluas. Panitia di bawah pengawasan BVB semakin bergairah karena pemasukan semakin besar. Pajak tontonan, iklan promosi dan retribusi dari lapangan sepakbola menjadi sumber pendapatan baru bagi pemerintah kota. Bilboard (Iklan) Soese Tjap Nonni Njang Paling Baik (1925)     Hal-hal serupa inilah yang menjadi keunggulan kota Ban
  • 13

    Mar

    Sejarah PERSIB Bandung (4): Kisruh dan Politik Sepakbola di Bandung

    Pada jelang penyelenggaraan Kejuaraan Antarkota yang dilangsungkan di Batavia tahun 1919 telah dilaksanakan suatu pertemuan antar pengurus perserikatan (bond) dari empat kota (Batavia, Semarang, Surabaya dan Bandoeng). Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah hal terutama sepakat membentuk federasi sepakbola yang disebut Nederlandsch-Indische Voetbal Bond yang disingkat NIVB pada tanggal 20 April 1919. Kemudian statuta NIVB disahkan 20 Oktober 1919 dan NIVB diusulkan masuk FIFA lalu kemudian diterima secara resmi 24 Mei 1924. Dalam fase ini, di Bandung terjadi sejumlah perkara mulai dari level liga (1923) hingga level klub (1924) bahkan adanya bentrok antara penonton dengan aparat di level pertandingan (lapangan). Kisruh bergeser ke arah dugaan munculnya politik sepakbola di tubuh BVB. &n
  • 10

    Mar

    Sejarah PERSIB Bandung (3): Klub OSVIA, 100 Persen Murni Pribumi

    Kejuaraan Antarkota yang ketujuh dan kali kedua untuk Bandung diselenggarakan tahun 1920 di Bandung, baru saja berlalu. Pada tahun 1921 ini ada dua klub baru mendaftar di liga sepakbola Bandung: Osvia, klub elite pribumi yang sebelumnya mengundurkan diri dan klub baru yang dibentuk orang-orang Tionghoa yang diberi nama YMC. Osvia yang sebelumnya berada Divisi Dua kini dimasukkan ke Divisi Satu, sedangkan YMC sebagai pendatang baru ditempatkan di Divisi Tiga. Permainan olahraga yang awalnya hanya digemari bangsa Belanda, kini (1920an) sudah mulai digemari dan dibicarakan di kalangan rakyat. Penduduk pribumi juga mulai intens hadir datang ke lapangan Aloon-Aloon. Pada masa ini pertandingan antara Sidolig (kostum biru, blauw-witten) mewakili Bandung dan Vios (kostum oranye) mewakili Batavia
  • 9

    Mar

    Sejarah PERSIB Bandung (2): Liga Tiga Divisi dan Tim Perserikatan

    Sepakbola Bandung terus tumbuh dan berkembang. Setelah sukses menjadi penyelenggara Kejuaraan Antarkota, pengurus Perserikatan Sepakbola Bandung (Bandoengsche Voetbal Bond=BVB) berusaha meningkatkan kualitas kompetisi. Jumlah pertandingan diperbanyak baik liga maupun turnamen dan friendly game. Kegiatan publisitas sudah mulai dilakukan. Liga yang awalnya satu divisi berkembang menjadi tiga divisi. Ada satu klub baru bertambah yang namanya LUNO, singkatan dari Laat Uniet Overwinnen (artinya kira-kira berserikat akan maju. Catatan: tidak semua kronologis disajikan, pertandingan yang sifatnya berulang seperti jalannya putaran liga, dilompati, kecuali ada hal yang sifatnya menarik. Informasi pertandingan dibatasi pada awalnya liga dan jelang liga berakhir. Hal yang sifatnya baru akan disajika
  • 7

    Mar

    Sejarah PERSIB Bandung (1): UNI, Sidolig, Sparta dan Velocitas

    Persib Bandung adalah salah satu contoh klub sepakbola Indonesia masa kini yang ideal dan benar-benar siap serta telah menyiapkan diri untuk memasuki era sepakbola Indonesia modern (industri sepakbola). Tanpa bermaksud mengecilkan klub-klub lain, tulisan ini hanya sekadar memberi latar bagaimana sepakbola tumbuh dan berkembang di Bandung di masa doeloe, tempat dimana homebase Persib Bandung[1]. Adanya perkumpulan sepakbola di Bandung teridentifikasi tahun 1904. Perkumpulan sepakbola yang pertama lahir adalah Sidolig. Kostum yang digunakan Sidolig mirip dengan kostum yang digunakan Persib masa kini (blauw-witten=biru putih). Ada lima klub yang berpartisipasi dalam liga sepakbola Bandung pada fase awal, yaitu: Sidolig, klub campuran Belanda dan pribumi; UNI, klub sepakbola pegawai Belanda;
  • 28

    Jun

    Piala Dunia 1938: Kapten Indonesia vs Hungaria, Sama-Sama Dokter

    Pertandingan Indonesia vs Hungaria yang dilangsungkan tanggal 6 Juni dalam Piala Dunia 1938 ternyata pertemuan dua kapten yang sama-sama berprofesi dokter. Kapten Tim Indonesia adalah Dr. Achmad Nawir dan kapten Tim Hungaria adalah Dr. Sarosi. Ini unik. Sangat jarang, dan mungkin satu-satunya kejadian dalam dunia sepakbola. . Sebelum pertandingan dimulai, prosedurnya kapten dua tim dipertemukan di hadapan wasit dan hakim garis. Ketika antara Nawir dan Sarosi berjabat tangan, Nawir mengucapkan Selamat Datang dengan ramah kepada Dr. Sarosi. Rupanya, Sarosi juga tahu bahwa kapten Indonesia adalah seorang dokter. Lantas Sarosi membalas ucapan Nawir dengan salam yang sama, Selamat Datang. Sebagai rekan sejawat dalam dunia kedokteran, Sarosi juga membalas salam Nawir itu dengan ramah. Lanta
  • 28

    Jun

    Piala Dunia 1938: Tim Indonesia Tidak Langsung Pulang, Kemana Mereka?

    Tim Indonesia dan Tim Belanda yang sama-sama tampil di Piala Dunia 1938, bernasib serupa. Kedua tim ini sama-sama kalah dalam pertandingan knock out Perdelapan Final. Bedanya, Tim Belanda langsung pulang, sedangkan Tim Indonesia tidak. Rupanya, petinggi KNVB (asosiasi sepakbola Belanda) dan petinggi NIVU (asosiasi sepakbola Indonesia) sama-sama tidak puas dengan hasil yang dicapai di Piala Dunia 1938 di Prancis. . Kedua organisasi sepakbola anggota resmi FIFA itu sepakat untuk mempertemukan dua tim yang sama-sama terluka itu di dalam satu pertandingan. Lalu ditetapkan pertandingan kedua tim nasional tersebut dilangsungkan tanggal 26 Juni 1938 di stadion Olympisch, Amsterdam. Kemudian masing-masing tim mempersiapkan diri. Tim Indonesia kembali ke Den Haag, tempat dimana markas Tim Ind
  • 25

    Jun

    Simpang Siur Kehadiran Indonesia di Piala Dunia 1938: Ini Faktanya!

    Selama ini, kisah kehadiran Indonesia di Piala Dunia 1938 ditulis secara keliru. Faktanya, kehadiran Indonesia mengikuti proses yang normal: bukan penunjukan dan juga bukan menggantikan, tetapi mendaftar dan mengikuti proses prakualifikasi sebagaimana tim-tim lainnya yang berhasil ke Prancis. Berikut, kronologis Indonesia bisa hadir di Piala Dunia 1938 di Prancis. Kongres Dewan FIFA yang berlangsung di Prancis tanggal 20 April 1936 menghasilkan dua keputusan penting, yakni: tempat penyelenggaraan Piala Dunia yang ketiga tahun 1938 di Prancis dan Indonesia (kala itu bernama Nederlandsch Oos Indie atau Dutch East Indie) disahkan sebagai anggota FIFA. Di Indonesia waktu itu ada dua asosiasi sepakbola, yakni: NIVU (Nederlansch Indie Voetbal Unie) dan PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indo

Profil Penulis

akhirmh@yahoo.com

Bergabung dengan Blogdetik sejak 4 Juni 2008, menulis blog di waktu luang. Satu dasawarsa terakhir mempelajari ekonomi, industri dan bisnis sepakbola. Untuk lebih memahami topik sepakbola tersebut, sedang mempelajari sejarah sepakbola di Indonesia.

Follow Me