PSSI Menekan FIFA Jadi Anggota via Diplomasi Sepakbola di Asian Games

20 May 2016

Untuk mencabut sanksi FIFA teradap PSSI, pemerintah Indonesia mengutus Erick Thohir, Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) serta Ketua Komite Ad Hoc Reformasi PSSI, Agum Gumelar untuk bertemu langsung dengan Presiden FIFA, Gianni Infantino di Zurich, Swiss, akhir April 2016 lalu. Erick Thohir pemilik klub Inter Milan di Italia tampaknya ada diskusi khusus dengan Gianni Infantino, Presiden FIFA yang berasal dari Italia. Mungkin intinya begini: Indonesia e l’Italia è uno. Hasilnya langsung moncer: Sebelum Kongres FIFA 12-13 Mei 2016 di Mexico City sanksi dicabut. Lalu kemudian, Hinca Panjaitan, Pelaksana Tugas Ketua Umum PSSI dapat duduk manis ikut di dalam Kongres FIFA itu.

Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi sebelumnya pernah melontarkan gagasan untuk merekrut Jose Mourinho, mantan pelatih Chelsea untuk memajukan sepakbola Indonesia. Hinca Panjaitan yang hadir di Kongres menjadi sasaran pertanyaan: Apakah Indonesia serius merekrut Mourinho untuk tim nasional yang mahal harganya?. Hinca Panjaitan menjawab enteng bahwa gagasan itu bukti keseriusan Indonesia untuk memajukan sepakbola di Indonesia. Hinca Panjaitan juga ditanya apakah orang Indonesia tahu seberapa mahal harga untuk seorang Mourinho?. Untuk pertanyaan ini Hinca Panjaitan tampaknya tertekan, lupa menjawab bahwa Erick Thohir saja bisa membeli Inter Milan yang jauh lebih mahal daripada Jose Mourinho. Si penanya jelas pasti tahu berapa perbandingan Inter Milan dan Mourinho. Lantas, si penanya akhirnya tersipu-sipu karena sadar diri bahwa yang ditanya adalah orang Indonesia. Itulah diplomasi sepakbola Indonesia.

Diplomasi serupa ini juga pernah terjadi pada awal tahun 1950an ketika PSSI ingin mengjaukan diri untuk menjadi anggota FIFA untuk kali pertama. Ini bermula dari Kongres PSSI (pasca pengakuan kedaulatan RI) di Semarang tanggal 2 dan 3 September sebagaimana dilaporkan Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 29-09-1950 bahwa secara aklamasi organisasi payung ini didirikan dengan nama PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia). Pernyataan demikian ditetapkan bahwa organisasi ini bukan kelanjutan dari PSSI lama tapi dibentuk dari tanggal peluncuran 2 September 1950: kebetulan adalah nama tetap sama.

Diplomasi Sepakbola PSSI Menjadi Anggota FIFASelama konferensi ini mengadopsi resolusi sebagai berikut: PSSI dibagi menjadi beberapa dewan pengawas (kabupaten) yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah. Sumatera dan Sulawesi. Komposisi districtsbesturen untuk Jawa Barat di Persib (Bandung). Jawa Timur ke Persibaja (Soerabaja), Jawa Tengah ke PSIS (Semarang), sedangkan tempat di mana komisaris di Sumatera dan Sulawesi, belum ditetapkan. Sampai PSSI dapat diterima sebagai anggota serikat apapun di suatu daerah di Indonesia yang memiliki setidaknya 5 anggota (asosiasi anggota). Telah ditunjuk sebuah komite untuk merancang Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, yang terdiri dari tiga orang dari Yogya (Kasimun. Duke dan Satandi), Saelan dari Makassar, Jumarsono dari Jakarta, The Boen Gwan dari Surabaya, dan belum diangkat dari Medan. Pusat Dewan PSSI (yang terletak di ibukota RI (Jakarta). Komposisi Dewan diserahkan kepada Persidja untuk menunjuk (Jakarta), yang mana sebagai ketua juga Mr. Maladi, yang janji disahkan oleh Kongres. Maladi menerima mandat kosong untuk membentuk staf. Amatirisme akan menjadi dasar PSSI, dan selanjutnya PSSI akan bergabung sebagai anggota sepak bola internasional (FIFA) untuk berpartisipasi di Olimpiade Dunia. Untuk Olimpiade Asia di New Delhi (awal 1951) juga akan berpartisipasi, melakukan persiapan yang diperlukan bahwa pada akhir Desember 1950, sebanyak 32 pemain akan dipilih dari seluruh Indonesia, yang akan diberikan ke panitia Olimpiade untuk dilatih. Akhirnya diputuskan rencana darurat sebagai berikut: (1) Kompetisi untuk Kejuaraan Nasional, (2) Pembentukan sebuah badan, (3) Pusat pelatihan dan pelatihan, (4) Deposit peralatant olahraga, dan (5) Olimpiade.

Untuk merealisasikan semangat Indonesia menjadi anggota FIFA, PSSI terbantu dengan adanya pengusulan Indonesia menjadi anggota IOC (Komite Olimpiade Internasional). Komite Olimpiade Indonesia (KOI) yang sudah dibentuk tengah bekerja namun masih tersandung bahwa persyaratannya minimal memiliki tiga federasi olahraga Indonesia yang sudah diakui oleh federasi Internasional, seperti PSSI menjadi anggota FIFA, PASI menjadi anggota federasi internasional.

FIFA ditekan oleh PSSILantas KOI mengirm atlet atletik ke Eropa untuk berlatih. Pers Eropa bertanya, apakah ini pertanda Indonesia akan berpartisipasi dalam Olimpiade ke-15 di Helsinki pada tahun 1953. Pejabat KOI menjawab: Keikutsertaan Indonesia di Olimpiade Asia di New Delhi harus dilihat sebagai persiapan untuk partisipasi dalam Olimpiade internasional. Perbedaan waktu itu akan digunakan Indonesia untuk mempersiapkan secara matang di Helsinki. Kita akan mencoba untuk mengatur pertemuan olahraga antara Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti India, Thailand, Myanmar dan Filipina. Kesempatan selama di New Delhi dalam Asian Games diadakan, mungkin juga akan digunakan untuk mengatur sebuah konferensi Komite Olimpiade negara-negara peserta. akan dibahas di konferensi ini. Juga akan membahas masalah hubungan olahraga antara negara-negara Asia Tenggara. Indonesia kemudian akan mengangkat isu-isu di atas, dan selanjutnya akan diminta untuk memeriksa perlunya pembentukan federasi olahraga South East Asia seperti federasi sepakbola (lihat Nieuwe courant, 31-01-1951).

KOI akhirnya menjadi IOC dan PASI menjadi anggota federasi internasional. Akan tetapi PSSI belum menjadi anggota FIFA. Namun demikian, keluwesan IOC ini menerima Indonesia karena Indonesia mengajukan diri untuk penyelenggara Asian Games 1959 (Het nieuwsblad voor Sumatra, 02-02-1951). KOI menggendong PSSI ke Asian Games di India. Hasilnya IOC luluh juga dan memberikan dispensasi kepada PSSI (yang notabene belum menjadi anggota FIFA).

Dewan FIFA di Madrid bereaksi atas kehadiran PSSI di Asian Games bahwa PSSI tidak berhak di Asian Games. Dalam hal ini PSSI menggunakan bendera PORI (Pusat Olah Raga-Republik Indonesia). Sebagaimana dilaporkan Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 11-04-1951 bahwa FIFA telah menyimpulkan Indonesia tidak bisa berpartisipasi di Asian Games karena Indonesia bukan anggota FIFA. Sekarang FIFA akan meminta klarifikasi kepada penyelenggara Asian Games, India.

Maladi, presiden PSSI mengatakan bahwa pesan dari Madrid atas partisipasi Indonesia dalam Asian Games memang beberapa mengandung kebenaran. Namun, menurut Maladi dispensasi yang diterima dari Komite Asian Games (yang didukung Jepang) Maladi menjelaskan bahwa itu dimaksudkan untuk memperkenalkan Indonesia dalam proses keanggotaan FIFA dan keikutsertaan dalam sepakbola Asian Games dan karenanya kehadiran Indonesia sangat diperlukan. Untuk mendukung ini pemerintah meminta Dubes Indonesia di New Delhi untuk melakukan lobi agar sepakbola bisa berpartisipasi di Asian Ganes. Akhirnya komite IOC di India memberi dispensasi bagi PSSI dan masalah Indonesia akan diambil alih oleh komite Asian Games, lanjut Maladi.

Ketika Maladi ditanya lebih lanjut tentang alasan dispensasi ini. Maladi menjawab bahwa ini adalah medan politik, dimana tengah terjadi upaya mempromosikan persatuan sesame Asia. Ketika ditanya lebih lanjut apakah ini akan mempersulit PSSI untuk proses menuju anggota FIFA? Maladi menjelaskan bahwa keanggotaan FIFA hanya dapat diberikan dalam rapat pleno organisasi ini (dan itu nanti, bukan sekarang yang datang dari Madrid).

Akhirnya FIFA melunak dan mencatat bahwa Dewan FIFA dapat mengambil keputusan sebagai calon anggota sementara bagi Indonesia. Lalu direspon langsung dari Jakarta: Indonesia sekarang telah memutuskan untuk bergabung FIFA (soal diterima atau tidak itu soal nanti pada Kongres FIFA). Yang jelas Indonesia sudah mengganggap sebagai Anggota FIFA.

Indonesia lalu bersiap-siap ke India (termasuk PSSI). Namun kehidupan pasca colonial, pemerintah dan rakyat sama-sama terupuruk. Biaya kontingen ke India tidaklah sedikit. Pemerintah hanya mampu menyediakan Rp 355.000 dari yang dianggarkan KOI sebesar Rp 600.000. Lantas sisa Rp 245.000 darimana ya? Sumbangan dari sekolah-sekolah hanya Rp 27.000. Lalu kemudian ada gagasan untuk melakukan penjualan perangko khusus Olimpiade, pemutaran film di bioskop, pertandingan olahraga dll. Akhirnya total Rp 600.000 dapat dipenuhi. Inilah Indonesia, untuk urusan sepakbola semua bersedia bahu membahu.

Itulah diplomasi sepakbola Indonesia. Pantang menyerah meski situasi kondisi melarat. Sebagaimana diketahui pada nantinya dalam Kongres FIFA 1952 di Helsinki Indonesia diterima sebagai anggota FIFA. Isu yang dikedepankan hanya satu: sesama Asia. Kini (2016) ketika Indonesia meminta sanksi FIFA terhadap PSSI dicabut apakah Erick Thohir membisikkan kepada Gianni Infantino, Presiden FIFA bahwa kita sesama Italia? Indonesia e l’Italia è uno. Boleh jadi.

 

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

 


TAGS sepakbola


-

Profil Penulis

akhirmh@yahoo.com

Bergabung dengan Blogdetik sejak 4 Juni 2008, menulis blog di waktu luang. Satu dasawarsa terakhir mempelajari ekonomi, industri dan bisnis sepakbola. Untuk lebih memahami topik sepakbola tersebut, sedang mempelajari sejarah sepakbola di Indonesia.

Follow Me