Docter Djawa Voetbal Club (1907): Awal Kebangkitan Nasional Indonesia

20 May 2016

Berbicara tentang kebangkitan nasional sebenarnya juga terjadi di lapangan sepakbola. Uniknya, para pemain sepakbola Indonesia tidak hanya membangkitkan energi sepakbola tetapi juga energi bangsa dalam konteks nasional. Klub Tapanoeli Voetbal Club (Tapanoeli VC) yang didirikan tahun 1907 di Medan terbilang klub pribumi terawal yang berbicara tentang kebangkitan nasional Indonesia. Klub sepakbola pribumi ini mengkampanyekan kebangkitan nasional secara santun, penuh dedikasi, keikhlasan dan kejujuran. Pendiri klub Tapanoeli VC ini adalah Hadji Dja Endar Moeda yang memulai karir ‘politik’ di kota Padang.

Dja Endar Moeda lahir di sebuah kota besar di pedalaman Residentie Tapanoeli tahun 1860. Dja Endar Moeda adalah murid pertama Charles Adrian van Ophuijsen (penyusun tata bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal tata bahasa Indonesia). Setelah lulus Kweekschool Padang Sidempuan (1884), Dja Endar Moeda menjadi guru. Sambil mengajar, menulis buku pelajaran untuk pribumi, mengarang novel, mengarang buku umum dan mengirim artikel ke majalah yang terbit di Probolinggo. Setelah berdinas selama delapan tahun menjadi guru, Dja Endar Moeda pension (kala itu setelah berdinas delapan tahun boleh memilih, pensiun atau melanjutkan). Lalu berangkat naik hadji ke Mekah (sepulang dari hadji, Dja Endar Moeda menulis ‘buku saku’ tentang panduan menunaikan rukun hadji (buku panduan haji pertama di Indonesia).

Pada tahun 1895 Dja Endar Moeda mendirikan sekolah swasta di Padang (karena banyak penduduk tidak kebagian tempat di sekolah negeri yang didirikan pemerintah). Karya-karyanya (buku pelajaran dan buku umum) menjadi bahan baku untuk sekolah swasta tersebut. Pada tahun 1897 Dja Endar Moeda menawarkan buku roman terbarunya kepada penerbit. Bukan hanya bukunya yang diterima untuk diterbitkan tetapi juga ditawarkan untuk menjadi editor surat kabar Pertja Barat yang diterbitkan Penerbit Winkeltmaatschappij di Padang (lihat Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 04-12-1897).

Sejak Dja Endar Moeda menjadi editor Pertja Barat, koran Sumatra Courant sering mengutip dan memberitakan kiprah Dja Endar Moeda karena pemikirannya. Koran Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 25-03-1898 memberitakan isi esai Dja Endar Moeda mengusulkan di dalam korannya, Pertja Barat, menginginkan agar di sekolah pribumi, bahasa pengantarnya adalah bahasa Melayu, bukan bahasa Belanda. Alasannya adalah bahwa sangat sulit bagi pribumi untuk bisa berbahasa Belanda.

Pernyataan Dja Endar Moeda ini membuat petinggi di Batavia tersentak. Koran Sumatra Courant juga memuat hasil wawancara korespondennya di Batavia yang menanyakan langsung Menteri. Koresponden: ‘Apakah penggunaan bahasa kita (maksudnya Belanda) dalam pendidikan akan dihentikan?”. Menteri menjawab: ‘Jangan sampai terjadi, nanti tidak ada ajaran yang lebih mengikat seperti sebelumnya yang terjadi di sekolah guru’.

Beberapa kali koran Sumatra Courant mengutip isi editorial Dja Enda Moeda sebelumnya. Kini, koran Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 15-11-1898 memberitakan Dja Endar Moeda yang mengkritisi penghematan dan pemotongan anggaran pendidikan untuk sekolah-sekolah pribumi (termasuk kweekschool). Koran Pertja Barat edisi 10-11-1898 sebagaimana dikutip Sumatra Courant, memberitakan pendapat Dja Endar Moeda bahwa ‘Sepuluh tahun yang lalu, kondisi pantai barat begitu buruk, Deputi Inspektur Pendidikan Pribumi Pantai Barat hanya digaji f 700 per bulan tetapi harus bertanggungjawab juga untuk mengawasi sekolah-sekolah pribumi dari Atjeh hingga Benkoelen. Bahkan pada tahun 1887 kami tidak punya adjunt inspektur (pengawas sekolah) dan Mr Grivel, hanya digaji f 500 per tahun. Sekarang, meski kita memiliki inspektur di pantai barat dengan gaji f 900 dan wakil inspektur f700 per bulan, namun jumlah sekolah pribumi belum meningkat secara signifikan. Ini berarti pemotongan anggaran pendidikan yang telah diputuskan pusat (Batavia) akan lebih merepotkan dan membuat lebih buruk lagi pendidikan bagi pribumi.

Dja Endar Moeda adalah pejuang pendidikan pribumi pertama, perjuangannya tidak pernah luntur sejak masih sekolah di Kweekschool Padang Sidempoean hingga beralih profesi dari guru menjadi editor surat kabar Pertja Barat di Padang. Dja Endar Moeda adalah editor pribumi pertama (1897), editor kedua Mangaradja Salamboewe (Pertja Timor di Medan, 1902) dan editor ketiga Tirto Adhi Soerjo (Pembrita Betawi di Batavia, 1903).

Dja Endar Moeda yang di kalangan pers Eropa/Belanda (ETI), meski kini menjadi jurnalis tetapi tetap dijuluki sebagai guru Dja Endar Moeda. Hal ini didasarkan statemen Dja Endar Moeda yang menganggap sekolah dan media sama pentingnya.

Dengan portofolio yang tinggi (tabungan, gaji pension, royalty buku-buku karangannya, gaji selama editor) Dja Endar Moeda mengakuisisi percetakan Winkeltmaatschappij sekaligus surat kabar Pertja Barat. Dengan begitu, Dja Endar Moeda menjadi orang paling terpandang di Kota Padang dan orang yang disegani di kalangan orang-orang ETI.

Pada tahun 1900 Dja Endar Moeda mendirikan organisasi sosial yang diberi nama Medan Perdamaian (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 20-02-1900). Dja Endar Moeda adalah penggagas Medan Perdamian dan menjadi presiden pertama (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 21-08-1902). Organisasi multi etnik, Medan Perdamaian ketika masih dipimpin oleh direktur (ketua) Dja Endar Moeda pada tahun 1902 sebagaimana dilaporkan De Locomotief (edisi 21-08-1902) bahkan telah memberi sumbangan bagi peningkatan pendidikan di Semarang sebesar f 14.490 yang diserahkan melalui Charles Adrian van Ophuijsen yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pendidikan Province Sumatra;s Westkust (Pantai Barat Sumatra).

Ini dengan sendirinya menunjukkan bahwa Medan Perdamaian, organisasi sosial pribumi pertama di Indonesia telah membuktikan sifatnya yang memang multi etnik dengan sasaran seluruh populasi (pribumi) di seluruh Nederlandsch Indie (Hindia Belanda). Pada tahun 1902 Dja Endar Moeda sudah memiliki berbagai media dua di Padang dan satu di Sibolga. Pada tahun 1905 Dja Endar Moeda mendirikan suratkabar berbahasa Belanda bernama Sumatra Nieuwsblad di Padang (untuk lebih efektif agar orang-orang ETI lebih memahami apa yang diperjuangkan oleh Dja Endar Moeda). Namun perjuangan Dja Endar Moeda mulai dihadang pemerintah. Pada tahun 1907 Dja Endar Moeda dikenai pasal delik pers (padahal persoalannya sepele), lalu di hokum cambuk, diusir dari kota Padang. Medianya diserahkan kepada adiknya, lalu Dja Endar Moeda hijrah ke Medan. Masih pada tahun 1907 Dja Endar Moeda di Medan menerbitkan (kembali) Sumatra Nieuwsblad dan mendirikan klub sepakbola Tapanoeli Voetbal Club alias Tapanoeli VC yang berkompetisi di liga sepakbola Medan (Deli Voetbal Bond).

Pada tahun 1908 Boedi Oetomo didirikan. Sekadar diketahui, arsitektur organisasi (baru) Boedi Oetomo sesungguhnya adalah copy paste dari organisasi (lama) Medan Perdamaian. Hanya saja bedanya: Medan Perdamaian tetap cenderung bersifat multi etnik (nasional), sedangkan Boedi Oetomo cenderung bersifat terbatas di Jawa (kedaerahan). De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 21-08-1902, melaporkan: ‘Pada pertemuan asosiasi Boedi Oetomo, yang diselenggarakan di Djokjakarta 3 Oktober 1908 (Kongres pertama Boedi Oetiomo, lahir 20 Mei 1908, red) pemerintah menanggapi pertanyaan dari Bupati Temanggoeng bahwa di luar Djawa sudah ada asosiasi sejenis. (seperti misalnya) Medan Perdamaian di Fort de Kock yang didirikan 17 Oktober 1907. Organisasi Medan Perdamaian (sebagaimanai) diketahui bertujuan untuk mewakili kepentingan anggota dan populasi dalam satu kata: kemajuan. Untuk mencapai tujuan, organisasi Medan Perdamaian telah diputuskan menerbitkan majalah (maandelijksch) yang akan dicetak dan diterbitkan oleh penerbit pribumi Dja Endar Moeda di Padang yang akan berisi ilmu sehari-hari yang berguna dan yang diperlukan di bidang pertanian, peternakan, industri, pendidikan, kesehatan di kampung, keadilan, dll. Organisasi (cabang) Fort de Kock ini sudah memiliki anggota 700 orang’.

Pada tanggal 25 Oktober 1908 di Belanda didirikan perhimpunan pelajar Indonesia (Indisch Vereeniging) yang digagas oleh Soetan Casajangan (yang tiba di Belanda tahun 1905, mahasiswa pribumi kedua). Pendirian ini merupakan ‘respon’ terhadap pendirian organisasi Boedi Oetomo (yang bersifat kedaerahan) oleh Soetomo dan kawan-kawan di STOVIA (Batavia). Soetan Casajangan adalah adik kelas Dja Endar Moeda di Kweekschool Padang Sidempuan, sama-sama murid Charles Adrian van Ophuijsen (yang kerap memikirkan nasib pribumi).

Mahasiswa-mahasiswa pribumi STOVIA tampaknya ‘pecah’. Faksi yang berbeda (dengan Boedi Oetomo?) ‘merespon pendirian Indisch Vereeniging di Leiden, Belanda. Pada tahun 1909, klub Docter Djawa Voetbal Club (Docter Djawa VC) yang berkompetisi di liga sepakbola Batavia (Batabiaschen Voetbal Bond) lalu melakukan lawatan ke Medan dimana tuan rumah adalah Tapanoeli VC. Lawatan yang sangat jauh ini, nyaris tidak masuk akal di kalangan pers ETI, karena klub-klub ETI sendiri hanya melawat ke Bandung dan Semarang. Sebab biaya perjalanan jauh sangat mahal apalagi bagi mahasiswa. Kunjungan Docter Djawa VC ke Medan diduga disponsori oleh Dja Endar Moeda (pemilik Tapanoeli VC), kakak kelas Soetan Casajangan di Padang Sidempuan.

Kapten Tim klub sepakbola Docter Djawa VC ke Medan adalah Radjamin Nasution, mahasiswa STOVIA, lulus 1912 dan kelak menjadi Walikota Pertama Surabaya. Radjamin Nasution adalah Pembina sepakbola pribumi di Surabaya. Dr. Radjamin Nasution sesungguhnya berteman akrab dengan Dr. Soetomo. Kekeliruan Soetomo yang menganulir trans nasional (dengan pendirian Boedi Oetomo) kelak tahun 1931 dikoreksinya sendiri. Dr. Radjamin Nasution dan Dr. Soetomo di Surabaya kemudian bahu membahu menentang imperialis Belanda dengan mendirikan Komite Persatoean Bangsa Asia. Komite ini melakukan rapat besar untuk protes terhadap Belanda dimana salah satu yang diundang adalah pemuda revolusioner Ir. Soekarno yang belum lama lulus dari sekolah teknik di Bandung. Pendukung komite ini adalah Federasi Seluruh Organisasi Pribumi yang didirikan oleh Parada Harahap, editor surat kabar Bintang Timur bersama M. Husni Thamrin (1927). Ketua federasi M. Husni Thamrin, sekretaris Parada Harahap. Parada Harahap sendiri adalah orang pertama yang membongkar kekejaman di perkebunan terhadap kuli asal Tiongkok dan Djawa (1917-1918), pendiri surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempuan 1919. Parada Harahap adalah mentor dari Soekarno, Hatta dan Amir (The Three Founding Father RI).

Hari ini, 20 Mei dikenal sebagai hari kebangkitan bangsa. Bagi generasi muda yang lebih cerdas, hari kebangkitan bangsa seharusnya dimaknai sebagai hari membangkitkan energi bangsa tidak hanya di bidang pendidikan, bidang kesehatan dan lain sebagainya tetapi juga di lapangan sepakbola. Semua itu sudah dipelopori para pendahulu (pionir), generasi muda tinggal melanjutkannya. Seperti dibilang Ir. Soekarno: jangan sekali-kali melupakan sejarah (jasmerah), termasuk cerdas dalam membaca sejarah bangsa yang sebenarnya.

Baca Juga:

Dr. Radjamin Nasution: Walikota Pertama Surabaya, Pemain Sepakbola Top

 

*Dikomnpilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.


TAGS sepakbola kebangkitan bangsa Tapanoeli VC


-

Profil Penulis

akhirmh@yahoo.com

Bergabung dengan Blogdetik sejak 4 Juni 2008, menulis blog di waktu luang. Satu dasawarsa terakhir mempelajari ekonomi, industri dan bisnis sepakbola. Untuk lebih memahami topik sepakbola tersebut, sedang mempelajari sejarah sepakbola di Indonesia.

Follow Me