Liga Champions Eropa: Keunggulan Klub-Klub Berbadan Hukum Koperasi

12 May 2016

Laga final Liga Champions Eropa pada tanggal 28 Mei di Milan, Italia, pada dasarnya tidak menentukan lagi. Juaranya, pasti klub dari Spanyol: Atlético Madrid atau Real Madrid. Final sesama klub Spanyol ini merupakan ulangan yang terjadi dua tahun lalu antara Real Madrid dengan Atlético Madrid yang digelar di Estádio da Luz, Lisboa, Portugal pada tanggal 24 Mei 2014.

Secara keseluruhan, dalam lima tahun terakhir, dari 20 slot semifinalis Liga Champions Eropa, 10 slot diantaranya berasal dari klub-klub Spanyol, kemudian disusul Jerman sebanyak enam slot. Kedua negara ini secara total memberi kontribusi sebanyak 16 slot. Sebanyak empat slot lagi oleh Inggris (3 slot) dan Italia (1 slot). Dalam lima tahun terakhir, dari 10 slot di final, lima slot untuk klub Spanyol, 3 slot untuk Jerman dan masing-masing satu slot untuk Inggris dan Italia. Untuk juara dari lima tahun terakhir, tiga kali diraih oleh klub-klub Spanyol (lihat Tabel). Ini mengindikasikan bahwa klub-klub Spanyol sangat unggul dibanding negara lainnya.

Mengapa begitu heboh klub-klub Spanyol ini? Jawabannya adalah tiga klub Spanyol (Real Madrid, FC Barcelona dan Atlético Madrid yang kerap berada di final Liga Champions Eropa adalah klub-klub yang berbadan hukum koperasi (bukan persero!). Ini sesuatu yang tidak lazim di hampir semua negara, tetapi ini berlaku di Spanyol. Itulah industri sepakbola. Badan hukum koperasi di dunia ekonomi sepakbola telah memberi contoh yang baik bagaimana koperasi bisa berbicara di dunia bisnis modern.

Klub-klub yang unggul di peringkat kedua berasal dari Jerman. Umumnya, klub-klub yang berkompetisi di Liga Jerman bukan berbadan hukum koperasi tetapi juga tidak murni persero. Klub yang berasal dari Jerman seperti Bayern Munchen dan Borussia Dortmund adalah model klub-klub patron. Model klub Spanyol yang berbasis koperasi, semua sahamnya dimiliki oleh para suporter, sementara klub di Jerman (kecuali klub Bayer Leverkusen dan Wolfsberg) sebagian sahamnya mengikuti aturan 50+1 persen saham dimiliki oleh perusahaan (pemilik saham utama). Saham selebihnya merupakan kontribusi dari suporter. Ini berbeda dengan klub-klub yang berada di Inggris dan Italia yang sepenuhnya saham dimiliki oleh pemegang saham utama, seperti klub Inter Milan oleh Erick Thohir dkk, investor asal Indonesia.

Bundesliga telah aktif memanusiakan sepakbola karena sepakbola sendiri adalah tentang suporter, Konsep keseimbangan ekonomi, profitabilitas, solvabilitas klub, dan dukungan khusus dari suporter bergabung dalam peraturan ini yang di kalangan pengamat industri sepakbola dikenal sebagai liga harmoni. Bandingkan dengan di Liga Premier dimana Abrahimovics, Syaikh, dan Glazer, yang mungkin memiliki 100% saham klub. Sementara sebaliknya di Spanyol klub-klub macam Atlético Madrid, Real Madrid dab Barcelona dikelola dengan cara koperasi yang berarti 100 persen milik suporter. Dampaknya, klub-klub di Bundesliga tidak tergantung pada investor asing. Mereka menolak investasi asing (pemodal dari luar Jerman). Dengan pengaturan keuangan yang lebih ketat bagi klub, terbukti sejak 1963 (Bundesliga) tidak pernah klub professional di Jerman yang bubar. Di Inggris sejak 1992 sudah 55 klub yang bubar karena kesulitan keuangan.

FC Barcelona adalah klub sepakbola yang menjadi anak angkat dalam model koperasi moderen. FC Barcelona adalah sebuah contoh yang kongkrit tentang bagaimana sebuah klub sepakbola nyata-nyata bisa dijalankan dengan megikuti prinsip-prinsip koperasi dan masih berhasil bersaing dengan klub-klub besar dunia yang berbadan hukum persero. Klub sepakbola koperasi FC Barcelona yang sudah lama dikenal dan dimiliki oleh suporter yang jumlah anggotanya kini telah mencapai 175.000 orang. Ini berarti, FC Barcelona adalah suatu organisasi sepakbola yang lebih dari sebuah klub (ms que un club/more than a club). FC Barcelona memperlihatkan kepada dunia tentang struktur kepemilikan yang benar-benar berbeda dengan klub sepakbola pada umumnya.

Sebagai klub koperasi, cara-cara pengelolaan FC Barcelona berpedoman pada tujuh prinsip umum koperasi. Sejumlah pasal dalam statuta FC Barcelona yang mengindikasikan prinsip-prinsip koperasi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka (Article 9: On the Club Members)
  2. Pengawasan oleh Anggota secara demokratis (Article 10.1-10.7: Rights of Club Members; 51.1-51.5: Vote of no confidence).
  3. Anggota berpartisipasi aktif (Article 11: Obligations of Club Members; Article 72-76: Extinction and Dissolution of the Club, Merger, Absorption, Segregation, Liquidation)
  4. Badan usaha swadaya yang otonom dan independen (Article 19: Competences of the General Assembly; Article 60-62: Annual Accounts, Auditing, Right of Disposal of the Board of Directors)
  5. Menyelenggarakan pendidikan, pelatihan dan memberikan informasi (Article 4: Functional area)
  6. Melayani anggotanya secara prima dan memperkuat Gerakan Koperasi (Article 5: Territorial area; Article 15: Fans clubs)
  7. Bekerja untuk pembangunan berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakatnya (Article 4: Functional area).

Perhatikan fakta di dua negara tersebut. Suporter Bundesliga merupakan yang terbaik di Eropa. Jumlah penonton di stadion setiap pertandingan rata-rata sekitar 68.000. Di Liga Premier Inggris hanya sekitar 35.000. Di Italia lebih rendah lagi, sekitar 25.000. Persentase kursi kosong di Bundesliga sangat rendah. Signal Iduna Park, kandang Borussia Dortmund, memiliki kehadiran suporter rata-rata tertinggi di Bundesliga per pertandingan sekitar 70.000. Sedangkan FC Barcelona, klub yang sangat memuliakan suporternya mampu mendatangkan supporter lebih dari 70.000 untuk setiap pertandingan. Ini bukan anomali dalam sepakbola, tetapi pilihan yang sesuai bagi FC Barcelona untuk menunjang survival dalam hingar bingar industry sepakbola di Eropa (lihat trenpenonton di stadion Nou Camp, markas FC Barcelona). Lantas bagaimana dengan klub-klub yang ada di Indonesia? Mau? Silahkan pikirkan!

 

*Disarikan oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan berbagai sumber.


TAGS sepakbola koperasi Keunggulan klub sepakbola


-

Profil Penulis

akhirmh@yahoo.com

Bergabung dengan Blogdetik sejak 4 Juni 2008, menulis blog di waktu luang. Satu dasawarsa terakhir mempelajari ekonomi, industri dan bisnis sepakbola. Untuk lebih memahami topik sepakbola tersebut, sedang mempelajari sejarah sepakbola di Indonesia.

Follow Me