PSSI Diakui FIFA Setelah 16 Tahun: Timnas Indonesia Dapat Dispensasi

19 May 2016

Pencabutan sanksi FIFA terhadap PSSI telah terjadi sesaat sebelum berlangsungnya Kongres FIFA yang ke-66 yang berlangsung 12-13 Mei 2016 di Mexico City. FIFA sendiri sebelumnya telah menjatuhkan sanksi terhadap PSSI pada 30 Mei 2015. Ini berarti PSSI tidak diakui selama setahun. Bukan persoalan itu yang ingin diperhatikan, tetapi PSSI di masa lampau harus menunggu selama 16 tahun baru diterima sebagai anggota FIFA.

PSSI dibentuk tanggal 19 April 1930 di Djogjakarta dengan nama Persatoean Sepakraga Seloerpoeh Indonesia (PSSI). PSSI dibentuk tanggal 19 April 1930 di Djogjakarta dengan nama Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI). Ketua PSSI yang pertama adalah Ir. Soeratin. Dengan didirikannya PSSI, maka di Indonesia waktu itu ada dua asosiasi sepakbola yang diakui oleh pemerintah (colonial), yakni: NIVU (Nederlansch Indie Voetbal Unie) dan PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia).

Siapa itu Ir. Soeratin? Dia tidak memiliki riwayat sepakbola, sejauh berita yang ada. Raden Soeratin memulai pendidikan di Koningen Wilhelmina School (KWS) di Batavia, sekelas dengan Panoesoenan Nasution, Iskander Nasution, I. Harahap, Regen Siregar, Barioen Nasution (lihatHet nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 29-04-1914). Sekolah elit Eropa/Belanda (ETI) enam tahun ini (SMP/SMA), siswa-siswa yang diterima adalah lulusan ELS, selain anak-anak ETI juga terdapat beberapa Tionghoa dan pribumi.

Setelah lulus tahun 1920 mereka umumnya melanjutkan studi ke perguruan tinggi (di dalam atau luar negeri). Rd. Soeratin berangkat ke luar negeri dengan kapal Prins der Nederlanden, 26 Augustus van Batavia menuju Amsterdam (lihat Provinciale Geldersche en Nijmeegsche courant, 10-09-1920). Pada tahun 1922 Midd. Techn. School di Utrecht (Het Centrum, 24-07-1922). Lalu kemudian mekanjutkan studi dan Raden Soeratin lulus mendapat gelar insinyur tahun 1926 dari Idenburg, Duinschland (lihat Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, 01-06-1926).

Soeratin segera pulang ke tanah air. Pada bulan November, Ir. Soeratin menjadi guru HIS Muhammadyah di Tegal (De Indische courant, 09-11-1926). Soeratin diangkat menjadi ingenieur voor de Tegalsche assaineering di firma Sitzen en Louzada di Tegal. Pada tahun 1927 Soeratin ikut dalam pertemuan yang yang dilakukan Studieclubs di Bandung (amggotanya antara lain Soekarno) yang digelar di tempat Komite Persatoean Indonesia (Bataviaasch nieuwsblad, 29-03-1927). Klub Studi ini terbentuk sebagai respon para sarjana baru dari ide Parada Harahap untuk menyatukan semua organisasi (federasi seluruh organisasi pribumi) yang dikenal sebagai PPPKI di Batavia. PPPKI yang menginisiasi Kongres Pemuda 1928, para pentolah Klub Studi Bandung ini hadir dan ikut berpidato. Soeratin masih tetap bekerja dengan firma di Tegal (De Indische courant, 28-04-1928). Soeratin mendirikan klub tennis di Tegal (anggota umumnya orang ETI) dimana bagian halaman rumahnya srndiri dijadikan lapangan tennis (Bataviaasch nieuwsblad, 10-01-1929). Tugas-tugas Soeratin sebagai pelaksana kantor arsitektur Sitsen en Louzada dianggap selesai di Tegal oleh pemerintah kota (Soerabaijasch handelsblad, 09-07-1929).

Besar kemungkinan setelah selesai tugas Soeratin di Tegal pada pertengahan tahun 1929 pulang ke Djogja (kampong halamannya). Sebagaimana dilaporkan Bataviaasch nieuwsblad, 24-04-1930 bahwa di Djogja dibentuk Persatoean Sepak Raga Seloeroe Indonesia’ dan Djogja sebagai pusat pemerintahannya dimana sebagai presiden ditunjuk Ir. Soeratin. Dari jajaran pengurus PSSI ini (Soeratin, Amir dan Abdul Hamid) hanya Abdul Hamid yang terdeteksi sebagai pelaku sepakbola (di Batavia?). Boleh jadi Abdul Hamid adalah pelaku utama pembentukan PSSI ini sedangkan Soeratin tidak berlatar sepakbola dan bahkan pendiri klub tenis di Tegal. Dengan kata lain, Soeratin ujug-ujug muncul di dunia sepakbola (mungkin saat menganggur dari dunia pekerjaan?).

Kongres Dewan FIFA yang berlangsung di Prancis tanggal 20 April 1936 menghasilkan dua keputusan penting, yakni: tempat penyelenggaraan Piala Dunia yang ketiga tahun 1938 di Prancis dan Indonesia (kala itu bernama Nederlandsch Oost Indie atau Dutch East Indie) disahkan sebagai anggota FIFA).

Namun asosiasi mana yang diakui oleh FIFA tidak langsung diputuskan dalam kongres tersebut. Baru pada akhir Mei 1936, FIFA mengeluarkan maklumat bahwa hanya mengakuai NIVU. Dengan kata lain PSSI tidak diakui FIFA (bandingkan dalam kasus PSSI vs KPSI).

NIVU masih mengakomodir adiknya (PSSI) untuk bekerjasama dalam pembentukan tim nasional (Timnas), yang dikenal sebagai gentlemen’s agreement. Namun ketika jelang Piala Dunia 1938, PSSI ‘membatalkan secara sepihak’ perjanjian kerjasama tersebut. Akhirnya Timnas Indonesia (Dutch East Indie) hanya diwakili oleh pemain-pemain yang berkompetisi di bawah NIVU.

Pada masa pendudukan Jepang (mulai 1942) sepakbola Indonesia mati suri. NIVU dan PSSI sama-sama tiarap. Seiring dengan berjalannya waktu, FIFA juga dengan sendirinya ‘mengabaikan’ NIVU sebagai anggotanya. Memasuki kemerdekaan RI (1945) PSSI juga belum sempat konsolidasi, Belanda kembali datang, yang dikenal sebagai masa agresi Belanda. Pada fase ini asosiasi sepakbola Indonesia mulai dikonsolidasikan kembali oleh Dr. A. Nawir.

Piala Dunia 1938: Kapten Indonesia dan Kapten Hungaria sama-sama dokterDe vrije pers: ochtendbulletin, 11-11-1948: ‘…kemarin pagi secara singkat komisaris VUVSI/ISNIS Dr. A. Nawir, seorang pemimpin sepakbola di negara ini memberikan penjelasan tentang sepakbola di masa depan untuk olahraga bagi seluruh Indonesia..Dr. Nawir menjelaskan bagaimana sebelum perang, NIVU (Nederlandsch Indie Voetbal Unie) bekerja…secara eksklusif pada penyelenggaraan kompetisi kota yang pertama dibawa bersama empat serikat utama Java, Batavia, Bandung, Surabaya dan Semarang..Selain NIVU juga ada PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia) sebagai organisasi, payung dari sepakbola Indonesia perkotaan…mencoba membuat setiap usaha untuk mencapai kerjasama, tapi lebih dari perjanjian..Lalu masih ada lagi Nan Hwa sebagai Chinessche Bond, yang juga menyelenggarakan kompetisi tapi dianggap sebagai non-otonom organisasi…NIVU berafiliasi pada waktu itu pada sepakbola internasional, FIFA, dan pada tahun 1938, sebagai anggota ikut berpartisipasi dalam Kejuaraan Dunia yang digelar di Prancis. Kapten tim waktu itu, Dr. A. Nawir saat ini adalah Presiden SVB dan komisaris VUVSI/ISNIS. Selama perang, NIVU menarik diri sebagai alasan utama dari FIFA. Selama. pendudukan Jepang, masih bermain sepakbola melalui inisiatif pribadi dan dukungan supporter namun oleh karena hambatan otoritas Jepang: gagal dalam upaya untuk menciptakan sebuah organisasi sebagai payung tunggal. Setelah pendudukan Jepang, sepakbola berturut-turut secara lokal lagi dibuat atas inisiatif dari VBBO (Bandung) yang diadakan pada libur Natal 1946 di Bandung yang mana kemudian dilakukan pertemuan NIVU dan terpilih Dewan NIVU yang diketuai oleh Mr. van Bommel yang kantor ditempatkan di Batavia. Namun kemudian Batavia dianggap tidak sesuai karena banyak kantor pemerintah di Batavia lalu Bandung dijadikan sebagai kantor pusat. Sementara itu, karena sepakbola Surabaya masih sampai ke desa-desa, maka Surabaya yang baru diizinkan untuk mengelola pertandingan dalam kota setelah perang apalagi sudah didukung oleh otritas sipil dan militer. Pada tapak ini nama Mayor Jenderal MR. de Bruyne di Surabaya diangkat sebagai ketua dewan NIVU sementara oleh dewan NIVU. Setelah kejuaran antara kota pada tahun 1947 di Surabaya lalu kemudian diadakan kejuaraan antar kota di Semarang pada hari libur Pentakosta. Nilai propaganda sepakbola menjadi besar terutama oleh Dr. Nawir yang diketahui sebagai ketua SVB. Liputan pers saat itu masih minim dan penggantinya dilakukan dengan laporan pandangan mata melalui radio. Peran A. Nawir sangat besar saat ini dalam membangkitkan sepakbola kembali..di Malang diidirikan kembali Malangsch Voetbal Union..Selanjutnya nama NIVU dilakukan perubahan nama menjadi VUVSI/ISNIS (seperti disebutkan di atas). Asosiasi Sepak Bola Makassar dan Asosiasi Sepakbola Sumatra Timur, mantan anggota asosiasi dari NIVU sekarang telah bergabung dengan VUVSI/ ISNIS dan akan melakukan kompetisi dalam kota dan berikutnya akan dilakukan turnamen partai final yang akan digelar di Batavia. Ketua VUVSI/ISNIS adalah Mr. van Bommel, wakil ketua Mr. Achmad Shah dimana VUVSI/ISNIS mengatasnamakan seluruh Indonesia. Sambil VUVSI/ISNIS meluaskan ke daerah (pulau) lain akan dihubungkan kembali dengan FIFA. Dan sebagai top organisasi Federation Sport Indonesia (FSI) dimana semua asosiasi olahraga akan bersatu. Sebuah komite sementara sudah bekerja. FSI ini dapat meniru seperti Komite Olimpiade Belanda sebagai organisasi payung untuk semua asosiasi olahraga di Belanda. Bekerja VUVSI ISNIS layak diberi apresiasi dan dukungan. Upaya sepakbola memulai pekerjaan yang tepat dan menggunakannya sebagai alat untuk penyebaran olahraga benar berpikir untuk berkontribusi sedikit mereka untuk membawa persatuan di kalangan pemuda olahraga dari semua kelompok di daerah-daerah yang luas. Salah satunya adalah di jalur yang benar, tetapi jarak yang akan dibahas akan mahal dan sulit. Diharapkan bahwa pemerintah mengakui upaya dan pekerjaan VUVSI/ISNIS dan benar-benar akan mendukung’.

Keterangan Dr. A. Nawir ini adalah tentang sepakbola di perkotaan yang notabene sudah dikuasai oleh Belanda (kembali). Sementara itu, keterangan tentang sepakbola di luar perkotaan (terutama di luar Batavia, Semarang, Bandung, Surabaya, Makassar dan Medan) yang cenderung menjadi wilayah republik tidak ditemukan kabar beritanya apakah PSSI sudah dihidupkan kembali atau tidak. Sumber yang ditemukan, baru terdapat pada tahun 1950 (pasca kedaulatan RI). Kehadiran NIVU (VUVSI/ISNIS) lambat laun menghilang yang kemudian muncul ke permukaan adalah PSSI.

Dalam Kongres PSSI (pasca pengakuan kedaulatan RI) di Semarang salah satu keputusan bahwa Indonesia akan mengirimkan Timnas ke Asian Games 4-11 Maret 1951 di New Delhi, India. Padahal saat itu Indonesia belum menjadi anggota FIFA. Komite Olimpiade ‘berbaik hati’ memberikan dispensasi kepada Indonesia dan tetap bisa mengirimkan tim sepakbolanya. FIFA sendiri tidak terlalu bereaksi dan menganggap kehadiran Indonesia di Asian Games sebagai ‘uji coba’ untuk pengajuan menjadi anggota FIFA.

Timnas Indonesia akan dibentuk Desember 1950 untuk dilakukan seleksi terhadap 30 pemain yang diundang dari seluruh Indonesia. Hasil seleksi akan menjadi 18 pemain yang akan disertakan ke Asian Games (De vrije pers : ochtendbulletin, 20-09-1950).

Dalam Kongres FIFA 1952 di Helsinki, PSSI akhirnya diakui sebagai anggota FIFA tanggal 1 November 1952. Ini berarti PSSI harus menunggu selama 16 tahun untuk diakui sebagai anggota FIFA (sejak akhir Mei 1936). Untuk sanksi FIFA yang diberikan selama setahun (yang baru dicabut baru-baru ini) adalah salah satu bentuk penodaan terhadap hasil perjuangan PSSI untuk menjadi anggota FIFA di masa lampau. Semoga jangan terulang lagi.

Lihat juga:

Simpang Siur Kehadiran Indonesia di Piala Dunia 1938: Ini Faktanya!

Live: Piala Dunia 1938 (Indonesia vs Hongaria) 

 

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.


TAGS sepakbola


-

Profil Penulis

akhirmh@yahoo.com

Bergabung dengan Blogdetik sejak 4 Juni 2008, menulis blog di waktu luang. Satu dasawarsa terakhir mempelajari ekonomi, industri dan bisnis sepakbola. Untuk lebih memahami topik sepakbola tersebut, sedang mempelajari sejarah sepakbola di Indonesia.

Follow Me