Dr. Radjamin Nasution: Walikota Pertama Surabaya, Pemain Sepakbola Top

7 May 2016

Sadiq Aman Khan terpilih menjadi Walikota London dua hari yang lalu (5 Mei 2016). Khan, asal Pakistan yang dari Partai Buruh meraih 44.2 persen suara dengan mengalahkan pesaing terdekatnya, Zac Goldsmith dari Partai Konservatif yang hanya meraih 35 persen suara. Ini kali pertama walikota London dijabat oleh warga asal Asia. Sayangnya, Sadiq Aman bukan penggemar sepakbola meski Kota London sejak doeloe adalah ‘kiblat’ sepakbola dunia.

Bukan Sadiq Aman Khan yang akan dibicarakan, tetapi seorang walikota pertama Surabaya, Radjamin Nasution yang menyukai dunia sepakbola, bahkan sejak usia muda hingga usia tua. Walikota serupa ini hanya ada di Kota Surabaya., kota satu-satunya di Indonesia dimana sepakbola justru diperkenalkan oleh orang-orang Inggris (bukan oleh orang-orang Belanda sebagaimana di kota-kota lainnya).

Artikel ini menyimpulkan bahwa sejarah sepakbola di Indonesia belum pernah ditulis. Beberapa artikel yang lain coba menulis sejarahnya tetapi ditulis secara keliru (dan bahkan tanpa fakta). Setali tiga uang, sejarah PSSI juga tidak hanya ditulis secara keliru, juga dimasukkan unsur-unsur yang tidak semestinya (tidak kredibel) dan dipenuhi dengan dongeng-dongeng yang tidak berdasar alias tidak ada bukti (bahkan fakta yang sebenarnya diputarbalikkan). Artikel ini mendeskripsikan serupa apa sebenarnya sejarah sepakbola di Indonesia, sejarah PSSI dan sejarah sepakbola di Surabaya. Selamat membaca. Para pembaca dimohon sabar membaca, butuh waktu karena artikel ini teridiri dari 40 halaman.

Radjamin Nasution, Pemain ‘Docter Djawa Voetbal Club’

Radjamin Nasution adalah mahasiswa STOVIA di Batavia (kini Jakarta) pada tahun 1909. Namanya terdeteksi sebagai pemain sepakbola di kampusnya, ketika klub Docter Djawa Voetbal Club (Docter Djawa VC) berkunjung ke Medan untuk melakukan persahabatan dengan Tapanoeli Voetbal Club (Tapanoeli VC). Kunjungan ini adalah semacam pramusin sebelum memasuki kompetisi sepakbola pada musim berikutnya. Docter Djawa VC adalah klub yang ikut berkompetisi di liga sepakbola Batavia (Bataviaschen Voetbal Bond=BVB), sedangkan Tapanoeli VC ikut berkompetisi di perserikatan (bond) sepakbola Medan dan sekitarnya (Deli Voetbal Bond=DVB).

Tim sepakbola pertama didirikan di Medan tahun 1890 kemudian malakukan pertandingan pertama tahun 1893 dengan tim dari Penang. Sementara di Batavia, sepakbola dimulai tahun 1896 dan kemudian melakukan pertandingan pertama tahun 1898. Sedang di Bandung, pertandingan sepakbola pertama digelar pada tahun 1894 antara klub BVC dari Batavia dengan Tim Bandung. Ini mengindikasikan bahwa sepakbola di Indonesia pertama kali dilaporkan di Medan (1890).

Sepakbola diintroduksi pertama kali di Surabaya pada tahun 1894 oleh orang-orang Inggris. Sedangkan pertandingan sepakbola pertama dilakukan setelah klub Victoria (Inggris, Armeniaansche) didirikan dengan klub baru Sparta (Belanda). Pada tahun 1898 terjadi perselisihan, akibatnya klub ECA didirikan. Lawan utama ECA kini adalah THOR (yang didirikan tahun 1901). Lalu kemudian pada tahun 1902 klub HBS didirikan. Pada tahun 1907 Excelsior muncul. Soerabaiaschen Voetbal Bond dibentuk tahun 1909. Dalam kompetisi ECA mendapat saingan kuat Quick (De Indische courant, 26-10-1938).

Dalam hal sepakbola di Indonesia, pada fase awal orang-orang Inggris juga mengambil peran baik di Medan maupun di Surabaya. Di Batavia dan Bandung tidak terdeteksi adanya klub sepakbola orang-orang Inggris. Fase selanjutnya dalam perkembangan sepakbola adalah digelarnya kompetisi. Kompetisi pertama sepakbola diadakan pertama kali di Batavia, 1904 (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 18-07-1904), kemudian menyusul di Bandung (De Preanger-bode, 16-10-1905), kemudian di Medan tahun 1905 (lihat De Sumatra post, 02-12-1905), dan selanjutnya di Surabaya tahun 1909. Kompetisi dilaksanakan setelah lebih dahulu dibentuk bond (perserikatan). Dengan demikian, lahirnya perserikatan bersamaan dengan digelarnya kompetisi.

Lawatan Docter Djawa VC (yang adakalanya dipertukarkan dengan nama STOVIA VC, karena Docter Djawa School telah berubah menjadi STOVIA pada tahun 1902) ke Medan adalah setelah didirikannya Boedi Oetomo pada bulan Mei 1908 oleh Soetomo dan kawan-kawan (mahasiswa STOVIA). Kongres pertama diadakan pada bulan Oktober 1908 di Solo. Pendirian organisasi Boedi Oetomo (yang bersifat kedaerahan) ini direspon oleh mahasiswa yang berada di Belanda dengan mendirikan Indisch Vereeniging (yang bersifat nasional) yang dipelopori oleh Soetan Casajangan pada bulan Oktober 1908. Soetan Casajangan sendiri adalah seorang mantan guru (berumur 30 tahun) yang melanjutkan kuliah dan tiba di Belanda 1905 (mahasiswa pribumi kedua di Belanda). Surat kabar Telegraaf mewawancara Soetan Casajangan di Amsterdam yang dilansir Bataviaasch nieuwsblad, 02-07-1907 (hanya mengutip beberapa saja di sini).

    ‘…mengapa anda mengambil risiko jauh studi kesini meninggal kesenangan di kampungmu, calon koeria, yang seharusnya sudah pension jadi guru dan anda juga harus rela meninggalkan anak istri yang setia menunggumu…anda tahu untuk masyarakat saya, masih banyak yang perlu dilakukan, kami punya mimpi, kami diajarkan dengan baik oleh guru Ophuijsen….tapi kini masyarakat kami sudah mulai menurun dan melemah pada semua sendi kehidupan.. saya punya rencana pembangunan dan pengembangan lebih lanjut dari penduduk asli di Nederlandsch Indie (Hindia Belanda)..saya mengajak anak-anak muda untuk datang ke sini (Belanda) agar bisa belajar banyak..di kampong saya kehidupan pemuda statis, baik laki-laki dan perempuan..dari hari ke hari hanya bekerja di sawah (laki-laki) dan menumbuk padi (perempuan)…mereka menghibur diri dengan menari (juga tortor) yang diiringi dengan musik, simbal, klarinet, gitar dan ensambel gong…(dansten zij op de muziek van bekkens, klarinet, guitaar en gebarsten gong…)..anda tahu dalam Filosofi Batak kuno, kami yakin bahwa jiwa itu berada di kepala, dan karenanya kami harus tekun agar tetap intelek…’.

[Orang Indonesia pertama studi ke Belanda adalah Sati Nasution gelar Soetan Iskandar (Willem Iskander) pada tahun 1857. Willem Iskander setelah selesai studi dan mendapat beslit 1861, kembali ke tanah air dan membuka sekolah guru (kweekschool) di Tanobato pada tahun 1862. Sekolah guru asuhan Willem Iskander ini menghasilkan banyak guru dan tersebar di seluruh Tapanoeli. Pada tahun 1870, dari 10 sekolah yang dibangun pemerintah di Tapanoeli, delapan diantaranya berada di afd. Mandheling en Ankola. Pada tahun 1879 dibuka sekolah guru yang lebih besar di Padang Sidempuan untuk menggantikan sekolah guru di Tanobato. Hal ini sehubungan dengan pindahnya ibukota afd. Mandheling en Ankola dari Panjaboengan ke Padang Sidempuan. Alumni pertama termasuk diantaranya Saleh Harahap gelar (Mangara)Dja Endar Moeda. Pada tahun 1890 dari 18 sekolah di Tapanoeli, 15 diantaranya berada di afd. Mandheling en Ankola. Soetan Casajangan adalah alumni Kweekschool Padang Sidempuan tahun 1887].

Kunjungan STOVIA VC yang notabene adalah mahasiswa STOVIA boleh jadi merupakan faksi yang berbeda dengan Soetomo dan kawan-kawan. Keberangkatan Radjamin Nasution dan kawan-kawan ke Medan juga diduga ada yang mensponsori. Karena biaya perjalanan dan akomodasi tidaklah murah (apalagi buat mahasiswa), karena kenyataannya selama di Medan, pemondokan dan akomodasi ditanggung oleh tuan rumah (dan biaya perjalanan pp ditanggung oleh sponsor). Di Medan, STOVIA VC hanya melakukan pertandingan sekali saja yang dimenangkan STOVIA dengan skor 1-3 (lihat De Sumatra post, 17-04-1909). Akan tetapi tim sepakbola STOVIA ini terbilang cukup l;ama berada di Medan.

Siapa itu sponsor lawatan STOVIA VC ke Medan? Dia haruslah seorang yang kaya, berpikiran luas, memiliki pengaruh besar dan memiliki visi nasional dan berseberangan dengan pemerintah kolonial. Kandidatnya hanya satu: Dja Endar Moeda. Seorang mantan guru, pengarang roman dan buku pelajaran sekolah dan umum yang mendirikan sekolah swasta di Padang tahun 1905. Kemudian menjadi editor surat kabar Pertja Barat tahun 1897 (editor pribumi pertama), lalu mengakuisisi koran dan percetakan tersebut pada tahun 1900. Pada tahun ini (1900), Dja Endar Moeda mendirikan organisasi sosial (pertama) yang diberi nama Medan Perdamaian dan duduk sebagai direktur pertama (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 20-02-1900).

Pada tahun 1901-1903 mendirikan dua majalah/surat kabar lagi: di Padang dan di Sibolga. Pada tahun 1905 menerbitkan surat kabar berbahasa Belanda di Padang. Lalu tahun 1907 Dja Endar Moeda didakwa dengan pasal delik pers dan dihukum cambuk dan diusir dari Padang. Pada tahun 1907 mendirikan klub sepakbola dan kawan-kawan yang diberi nama Tapanoeli Voetbal Club. Pada tahun 1909 mendirikan surat kabar Pemberita Atjeh di Kota Radja. Selama di Padang dan Atjeh, Parada Harahap banyak memberikan bantuan hokum kepada penduduk setempat. Dja Endar Moeda  adalah kakak kelas Soetan Casajangan ketika bersekolah di sekolah guru (kweekschool) di Padang Sidempuan, Tapanoeli.Setahun kemudian (1910), Dja Endar Moeda mendirikan surat kabar Pewarta Deli di Medan, lalu dilanjutkan oleh Abdulah Lubis..

Motto koran Pertja Barat dan Pewarta Deli sama: Oentoek Kemadjoean Sagala Bangsa. Kelak hal serupa ini juga terjadi: surat kabar Indonesia Raya (di Batavia) dengan surat kabar Pikiran Rakyat (di Bandung). Kedua koran ini mottonya sama: Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat. Indonesia Raya didirikan oleh Mochtar Lubis dan Pikiran Rakyat didirikan oleh Sakti Alamsyah Siregar. Pada masa pendudukan Jepang trio Padang Sidempuan: Mochtar Lubis (kelahiran Sungai Penuh, Jambi) Sakti Alamsyah (kelahiran Deli) dan Adam Malik Batubara (kelahiran Pematang Siantar) sama-sama bekerja di radio militer Jepang. Adam Malik adalah pendiri kantor berita pribumi Antara (suksesi dari kantor berita pribumi pertama, Alpena yang didirikan oleh Parada Harahap). Bedanya adalah generasi pertama (Dja Endar Moeda, Parada Harahap dan Abdullah Lubis) sama-sama ‘gibol’, sedangkan generasi kedua (Adam Malik, Mochtar Lubis dan Sakti Alamsyah) sama-sama tidak menyukai sepakbola.

Itulah jawaban terhadap pertanyaan mengapa STOVIA VC jauh-jauh melakukan pertandingan pramusik ke Medan, ketika klub-klub orang Eropa/Belanda (ETI) di Batavia hanya berkunjung ke Bandoeng dan Semarang. Para gibol di Batavia sedikit tersenyum karena ada wakil bond Batavia berkunjung ke Medan. Sebab selama ini, pers Inggris di Penang dan Singapore kerap meledek sepakbola Belanda yang hanya tahu kekuatannya sendiri (di Jawa) tanpa pernah meladeni tantangan dari klub-klub di Medan. Tim Inggris di Penang dan Singapoera kerap melakukan muhibah ke Deli (bahkan sejak 1894, ketika pertandingan sepakbola pertama diadakan di Indonesia. Kunjungan STOVIA VC ke Medan ini disambut pers Belanda (mungkin ingin menyindir pers Inggris). Akan tetapi dibalik kunjungan klub pribumi asal Batavia itu ke Medan, pers Belanda tidak pernbah menyadarinya apa yang menjadi misinya dibalik kunjungan pramusim ini (hanya tertegun dengan keberanian anak-anak STOVIA yang masih belia berani mengarungi samudra ke Medan).

Radjamin Nasution, Pendiri Deli Voetbal Bond

Radjamin Nasution akhirnya lulus di STOVIA pada tahun 1912. Setelah lulus pendidikan kedokteran, anehnya Radjamin tidak ditempatkan pemerintah di dinas kesehatan melainkan akhirnya diposisikan menjadi pegawai pemerintah di bidang pabean. Ini bermula ketika bulan Juli 1912 untuk sementara Radjamin ditempatkan di kantor Bea dan Cukai di Batavia sebagai partikelir sambil menunggu penempatan. Namun di bulan November apa yang terjadi? Beslit Radjamin keluar, akan tetapi statusnya di kantor Bea dan Cukai di Batavia justru ditingkatkan menjadi pegawai magang (masa kini CPNS). Tugas utamanya adalah pengawas (opziener) untuk bidang pos, telegraf dan telepon.

Pada bulan November, 1913 Radjamin dipindahkan ke Pangkalan Buun (Kalimantan). Pada bulan Oktober 1914, Radjamin dipindahkan lagi ke Perbaungan (Sumatra Utara). Selanjutnya bulan Juni 1916 Radjamin dari Perbaungan dipindahkan ke Cilacap (Jawa Tengah). Pada bulan Januari 1917 dari Cilacap dipindahkan lagi ke Semarang. Pada bulan Desember 1917 pangkat Radjamin naik menjadi Kelas 4 sebagai Verifier dan ditempatkan kembali ke Batavia (tempat dimana Radjamin sebelumnya memulai karir).

Sejak 1908 organisasi social Medan Perdamaian (didirikan 1900) dan Indisch Vereeniging terus digembosi oleh pemerintah kolonial. Kini (1902) Medan Perdamaian dengan direktur Dja Endar Moeda yang sudah didirikan di berbagai kota, termasuk Batavia dan bahkan telah memberikan bantuan untuk pembangunan sekolah di Semarang (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 21-08-1902). sementara organisasi social Boedi Oetomo terus disokong pemerintah membuat gerah sejumlah mahasiswa. Program pembangunan makin timpang antara Jawa dan luar Jawa. Pada tahun 1917 di Belanda didirikan Sumatranen Bond sebagai respom didirikannya Jong Java di berbagai kota di Jawa. Sorip Tagor yang kuliah bidang veteriner (kedokteran hewan) di Utrecht mempelopori perserikatan Sumatra yang diberi nama Sumatra Sepakat yang secara resmi ‘diproklamirkan’ tanggal 1 Januari 1917. Dewan terdiri dari Sorip Tagor (sebagai ketua); Dahlan Abdoellah, sebagai sekretaris dan Soetan Goenoeng Moelia sebagai bendahara. (Salah satu) anggota (benama) Ibrahim Datoek Tan Malaka (yang kuliah di kampus Soetan Casajangan). Tujuan didirikan organisasi ini untuk meningkatkan tarap hidup penduduk di Sumatra. Sorip Tagor kelak lebih dikenal sebagai ompung Inez dan Risty Tagor.

Pendirian Sumatranen Bond ini direspon oleh mahasiswa-mahasiswa STOVIA yang berasal dari Sumatra di Batavia. Sumatra Bond yang disebut Jong Sumatra didirikan pada tanggal 8 Desember 1917. Asosiasi pemuda ini lahir dari suatu pemikiran bahwa intesitas (pembangunan) hanya berada di Jawa dan di Sumatra dan pulau-pulau lainnya terabaikan. Dengan kata lain pemikirannya sama dengan Sumatranen Bond yang berada di Belanda. Susunan pengurus Jong Sumatranen di Batavia ini adalah Tengkoe Mansoer sebagai ketua, Abdoel Moenir Nasoetion sebagai wakil ketua, Amir dan Anas sebagai sekretaris serta Marzoeki sebagai bendahara (lihat De Sumatra post, 17-01-1918).

Pada tahun ini (1917) nun jauh di pedalaman (perkebunan asing di Serdang) seorang anak muda belia baru melewati umur 17 tahun, bernama Parada Harahap mulai mengirim tulisan ke surat kabar Benih Mardika di Medan. Parada Harahap yang menjabat sebagai krani tidak tahan melihat penderitaan para koeli (asal Tiongkok dan asal Djawa) diperlakukan tidak adil dan disiksa dengan adanya aturan poenali sanctie. Akhirnya, Parada Harahap dipecat sebagai krani karena ketahuan sebagai orang yang memasok laporan ke surat kabar Benih Mardika (yang tahun 1918 koran tersebut dikenai pasal delik pers). Karena menganggur, Parada Harahap pulang kampong dan mendirikan surat kabar bernama Sinar Merdeka di Padang Sidempuan (terbit pertama 1 Januarti 1919).

Pada tahun ini (1919) di Batavia, didirikan Jong Batak. Pendirian organisasi anak-anak Tapanoeli ini sebagai solusi ketika terjadi resistensi dari sejumah individu beragama Islam dari anggota Sumatranen Bond terhadap kehadiran anak-anak Tapanoeli yang beragama Kristen. Pendiri jong baru ini yang diberi nama Bataksche Bond adalah Dr. Abdul Rasjid (alumni STOVIA). Abdul Rasjid adalah adik dari Abdul Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon (alumni Belanda yang kelak menjadi anggota Volksraad empat periode berturut-turut dari dapil Sumatra Timur).

Selanjutnya, sebelum dipindahkan ke Surabaya, Radjamin terlebih dahulu berdinas di Medan. Namun tidak lama kemudian, Radjamin dipindahkan lagi ke Sampit pada awal Januari 1921. Tidak lama kemudian Radjamin melakukan dinas kembali di Surabaya. Pada bulan Mei Radjamin dari Surabaya ke Belawan (Sumatra Utara) dan awal Januari 1922 ke Muara Sabak (Jambi) lalu kembali ke Medan (masih tahun 1922).

Ketika Radjamin Nasution di Surabaya (1921), kota Surabaya menajadi penyelenggara kejuaraan antar perserikatan (bond) se-Jawa. Penyelenggaraan ini merupakan yang kedua di Surabaya. Pada tahun 1916 Surabaya menjadi penyelenggara ynng kedua setelah yang perdana sebelumnya digelar di Semarang. Tentu saja Radjamin Nasution hadir menonton karena Radjamin Nasution adalah pemain sepakbola STOVIA VC di Batavia belasan tahun yang lalu. Boleh jadi Radjamin Nasution menjadi mendukung tim Batavia.

Ketika Radjamin Nasution mulai intens di Medan, pada tahun 1923 Parada Harahap hijrah ke Batavia. Radjamin Nasution dan Parada Harahap seakan tukar tempat. Sebagai catatan: Tahun 1918 di Medan pribumi terwakili di dewan kota (geneteeraad) dan yang terpilih dari wakil pribumi adalah Radja Goenoeng, seorang penilik sekolah di Medan, mantan guru di Tapanoeli (kakak kelas Sorip Tagor ketika sekolah dasar, ELS di Padang Sidempuan).

Selama di Medan, Radjamin aktif membina sepakbola. Koran De Sumatra Post terbitan 13-02-1923 memberitakan (lihat guntingan koran) Radjamin membentuk Asosiasi Sepakbola Deli (Deli Voetbal Bond). Setelah lama di Medan, akhirnya Radjamin dipindahkan kembali ke Batavia. Di Batavia, Parada Harahap mendirikan surat kabar Bintang Hindia (1923) dan pada tahun 1925 Parada Harahap mendirikan kantor berita Alpena (kantor berita pribumi pertama, dimana salah satu wartawannya yang merangkap editor, WR Supratman). Pada tahun 1925 Parada Haraap endirikan klub sepakbola Bataksch Voetbal Club (dan ikut kompetisi di bond BVC Batavia). Ketika, Radjamin Nasution bersiap-siap pindah, Abdul Hakim, kelahiran Sarolangoen Djambi, alumni dari Batavia ditempatkan sebagai pegawai baru di Bea dan Cukai Medan. Dalam tahun-tahun selanjutnya Abdul Hakim akan menggantikan posisi Radjamin Nasution (kepala bea dan cukai), menggantikan posisi Radja Goenoeng di dewan kota, dan pendiri klub sepakbola Sahata Voetbal Club (suksesi Tapanoeli VC) yang ikut berkompetisi di bond sepakbola DVD (yang didirikan Radjamin Nasution).

Pada tahun 1927, Parada Harahap dan Radjamin Nasution mempelopri untuk menyatukan semua organisasi-organisasi social. Setelah berdiskusi dengan Mangaradja Soangkoepon (anggota Volksraad), Parada Harahap menghubungi M. Husni Thamrin (anggota Volksraad dari dapil Batavia, rekan Mangaradja Soangkoepon. Di dalam pers Belanda kedua orang ini dikenal sebagai macan Pedjambon (kini dewan di Senayan). Lalu Parada Harahap, pemilik surat kabar Bintang Timoer mengundang semua perwakilan organisasi-organisasi untuk rapat umum di rumah Mr. Djajadiningrat pada tanggal 25 September 1927.

Djajadiningrat adalah sobat dari Soetan Casajangan di Belanda. Soetan Casajangan datang di Belanda tahun 1905 sedangkan Husein Djajadiningrat dari Banten datang pada tahun 1907. Soetan Casajangan mempelopori pendidirian organisasi mahasiswa dan diwujudkan dengan berdirinya Indische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia) yang disahkan pada tanggal 25 Oktober 1908 di rumah Soetan Casajangan di Leiden. Kini di tahun 1927 organisasi supra organisasi didirikan di rumah Husein Djajadiningrat di Batavia.

Beberapa tahun sebelumnya, ada dua lulusan STOVIA: Djabangoen lulus tahun 1925 dan Pirngadi lulus tahun 1923. Setelah berdinas di rumah sakit Batavia (kini rumah sakit Tjipto), Raden Pirngadi dipindahkan ke Medan pada tahun 1926, dan posisinya di Batavia digantikan oleh Maamoer Al Rasjid Nasoetion dari Padang Sidempuan. Sementara itu Djabangoen setelah dari Malang dipindahkan ke Banten 1929 (kampong halaman Pirngadi dan Husein Djajadiningrat). Pada tahun ini (1929), Pirngadi menjadi anggota (pengganti) dewan kota (bersama Abdoellah Loebis, pimpinan Pewarta Deli). Djabangoen kemudian dipindahkan ke Padang Sidempuan (kampong halamannya yang juga kampong halaman Soetan Casajangan). Setelah dari Kabanjahe, Djabangoen dipindahkan ke Medan pada tahun 1932 rumah sakit dimana Pirngadi telah bertugas sejak 1926. Kedua dokter ini kemudian menjadi dokter utama di rumah sakit tersebut hingga proklamasi kemerdekaan tiba (1945). Pada masa agresi militer keduanya bahu membahu dimana Djabangoen menjadi Ketua Front Medan. Setelah pengakuan kedaulatan rumah sakit itu diberi nama oleh Gubernur Sumatra Utara yang ketiga Abdul Hakim Harahap dengan nama rumah sakit Dr. Pirngadi (hingga sekarang). Dr. Pirngadi adalah saudara sepupu Prof. Husein Djajadiningrat (professor pertama Indonesia, sedangkan professor kedua adalah Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia). Dr. Djabangoen adalah sepupu dari Soetan Casajangan.

Keputusan rapat, dibentuk secara resmi supra organisasi yang disebut Permofakatan Persatoen Perhimpunan Kemasyarakat Indonesia (PPPKI). Dewan terdiri dari: Ketua: M. Husni Thamrin dan sekretaris Parada Harahap (pendiri surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempuan, 1919). Organisasi yang hadir dalam rapat itu antara lain: Pasundan, Kaum Betawi, Boedi Oetomo, Jong Ambon, Persatoean Minahasa dan lain-lain. Parada Harahap mewakili Sumatra (sekretaris Sumatranen Bond).

Namun sangat disayangkan Soetan Casajangan pendiri organisasi mahasiswa trans nasional (Indisch Vereeniging) di Belanda tahun 1908 tidak sempat lagi mendengar kabar gembira ini. Soetan Casajangan pada tanggal 2 April 1927 telah menghembuskan nafas terakhir, meninggal dunia. Jabatan terakhir Direktur Normaal School di Meester Cornelis (Jatinegara, Jakarta).

Inilah saatnya Boedi Oetomo kembali ke visi nasional dan spirit nasional dari Medan Perdamaian muncul kembali. Boleh jadi Mangaradja Soangkoepon (dan adiknya Dr. Abdul Rasjid anggota Volksraad dari dapil Tapanoeli) untuk melobi anggota Volksraad lain terutama dari dapil-dapil di Jawa, sedangkan Radjamin Nasution melobi Boedi Oetomo melalui Dr. Soetomo dan kawan-kawan. Radjamin Nasution dan Soetomo dari dulu ketika masih kuliah di STOVIA tetap berteman akrab. Parada Harahap adalah figur sentral dalam pembentukan trans nasional ini.

Anak-anak Padang Sidempuan sangat dikenal di STOVIA/Docter Djawa Sahool. Radjamin Nasution adalah generasi yang kesekian. Tidak hanya hubungan akrab Radjamin Nasution dengan Soetomo. Juga pada generasi sebelumnya, misalnya: antara Tjipto Mangoenkoesomo dengan dua anak Padang Sidempuan (Abdul Hakim dan Abdul Karim). Generasi sebelumnya antara Dr. Ahmad dengan Dr. Wahidin. Semua itu bermula ketika dua anak afd. Padang Sidempuan (sebelumnya bernama afd. Mandheling en Ankola) diterima di Docter Djawa School pada tahun 1854. Dua anak Padang Sidempuan ini merupakan siswa pertama yang diterima dari luar Jawa (Docter Djawa School sendiri didirikan tahun 1851, siswa Docter Djawa School/STOVIA hanya berkapasitas delapan sampai 10 orang setiap angkatan. Sejak 1854 hingga 1841 (hampir satu abad) anak-anak Padang Sidempuan selalu ada di Docter Djawa School/STOVIA.

Parada Harahap lalu menjadi sorotan pers Belanda. Rupanya statement-statement Parada Harahap membuat kuping para editor Belanda panas dan mulai menulis dengan tangan bergetar. Lawan utama Parada Harahap adalah Karel Wijbrand (editor Surabaija Handelsblad). Keduanya pernah berkarir di bidang pers di Medan: K. Wijbrand adalah mantan editor Sumatra Post di Medan (1901-1902) dan Parada Harahap mantan editor Benih Mardika juga terbit di Medan (1917-1918). Sama-sama ‘anak Medan’. Perang ini sebenarnya sudah dimulai sejak 1925 dimana Parada Harahap angkat pena dan menyerang balik Karel (karena sering memojokkan pribumi) dengan judul artikel ‘Kranten en Klanten’ yang dimuat di koran Java Bode yang terbit di Semarang pada edisi 07-09-1925. Sekarang, pada tahun 1927 setelah berhasil menyatukan semua pribumi K. Wijbrand berpolemik lagi sebagaimana dikutip Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 08-11-1927 (Wat Gisteren in de Krant stond!…): ‘diskusi tentang mayoritas Indonesia, bahwa Indonesia adalah warisan nenek moyang, sebagai protes keras Parada Harahap dari Bintang Timur. ‘Jika Indonesia warisan nenek moyang, KW cs menganggap sebagai pemberontakan. Jadi saya memahami komunikasi yang dilakukan oleh Pemerintah, bermain aman! Dan Anda? K.W’. (catatan: maksudnya Anda ditulisan KW adalah para pembaca orang-orang Eropa/Belanda). Ungkapan warisan nenek moyang sudah kerap digunakan Parada Harahap, bahkan ketika masih menjadi editor di Benih Mardeka di Medan dan Sinar Merdeka di Padang Sidempoean. Kini, jargon itu diulang oleh koran Parada Harahap di koran miliknya Bintang Timoer di Batavia dan juga diulang oleh kawan-kawannya di Medan dimana kembali Karel mengomentari artikel yang dimuat di Benih Timoer (mungkin yang menulis artikel itu adalah Parada Harahap, melihat nama korannya berasosiasi dengan nama Koran yang sudah dibraidel di Medan dulu ketika Parada Harahap sebagai editor. Serangkan KW ini dimuat pada surat kabar di Batavia, Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 03-01-1928 dengan judul ‘Wat Gisteren in de Krant stond!…’. Isinya secara ringkas sebagai berikut: ‘Artikel utama pada Benih Timoer, Medan, pada tanggal 15 Desember membahas lebih lanjut usulan tentang mayoritas penduduk pribumi, yaitu pertanyaan, apa yang harus terjadi jika tidak diterima oleh Statan General. Menurut editorial tersebut, Indonesia tidak duduk diam, tapi protes, dimana Regeering di belakang mereka. Dan sebagai wakil dari Opini publik memberikan opini editor itu lagi, bahwa Pemerintah di sini dan Belanda akan memahami karena suara rakyat adalah suara Tuhan. “Sekarang, yang terjadi adalah non-coperative! Tapi sepertinya yang satu jari tidak diberikan sekali dan untuk semua satu menangkap seluruh tangan. Benih Timoer ingin di semua dewan kota, mayoritas Indonesia. Pewarta Dcli mengatakan, 12 Des. ‘Ketika editor setelah kekuasaan di tangannya, mereka akan dengan Indonesia mencoba mereka yang mengatakan mereka sudah matang, dan Belanda harus menonton. Dia menyebut Lubis, Samin, Soekirman; Tjokroaminoto, Salim, Ibrahim Lubis, Mohamad Joenoes di daerah dan Parada Harahap di pusat’ KW. (catatan: Lubis dalam kutipan KW itu adalah Abdulah Lubis, editor Pewarta Deli).

Parada Harahap tampaknya tidak meladeni KW lagi (sejauh yang dapat ditelusuri). Parada Harahap sudah terlalu sibuk dengan urusan internal oraganisasi senior dan organisasi pemuda. Setelah berhasil menyatukan semua organisasi social, Parada Harahap memerlukan dukungan para pemuda (khususnya dari kalangan mahasiswa. Oleh karenanya itu pemuda diinisiasi untuk bersatu (sebagaimana para senior sudah beres) dengan menyelenggarakan Kongres Pemuda tahun 1928. Boleh jadi Parada Harahap memanggil dua mahasiswa: Soegondo dan Amir Sjarifoedin. Dua pemuda ini boleh jadi sudah dikenal Parada Harahap bagaimana gerak-geriknya. Soegondo adalah mahasiswa STOVIA (kedokteran) dan Amir Sharifoedin mahasiswa Rechtschool (hokum). Pada akhirnya panitia kongres diketuai oleh Soegondo dan bendahara adalah Amir Sjarifoedin. Kebetulan kedua pemuda ini adalah anak (kelahiran) Medan, kota dimana Parada Harahap tahun 1918 membongkar kasus penyiksaan koeli perkebunan. Sebagai pelindung kongres pemuda adalah PPPKI dimana Parada Harahap sebagai sekretaris). Parada Harahap mengiklankan lomba untuk membuat lagu kebangsaan (Indonesia Raya). Setelah seleksai hanya dua kandidat utama: Nahum Situmorang dan WR Supratman. Mungkin sulit bagi Parada Harahap menentukan siapa yang pemenang: Nahum adalah adik sekampung (kampong mereka berdua hanya berjarak 12 Km), sedangkan Supratman adalah mantan anak buah Parada Harahap di kantor berita Alpena. Parada Harahap terbilang sangat dekat dengan WR Supratman (selama fase awal di Batavia WR Supratman tinggal di rumah Parada Harahap). Lagu Indonesia Raya ciptaan WR Supratman inilah yang diperdengarkan di arena Kongres Pemuda 1928. Lantas dimana Soekarno dan Hatta. Jawabnya awalnya begini: kedua orang ini sudah lama ‘diincar’ oleh Parada Harahap bahkan sejak mahasiswa. Soekarno kuliah di Technichsch School di Bandung sudah lulus dan kerap menulis,sedangkan M. Hatta di Belanda masih kuliah dan memiliki bakat revolusioner (sementara Amir baru masuk kuliah, sudah di tangan, kira-kira begitu). Dalam kongres pemuda ini Amir menjadi bendahara, pemegang kas untuk berbagai keperluan dan mengumpulkan dana dari donator. Kemungkinan besar donator utama adalah Parada Harahap, ketua Kadin pribumi di Batavia.

Beberapa bulan sebelum kongres, Parada Harahap memperluas cakupan medianya. Parada Harahap menginginkan gerakan Indonesia ini juga tersebar di daerah, khususnya di Jawa (di Medan sudah siap sebagaimana serangan yang dilakukan oleh KW). De Indische courant, 13-09-1928: ‘De Indische courant, 13-09-1928: ‘Koran Melayu. Oleh NV Percetakan Bintang Hindia, Mr Parada Harahap direktur dan pemimpin redaksi dari Batavia mengeluarkan surat kabar Melayu Bintang Timoer, untuk Jawa Tengah di Semarang dan Jawa Timur di Surabaya sebagai edisi daerah. Mr Parada Harahap telah melakukan pertemuan lokal dalam rangka tujuan konferensi PPPKI. Selama perjalanan dan tinggal dengan tokoh terkemuka di daerah sangat antusias. Bintang Timoer sudah datang di sebuah iklan untuk kebutuhan yang staf diminta untuk kedua edisi tersebut’ (catatan Konferensi PPPKI dan Kongres Pemuda waktunya dibuat berdekatan).  

Radjamin Nasution selama pembentukan PPPKI dan Kongres Pemuda sudah berada di Batavia. Kedekatan Parada Harahap dan Radjamin Nasution adalah faktor penting. Parada Harahap selain orangnya revolusioner (tidak pernah jera dengan meja hijau dan penjara), juga terbilang orang kaya baru di Batavia. Parada Harahap adalah editorial handal yang mendapat apresiasi dari pers asing: Parada Harahap adalah wartawan terbaik pribumi. Teman-teman sekampungnya juga banyak yang menjadi tokoh penting di Batavia dan sekitarnya (Parada Harahap bukan lone ranger).

Di Batavia ada senior Sutan Casajangan (pendiri Indisch Vereeniging, 1908, mahasiswa kedua yang kuliah di Belanda) yang kini menjadi Direktur Normaal School di Mesteer Corneelis. Ada Radja Enda Boemi sebagai ketua pengadilan di Buitenzorg, ahli hukum pertama orang Batak yang kedua di Sumatra (yang pertama Lampung). Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi adalah orang ketiga Indonesia yang meraih gelar doktor (PhD) tahun 1925 di Leiden dengan desertasi berjudul: ‘Het grondenrecht in de Bataklanden: Tapanoeli, Simeloengoen en het Karoland’. Di Belanda, cucu dari Dja Endar Moeda (pendiri organisasi sosial pertama) bernama Ida Loemongga tengah mengikuti program doktoral bidang kedokteran (dan lulus tahun 1931) dan Soetan Goenoeng Moelia (sepupu Amir Sjarifoedin), seorang guru di Batavia, lulusan Belanda yang tengah bersiap-siap berangkat untuk studi doctoral bidang filsafat di Belanda (lulus tahun 1933). Radja Enda Boemi, Ida Loemongga dan Soetan Goenoeng Moelia adalah tiga dari tujuh orang pertama Indonesia bergelar doktor (PhD). Di Pedjambon (sebagai anggota dewan) ada dua orang: Mangaradja Soangkoepon (dari dapil Sumatra Timur) dan Dr. Alimoesa (dari dapil Tapanoeli). Alimoesa adalah pemain sepakbola Siantar Voetbal Club, alumni sekolah kedokteran hewan di Buitenzorg (adik kelas Sorip Tagor yang kini menjadi Kepala Dinas Sipil Veeartsenjjkundigen di Weltevreden, Batavia). Di level mahasiswa terdapat cukup banyak di STOVIA, Rechtschool, Technichsc School, Veeartsen School di level SMA antara lain Lanbowschool, Handelschool dan lainnya.

Pada saat Kongres Pemuda 1928, M. Hatta tidak bisa hadir dan delegasi PPI Belanda (suksesi Indisch Vereeniging) diwakili oleh Ali Sastroamidjojo. Soekarno hadir dari Bandung. Selanjutnya, pada persiapan Kongres Pemuda 1928, di Surabaya dilakukan pertemuan Pemuda Indonesia chapter Surabaya. Anehnya, yang hadir hanya Sumatranen Bond, Chung Shioh dan Jong Islamieten Bond. Sementara Jong Java sendiri tidak hadir, juga tanpa mengirim perwakilan. Ada apa?

De Indische courant, 06-03-1928 (Bertemu orang-orang Pemoeda lndonesia): ‘Inisiatif dari persatuan pelajar di bawah Pamoeda Indonesia, afdeeling Surabaya, Minggu, 4 ini, di gedung Studieclub yang secara bersama dengan semua organisasi kepemudaan yang berbasis perkotaan (di Surabaya). Hadir perwakilan dari Sumatranen.Bond, Chung Shioh dan en Jong-Islamieten Bond Jong Java tidak mengirimkan wakilnya. Tujuan dari pertemuan ini untuk membahas pembentukan badan pusat yang akan bertanggung jawab di sini dari semua serikat pemuda dan menjadi lebih dekat bersama-sama. Seharusnya semua organisasi kepemudaan harus terwakili. Dalam pertemuan ini dibahas, selain isu-isu sosial juga mengagendakan kegiatan latihan fisik, seperti sepakbola, atletik dll. Wapres (vice-voorzitter) yang datang dari pusat berpidato rinci pada subjek Badan Central (centraal lichaam) dan langkah-langkah menentukan ke depan dengan lebih dahulu terjadi pembahasan berbagai isu dan masalah pada masing-masing chapter (afdeeling). Pembentukan badan ini akan dibuat dalam bentuk permanen. Diputuskan untuk kembali bersama-sama bertemu pada tanggal 1 April (bulan depan)’.

Ini mengingatkan bahwa pada awal pembentukan PPPKI (pelindung panitia Kongres Pemuda 1928) Radjamin Nasution melobi Dr. Soetomo dan cukup berhasil, namun ternyata pada level pemuda seperti yang terjadi di Surabaya, responnya tampak lambat atau kurang bersemangat?. Tidak diketahui dengan jelas mengapa Jong Java di Surabaya tidak hadir dalam pertemuan yang penting ini. Sementara di Den Haag, Belanda, pada tangga 4 Mei 1929 Perhimpunan Indonesia telah melakukan fusi dengan Liga Kolonial Internasional dan memutuskan untuk kerjasama dan akan melakukan reorganisasi Liga seksi (chapter) Belanda (lihat De Sumatra post, 06-05-1929). Ini menunjukkan bahwa pemuda bersatu di Indonesia (pasca Konres Pemuda) juga diikuti pemuda Indonesia (pasca Kongres Pemuda) di Belanda bersatu dengan para pemuda yang berasal dari daerah jajahan di dunia.

Radjamin Nasution Terpilih Menjadi Anggota Dewan Kota (gementeeraad) di Surabaya

Pada bulan September 1929, Radjamin dipindahkan kembali ke Surabaya (pos yang pernah ditempatinya, 1921). Tidak lama setelah kembali berdinas di Surabaya, awal November, Radjiman dan kawan-kawan mendirikan Sarikat Pekerja Bea dan Cukai (PBI). Pertanyaannya: Mengapa Radjamin Nasution tidak mendahulukan tugas politiknya untuk membina pemuda di Surabaya, melainkan lebih fokus pada buruh-buruh pelabuhan di Tandjong Perak. Ada apa? Dalam kepengurusan Sarikat Buruh di pelabuhan ini, Radjamin duduk sebagai bendahara, sedangkan ketua dan sekretaris adalah HWA. Waleson dan JK Lengkong.

Pembentukan organisasi buruh pelabuhan ini di Surabaya adalah sangat strategis bagi Radjamin Nasution: di satu pihak ada eksploitasi. Pada tahun 1917 Parada Harahap membongkar kasus poenalie sanctie, penyiksaan koeli (asal Tiongkok dan Djawa) di perkebunan Deli lalu mempelopori dibentuknya organisasi buruh perkebunan. Kini (1929), giliran Radjamin Nasution melakukan kebajikan yang sama di Surabaya sebagaimana yang pernah dilakukan oleh sobatnya Parada Harahap di Deli. Agenda pembentukan sarikat buruh ini tampaknya dibawa Radjamin Nasution dari Batavia (pasca pembentukan PPPKI dan Kongres Pemuda). Sebab sebelumnya Radjamin Nasution pernah bertugas di Surabaya. Dengan kata lain, sebelum Radjamin Nasution bertugas (kembali) di Surabaya sudah tahu apa yang selama ini terjadi di pelabuhan Tandjong Perak dan datang dari Batavia (pasca Kongres Pemuda) dengan membawa misi baru, yakni perlunya pembentukan PBI. Organisasi buruh adalah alat perjuangan bangsa. Radjamin Nasution tidak melihat di lapangan sepakbola ada yang berindikasi eksploitasi, jadi tidak perlu dijamah. Mungkin di dalam pikiran Radjamin Nasution urusan sepakbola tidak menjadi prioritas.

Radjamin juga menjadi pembina klub sepakbola Douane yang berkompetisi di SKVB Surabaya. Sementara itu di Djogjakarta dilangsungkan pertandingan sepakbola yang mempertemukan tim-tim (pribumi) dari empat kota: Surabaya, Djogjakarta, Solo dan Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 24-04-1930). Yang menjadi juara adalah Batavia setelah mengalahkan Surabaya di final dengan skor 4-2. Lantas setelah semua pertandingan usai dilakukan pertemuan antar dewan dari keempat perserikatan. Keputusan rapat: akan digelar pertandingan final kota-kota; dibentuk badan bernama ‘Persatoean Sepak Raga Seloeroe Indonesia’ dengan Djogja sebagai pusat pemerintahan. Sebagai presiden ditunjuk Ir. Soeratin, sebagai sekretaris, Mr Amir dan bendahara Mr. Abdul Hamid. Pada tahun 1931, pertandingan akan dimainkan di Solo.

Siapa itu Ir. Soeratin? Dia tidak memiliki riwayat sepakbola. Raden Soeratin memulai pendidikan di Koningen Wilhelmina School (KWS) di Batavia, sekelas dengan Panoesoenan Nasution, Iskander Nasution, I. Harahap, Regen Siregar, Barioen Nasution (lihatHet nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 29-04-1914). Sekolah elit Eropa/Belanda (ETI) enam tahun ini (SMP/SMA), siswa-siswa yang diterima adalah lulusan ELS, selain anak-anak ETI juga terdapat beberapa Tionghoa dan pribumi. Setelah lulus tahun 1920 mereka umumnya melanjutkan studi ke perguruan tinggi (di dalam atau luar negeri). Rd. Soeratin berangkat ke luar negeri dengan kapal Prins der Nederlanden, 26 Augustus van Batavia menuju Amsterdam (lihat Provinciale Geldersche en Nijmeegsche courant, 10-09-1920). Pada tahun 1922 Midd. Techn. School di Utrecht (Het Centrum, 24-07-1922). Lalu kemudian mekanjutkan studi dan Raden Soeratin lulus mendapat gelar insinyur tahun 1926 dari Idenburg, Duinschland (lihat Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, 01-06-1926).

Soeratin segera pulang ke tanah air. Pada bulan November, Ir. Soeratin menjadi guru HIS Muhammadyah di Tegal (De Indische courant, 09-11-1926). Soeratin diangkat menjadi ingenieur voor de Tegalsche assaineering di firma Sitzen en Louzada di Tegal. Pada tahun 1927 Soeratin ikut dalam pertemuan yang yang dilakukan Studieclubs di Bandung (amggotanya antara lain Soekarno) yang digelar di tempat Komite Persatoean Indonesia (Bataviaasch nieuwsblad, 29-03-1927). Klub Studi ini terbentuk sebagai respon para sarjana baru dari ide Parada Harahap untuk menyatukan semua organisasi yang dikenal sebagai PPPKI di Batavia. PPPKI yang menginisiasi Kongres Pemuda 1928, para pentolah Klub Studi Bandung ini hadir dan ikut berpidato. Soeratin masih tetap bekerja dengan firma di Tegal (De Indische courant, 28-04-1928). Soeratin mendirikan klub tennis di Tegal (anggota umumnya orang ETI) dimana bagian halaman rumahnya srndiri dijadikan lapangan tennis (Bataviaasch nieuwsblad, 10-01-1929). Tugas-tugas Soeratin sebagai pelaksana kantor arsitektur Sitsen en Louzada dianggap selesai di Tegal oleh pemerintah kota (Soerabaijasch handelsblad, 09-07-1929).

Pada tahun 1923 cucu Dja Endar Moeda (pendiri klub sepakbola Tapanoeli VC di Medan) bernama Ida Loemongga lulus dari sekolah elit ETI di Prins Hendrik School, afdeeling HBS (pendidikan menengah) di Batavia dan setelah lulus langsung melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda. Ida Loemongga Nasoetion adalah seorang brilian dan pemberani. Ketika baru berusia 18 tahun, gadis yang cantik ini berangkat sendiri dan mendaftar di Universiteit Leiden. Setelah lulus sarjana, anak seorang dokter ini, lalu mengambil dokter spesialis di Universiteit Utrecht. Setelah lulus dan beberapa tahun menjadi asisten Dr. Caroline de Lange, Ida Loemongga memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Bataviaasch nieuwsblad, 20-01-1931 memberitakan bahwa Nona Haroen Al Rasjid yang dalam hal ini Mej. I.L. Haroen Al Rasjid yang menandai dari sisi adat sebagai perempuan pribumi pertama yang meraih doctor di bidang kedokteran. Setelah meraih gelar PhD tahun 1932 gadis yang sudah matang ini baru berkesempatan pulang kampong ke tanah air untuk mengunjungi keluarganya. Ida Loemongga adalah orang Indonesia kelima yang bergelar doktor (PhD) dan satu-satunya perempuan Indonesia yang bergelar doktor hingga kemerdekaan RI. Ida Loemongga telah mengikuti seniornya Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi yang meraih PhD tahun 1925 di Leiden.

Besar kemungkinan setelah selesai tugas Soeratin di Tegal pada pertengahan tahun 1929 pulang ke Djogja (kampong halamannya). Sebagaimana dilaporkan Bataviaasch nieuwsblad, 24-04-1930 bahwa di Djogja dibentuk Persatoean Sepak Raga Seloeroe Indonesia’ dan Djogja sebagai pusat pemerintahannya dimana sebagai presiden ditunjuk Ir. Soeratin. Dari jajaran pengurus PSSI ini (Soeratin, Amir dan Abdul Hamid) hanya Abdul Hamid yang terdeteksi sebagai pelaku sepakbola (di Batavia?). Boleh jadi Abdul Hamid adalah pelaku utama pembentukan PSSI ini sedangkan Soeratin tidak berlatar sepakbola dan bahkan pendiri klub tenis di Tegal. Dengan kata lain, Soeratin ujug-ujug muncul di dunia sepakbola (mungkin saat menganggur dari dunia pekerjaan).

Ini berbeda dengan Parada Harahap dan Radjamin Nasution yang memang sejak dari muda adalah gibol dan intens bermain sepakbola. Radjamin Nasution adalah pemain sepakbola STOVIA VC (sekitra 1909), pendiri Deli Voetbal Bond tahun 1923 dan kini menjadi pembina sepakbola di Surabaya dan pada tanggal 10-03-1931 terpilih sebagai anggota pribumi dewan kota (gementee) Surabaya. Sedangkan Parada Harahap pemain sepakbola di Medan, pendiri klub sepakbola Bataksch Voetbal Club di Batavia tahun 1925 dan kini menjadi sekretaris PPPKI (dimana ketua adalah M. Husni Thamrin). Singkat cerita: Parada adalah pelopor pembentukan PPPKI (organisasi ‘politik’ supra nasional) dan Abdul Hamid pelopor pembentukan PSSI (di Jawa saja). Pada tahun ini (1930) PPPKI (yang dimotori oleh Parada Harahap) akan melaksanakan Kongres Indonesia Raya (lihat Soerabaijasch handelsblad, 03-11-1930). Suatu kongres yang mencakup semua elemen bangsa (termasuk PSSI toh).

Pembentukan PSSI ini sebenarnya biasa-biasa saja (tidak ada yang heroic seperti yang ditulis dalam situs PSSI). Hal ini juga yang dilakukan oleh empat tim perserikatan (Batavia, Semarang, Surabaya dan Bandung) di Semarang tahun 1914. Setelah pertandingan kemudian dibentuk NIVB. Ini juga yang terjadi di Djogjakarta. Setelah persiapan turnamen dari empat kota dilangsungkan pertandingan di Djogjakarta dan baru setelah usai pertandingan nama ‘Persatoean Sepak Raga Seloeroe Indonesia’ muncul yang disingkat PSSI. Pemisahan kompetisi di dalam perserikatan kota sudah jauh sebelumnya terjadi, seperti di Batavia (1918) oleh Iskandar Brata dan di Medan (1923) oleh Radjamin Nasution. Meski begitu, NIVB masih memandang bond pribumi dan bond ETI berada dibawah satu payung yang kemudian disebut NIVB. Oleh karena di supra organisasi (NIVB) terjadi pemisahan dengan dibentuknya PSSI, maka NIVB mengeluarkan maklumat kepada klub-klub yang berafiliasi dengan PSSI dilarang para pemain atau tim (klub) bertanding dengan tim (klub) dibawah payung PSSI.

Di Surabaya, Radjamin Nasution kalem saja dengan reaksi NIVB ini, karena hal ini wajar saja karena supra organisasi sudah menjadi dua. Aturan apa yang diinginkan oleh NIVB dianggap Radjamin Nasution sah-sah saja. Radjamin Nasution sendiri sudah pernah mengalami ini di Medan dimana OSVB tahun 1923 bereaksi terhadap organisasi sepakbola (pribumi) yang dibentuk Radjamin Nasution dengan nama DVB (Deli Voetbal Bond). Yang menjadi soal adalah bahwa dalam penulisan sejarah PSSI (sebagaimana terdapat dalam situs PSSI) seakan-akan PSSI lahir berdarah-darah. Padahal dinamika sepakbola saat itu biasa-biasa saja, sementara perjuangan Radjamin Nasution lebih melihat persoalan buruh di pelabuhan sebagai hal yang perlu diperjuangkan (karena ada eksploitasi terhadap buruh yang berasal dari penduduk pribumi). NIVB yang melakukan sidang tahunan pada bulan Agustus 1930 tidak terlalu bereaksi, biasa-biasa saja. Dalam keputusan rapat no. 7: hanya dinyatakan sebagai berikut: ‘Pembentukan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI), yang terletak di Yogya dikenakan iuran’ (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 26-08-1930). Ini artinya bahwa NIVB welcome-welcome saja. Soal iuran juga telah lama diterapkan di bond yang berbeda di setiap kota. Seperti di Batavia, VBO ikut mendorong dewan kota agar pemerintah kota menyediakan stadion untuk VIJ (di Petodjo).

Dalam rapat tahunan pada Oktober 1930 komposisi pengurus Sarikat Pekerja PBI berubah dimana ketua dan sekretaris berganti tempat, sedangkan Radjamin Nasution tetap sebagai bendahara. Pembentukan sarikat buruh pelabuhan ini mirip-mirip yang dilakukan oleh Parada Harahap yang melaporkan penyiksaan terhadap koeli (asal Tiongkok dan Djawa) di perkebunan di Deli (1917) dan Parada Harahap didaulat menjadi ketua sarikat buruh perkebunan (1918). Buruh-buruh pelabuhan dikuasai oleh maskapai-maskapai pelayaran (sebagaimana halnya koeli dikuasai oleh maskapai-maskapai perkebunan).

Di Batavia, Parada Harahap terus menggalang kekuatan moral bangsa. Setelah memperluas cakupan medianya (Bintang Timoer) di Jawa Tengah dan Jawa Timur, maka medium perjuangan Parada Harahap untuk seluruh Jawa sudah tersedia. Untuk West Java yang (masih beribukota Batavia) diperankan oleh Bintang Timur sendiri dari Gang Krekot. Hebatnya, koran Bintang Timoer, koran untuk seluruh Jawa ini juga telah memiliki suplemen berbahasa Belanda. Untuk mengoptimalkan agar dapat dibaca oleh orang-orang asing, Parada Harahap mendirikan koran baru berbahasa Belanda. Motifnya boleh jadi bukan untuk komersial, tetapi untuk tujuan memperluas pembaca terutama orang-orang Eropa untuk mengetahui apa yang tengah diperjuangkan rakyat pribumi. Parada Harahap tidak pernah berjuang sembunyi-sembunyi, selalu berjuang secara terbuka. Kepemilikan media berbahasa Belanda ini adalah alat perjuangan agar orang asing cepat mengetahui aspirasi rakyat dan kekejaman yang dilakukan oleh pemjerintahan colonial.

De Indische courant, 25-09-1930: ‘Volkscourant di Batavia, seperti yang kita baca di AID dijual kepada Mr. Parada Harahap. Sehubungan dengan ini maka Java Express (edisi Belanda Bintang Timoer) berhenti beroperasi. Volkscourant sekarang berpindah ke Krekot. Aneta, 25 September melaporkan bahwa kemitraan baru Volkscourant di Weltevreden akan terbit 1 Oktober dalam format yang lebih besar’. [Volkscourant adalah nama baru dari De Courant yang sebelumnya kepala redakturnya adalah A. Weeber].

Pribumi yang memiliki surat kabar berbahasa Belanda sejauh ini yang terdeteksi baru dua: Selain Parada Harahap yang sekarang adalah Dja Endar Moeda yang pernah menerbitkan surat kabar Sumatra Niewsblad tahun 1905 untuk mendampingi korannya berbahasa Melayu, Pertja Barat di Padang. Koran itu dibreidel dengan alasan pasal delik pers, tetapi kemudian diterbitkan kembali di Medan.

Di Surabaya, sebagaimana diberitakan koran-koran setempat, bahwa salah satu anggota Dewan Kota yang berasal dari penduduk pribumi, bernama Koesmadi telah berakhir masa jabatan untuk periode pertama. Untuk menjadi anggota dewan kota berikutnya Koesmasi harus mengikuti pemilihan umum (semacam pilkada). Diberitakan di koran-koran Surabaya, Koesmadi ternyata mencalonkan diri kembali.

Di Medan, seorang ‘gibol’ kelahiran Sarolangoen, Djambi, alumni sekolah di Batavia yang menguasai tiga bahasa asing (Belanda, Inggris dan Prancis) dan menggantikan posisi Radjamin Nasution sebagai kepala bea cukai di Medan (1927), menjadi anggota dewan kota Medan sejak 1930. Sebagaimana di Surabaya, Radjamin Nasution menggantikan Koesmadi, di Medan Abdul Hakim menggantikan Radja Goenoeng (yang sudah habis masa tiga periode). Ayah Abdul Hakim sekampung dengan Radja Goenoeng di Padang Sidempuan.

Nama Radjamin Nasution muncul ke permukaan untuk bersaing dengan Koesmadi. Pada hari terakhir pencalonan ternyata hanya dua orang kandidat yakni Koesmadi dan Radjamin—keduanya terbilang sebagai bangsawan, yang satu dari Jawa Timur, dan satu lagi dari Tapanuli.

Pada keesokan harinya, tanggal 25-02-1931 kedua calon datang ke kantor panitera kota untuk pengesahan calon. Namun anehnya, hari berikutnya, Koesmadi mengundurkan diri sebagai calon dan merekomendasikan dengan tulus dan hangat kepada Radjamin. Koesmadi beralasan bahwa, Radjamin, selain anggota PBI juga adalah tokoh Sumatra yang kuat dan terkemuka di Surabaya dan yakin Radjamin akan lebih mampu untuk meningkatkan aspirasi rakyat di Dewan Kota.

Meski Koesmadi mengundurkan diri, dan hanya tinggal satu kandidat, pemilihan tetap dilakukan. Pada tanggal 10-03-1931 diperoleh kabar bahwa Radjamin menang mutlak dengan jumlah perolehan suara sebanyak 62 (suara perwakilan penduduk Surabaya). Pada tanggal 7-04-1931 Dewan melakukan sidang, dimana sidang ini merupakan sidang pertama yang diikuti oleh Radjamin. Koesmadi tidak salah. Dalam rapat dewan itu, Radjamin langsung melakukan gebrakan yang membuat anggota dewan lainnya yang hampir semuanya orang Belanda ternganga. Radjamin mengusulkan empat proposal—proposal yang harus diperjuangkan oleh Radjamin untuk memenuhi aspirasi rakyat.

Dalam sidang Dewan berikutnya, tanggal 28-05-1931 Walikota Bussemaker berbicara di hadapan anggota Dewan. Dalam sidang ini dihadiri oleh 26 anggota dewan, termasuk Radjamin yang baru sembuh dari sakit. Radjamin dalam hal ini mencecar sejumlah pertanyaan kepada walikota, terutama masalah pertanahan, air bersih dan perumahan penduduk (bagian dari proposal Radjamin). Walikota tampaknya hari-hari ke depan akan menghadapi seorang pribumi yang cerdas, berani dan berpengalaman dalam birokrasi pemerintah. Kelak Radjamin Nasution menjadi walikota Surabaya tiga era: Jepang, Belanda (agresi militer) dan RI.

Di Batavia, Parada Harahap dipanggil ke meja hijau untuk yang ke seratus kali. Masalahnya cukup sepele, tetapi pembelaan Parada Harahap sangat cerdas. Dari seratus kali dimejahijaukan (sejak dari Medan dan Padang Sidempuan dan kini di Batavia) hanya belasan kali masuk penjara, selebihnya lolos dan hanya dihukum denda. Ini menunjukkan Parada Harahap sudah piawai di pengadilan. Dari belasan kali masuk penjara itu, hampir semuanya terjadi di Padang Sidempuan ketika menangani surat kabar Sinar Merdeka (1919-1922). Sejak membongkar kasus penyiksaan koeli perkebunan di Deli (1917) Parada Harahap setiap saat diincar oleh pemerintah colonial. Selama di Jakarta sudah sangat banyak dimejahijaukan tetapi belum pernah masuk bui (Parada Harahap tampaknya sudah seakan praktisi hukum). Hasil meja hijau yang terakhir ini justru hanya diliput koran De Sumatra Post yang terbit di Medan (untuk kebutuhan pembaca di Medan).

De Sumatra post, 06-01-1931: ‘Mr Parada Harahap berdiri untuk keseratus kalinya di meja hijau. Kali ini Parada Harahap dipanggil ke pengadilan karena korannya memuat iklan tagihan hutang. Si penagih hutang digugat karena dianggap mencemarkan nama dan juga editor Bintang Timoer, Parada Harahap juga diseret. Ketika dituduhkan Parada Harahap ikut bertanggungjawab karena iklan itu menjadi pendapatannya. Parada menjawab: Bagaimana saya bertanggungjawab?. Polisi mencecar: ‘Anda kan direktur editor?’ Ya, tapi saya hanya bertanggung jawab untuk bagian jurnalistik, jawab Parada Harahap (enteng). Bagian administrasi bertanggungjawab untuk iklan. ‘Ah, kata Sheriff, ‘tanya sekarang, setuju bahwa di koran Anda muncul iklan cabul, apakah Anda akan mengatakan tidak bertanggung jawab?. Oh, kalau soal itu tanggungjawab saya’.

Jelas bahwa Parada Harahap tidak mudah dijerat. Sudah kaya pengalaman sebagaimana diakui oleh surat kabar di Surabaya. Soerabaijasch handelsblad, 03-01-1931: ‘Kami selalu melihat dia sebagai orang-ton putaran. Mungkin dia memiliki gagasan bahwa ia, seperti lingkaran memiliki jumlah tak terbatas sisi. Direkturnya, yang giat Parada Harahap, yang populer disebut Batavia Paradepap yang memiliki banyak delik pers sebagai pemimpin Bintang Timoer’.

Jika di pengadilan dan di penjara Parada Harahap tidak pernah menangis, tapi kali ini Parada Harahap benar-benar menangis. Apa pasal? Dua anak muda yang selama ini digadang-gadangnya, Soekarno dan Hatta, fotonya diturunkan oleh orang tidak dikenal di kantor PPPKI di Gang Kenari. Sebagaimana dilaporkan oleh De Indsche courant, 27-11-1931 bahwa foto yang telah dipajang bertahun-tahun, diambil dan dan disembunyikan di bawah. Melihat kenyataan ini wartawan Parada Harahap di korannya menulis dalam ‘Surat Terbuka’ telah menginformasikan bahwa, saat melihat tempat pajangan telah kosong, air mata menangis dan pelaku diduga telah melakukan tindakan kejahatan keji ini akan dicari. Dan sekarang bahkan potret Hatta telah berdebu di bawah meja (demikian De Indsche courant, 27-11-1931 mengakhirinya). Sebagaimana diketahui kantor di gang Kenari itu adalah kantor Parada Harahap dalam urusan politik, sebagai sekretaris PPPKI. Parada Harahap yang memasang foto-foto itu yang merupakan dua tokoh muda yang digadang-gadang Parada Harahap sejak lama.

Radjamin Nasution Membina Sepakbola Pribumi di Surabaya

Radjamin Nasution, nasionalis yang sudah berdinas di Jawa, Sumatra dan Kalimantan tentu saja paham betul arti keberagaman, tetapi sangat peduli terhadap pembangunan pribumi. Radjamin telah mengusulkan empat proposal: sanitasi, perumahan penduduk, kemiskinan dan kesehatan masyarakat.

Pada saat Radjamin Nasution tiba di Surabaya, dunia sepakbola terbagi dua: pada level kota, terdapat paling tidak tiga bond (perserikatan) sepakbola. SVB, SIVB dan SKVB (Soerabaiaschen Kantoor Voetbal Bond). Perserikatan kantor ini tampaknya hanya ada di Surabaya dan Batavia. Sedangkan pada level nasional (ada NIVB dan PSSI belum ada). Pada tahun 1930 sebagaimana dikutip De Indische courant, 28-03-1930 bahwa pada organisasi SVB dan SKVB dimana para pemain dari klub atau tim kombinasi dilarang bertanding dengan klub-klub yang berada dibawah Inlandschen Voetbalbond yang dibentuk di Djogjakarta’.

Radjamin Nasution sejak tiba (kembali) di Surabaya meski sudah terlalu sibuk dengan urusan organisasi dan politik. Radjamin Nasution masih sempat menjalankan hobinya dengan bermain sepakbola. Namun tugas berat akan segera terjadi di Surabaya. Tuan rumah Kongres Indonesia Raya.

Di Batavia akhirnya PPPKI memutuskan dan merealisasikan Kongres Indonesia Raya yang sempat tertunda. ‘Sutradara’ Parada Harahap menetapkan kota Surabaya sebagai tempat Kongres Indonesia Raya yang pertama. Selain tidak kondusif di Batavia, Surabaya sangat siap. Radjamin Nasution sudah menjadi anggota dewan kota (gementeeraad) di Surabaya. Dr. Soetomo teman dari Dr. Radjamin Nasution (sesama STOVIA dulu) adalah ketua majelis PPPKI. Parada Harahap dalam Kongres Indonesia Raya akan menghadirkan ‘jagoannya’ Ir. Soekarno. Parada Harahap mengontak Radjamin Nasution, bertanya: Apakah Surabaya sudah siap?’. Jawab Radjamin Nasution: ‘Sudah siap lae, panitia sudah dibentuk diketuai oleh Mr Rooslan Wongsokoesoemo, buruh pelabuhan sudah dikabari jika sewaktu-waktu terjadi penangkapan pada saat kongres (kapal-kapal Jepang banyak bersandar di Tanjong Perak untuk tempat berlindung).

Kongres Indonesia Raya digelar tanggal 1 Januari 1932 (lihat De Indische courant, 02-01-1932). Kongres dihadiri oleh 300 delegasi termasuk Ir. Soekarno. Ketika Soekarno tiba, langsung dibawa oleh Dr. Soetomo dengan mobilnya. Pada acara puncak di pendopo, Ir. Soekarno duduk di tempat kehormatan di atas panggung, sementara Dr. Soetomo sudah berada di podium untuk meminta massa tenang dan acara akan segera dimulai. Dr. Soetomo membuka acara dan mengucapkan welcome kepada mantan pemimpin PNI, Ir. Soekarno dan istri. Pembicara pertama Ir. Soekarno dan berpidato dengan semangat (yang disambut sorak sorai) dan hasilnya disimpulkan oleh Soetomo. Inti isi pidato Soekarno: Indonesia Merdeka (Parada Harahap yang terus mengikuti pidato Soekarno bergetar, ingat korannya dulu di Padang Sidempuan: Sinar Merdeka). Pembicara kedua, Soeroso yang berbicara tentang pengangguran dan menyinggung tentang masih adanya kekejaman terhadao koeli di Deli (kembali Parada Harahap bergetar, ingat dulu 1917-1918 membongkar kasus poenali sanctie). Pembicara berikutnya wakil dari PPI (Persatuan Pelajar Indonesia). Acara hari ini berakhir ditutup dengan lagu Indonesia Raya (kembali Parada Harahap bergetar: lagu itu gubahan dari anak buahnya dulu WR Supratman). Masih menurut De Indische courant, 02-01-1932) panitia mengumumkan bahwa besok dilanjutkan (hari ini). Untuk besok selain beberapa pembicara akan ditutup oleh M. Husni Thamrin (ketua PPPKI).

Pasca Kongres Indonesia Raya, di Batavia, setelah beberapa bulan, Parada Harahap tidak sabar, dan coba melacak dimana kini Soekarno. Parada Harahap membutuhkan calon pemimpin bangsa masa depan lebih cepat bergerak. Rakyat membutuhkan, Parada Harahap tidak bisa sendirian. Lantas Parada Harahap menulis di Bintang Timoer yang intinya mengajak (mengkonfirmasi) apakah turun ke arena atau tetap dibelakang. Lalu Soekarno mengirim surat ke Parada Harahap dan menerbitkannya. Intinya bahwa Soekarno masih butuh waktu belajar (teori) sebelum melakukan aksi. Soekarno tidak ingin bermain dengan nasib Rakyat. Politik baginya adalah masalah serius, yang membuat dirinya hidup (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 02-04-1932).

Namun pada bulan Mei 1932 terjadi kerusuhan sepakbola di Surabaya. Kerusuhan yang dilaporkan berbau rasial. Seorang editor surat kabar coba mencegah untuk pertandingan berikutnya. De Indische courant, 12-05-1932: Kasus meningkat. Sebuah kerusuhan sepakbola yang menjadi isu rasial. Mengancam untuk membuat masalah rasial di kota, yang lebih banyak dan lebih mengambil dimensi yang lebih besar, kecuali diambil tindakan segera. Pertanyaan lahir dari sebuah kerusuhan biasa di dunia sepakbola. Pamflet didistribusikan. Mr Liem Khoen Hian, editor dari Sin Tit Po mendatangi klub Tionghoa dan tim nasionalis pribumi (inheemsch nationalisten) agar memboikot pertandingan sebab keduanya akan bertemu dalam dalam pertandingan. Tim pribumi yang akan bertanding diantaranya Askaboel, Soewono, Radjamin (Nasution), Ngion dan Soemarto yang merupakan tokoh-tokoh penting.

Haagsche courant, 18-05-1932: editor Sin Tit Po, Mr. Lie Koen Hian, ditangkap. Mr. Lie adalah ketua memboikot Olimpiade Kota (sepak bola). penangkapan datang menyusul buletin didistribusikan. Telegram kepada Jaksa Agung dengan permintaan untuk melepaskan Lie Koen Hian. Dewan Pusat P.P.P.K.I. yang memiliki telegram tersebut segera perangkonya, dikirim. Anggota Majelis, Mr Thamrin telah menulis pertanyaan kepada Pemerintah ditangani menyusul penangkapan Lie Koen Hian.

Kerusuhan di lapangan sepakbola itu, agak mengagetkan karena selama ini sepakbola di Surabaya terbilang damai-damai saja. Hubungan antara SVB dengan SIVB berjalan normal dalam konteks hubungan kerjasama di bidang sepakbola (melakukan pertandingan persahabatan) dan bentuk-bentuk pertandingan yang bersifat kemanusiaan (amal). Radjamin Nasution yang tengah berjuang di dewan kota mungkin tidak mengira ada perjuangan di lapangan sepakbola. Tapi perjuangan di lapangan bisa mendistorsi irama perjuangan di dewan kota yang bisa berakibat fatal untuk semua pribumi.

Di Batavia, setelah Parada Harahap memahami bahwa Soekarno masih membutuhkan waktu. Lantas Parada Harahap mengkonfirmasi M. Hatta dan tampaknya sudah siap dan akan segera kembali ke tanah air. Buat apa Parada Harahap mengkonfirmasi Soekarno dan kemudian M. Hatta. Ternyata beberapa waktu kemudian terungkap di koran-koran Belanda bahwa Parada Harahap akan memimpin rombongan untuk melawat ke Jepang. Rombongan ini tampaknya sudah disusun Parada Harahap yang terdiri dari tujuh orang bidang: jurnalistik, politisi-jurnalistik, akademisi-jurnalistik, guru, fotografer dan dua pengusaha (manufaktur dan perdagangan). Kelak akan diketahui bahwa jurnalistik adalah Parada Harahap, politisi adalah Abdulah Lubis (di Medan) dan akademisi adalah M. Hatta. Sementara guru dari Bandung, pengusaha manufaktur dari Solo dan pengusaha perdagangan dari Batavia. Akademisi dalam hal ini mungkin awalnya diprioritaskan kepada Soekarno (tetapi karena masih butuh belajar teori politik) lalu alternatifnya M. Hatta (yang sudah siap secara teori tetapi masih memerlukan waktu untuk menyelesaikan urusan akademik sebelum benar-benar pulang ke tanah air).

Akan tetapi Radjamin Nasution cepat paham mengapa terjadi dinamika politik di lapangan sepakbola. Hal itu boleh jadi karena terkait dengan ekskalasi politik yang semakin kencang di Batavia. Kini hawanya terasa di Surabaya. Di Batavia PPPKI yang berkantor di Gang Kenari, Parada Harahap (sekretaris PPPKI) terus mengolah energi persatuan dan kesatuan Indonesia ke bentuk gerakan politik. Parada Harahap ke sisi luar akan melakukan manuver politik untuk berkunjung ke Jepang dan ke dalam melakukan konsolidasi politik (membidani untuk lahirnya partai-partai politik).

Setelah Kongres Pemuda (1928), kini (1932) PPPKI mulai fokus pada revitalisasi partai politik lama dan penyemaian partai-partai politik. Yang difasilitasi untuk yang pertama oleh PPPKI adalah Rapat Besar (Kongres) Partai Indonesia yang diketuai oleh Mr. Sartono dan Sekretaris Njonoprawoto. Kongres ini diadakan di Gedong Permoefakatan di Gang Kenari pada tanggal 15 Mei 1932 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 17-05-1932).

Partai Indonesia adalah bentuk baru Perserikatan Nasional Indonesia yang dibentuk tahun 1927 di Bandung (sebagai respon dan dukungan terhadap pembentukan PPPKI di Batavia) yang diketuai oleh Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo (rekan Dr. Abdul Hakim Harahap dan Dr. Abdul Karim Harahap di Docter Djawa School, lulus 1902). Dr. Abdul Karim adalah mentor dari Parada Harahap di Sibolga dalam urusan pergerakan sebelum hijrah ke Batavia tahun 1922. Perserikatan Nasional Indonesia yang didirikan Dr. Tjipto didalamnya bergabung Mr. Sartono dan dari golongan muda: Ir. Soekarno. Kemudian berganti nama menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI) tahun 1928 yang dipimpin Soekarno. Lalu pada tahun 1929 PNI dianggap berbahaya lalu beberapa orang ditangkap seperti Soekarno dan Gatot Mangkoepradja dan pimpinan digantikan oleh Mr. Sartono. Pada tanggal 26 April 1931 Mr. Sartono mengubah PNI menjadi Partai Indonesia. M. Hatta menolak perubahan itu.

Rapat Besar (Kongres) Partai Indonesia menurut Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 17-05-1932 dibuka oleh Mr. Sartono dengan pembacaan laporan tahunan oleh sekretaris. Beberapa orang yang hadir dan berpidato antara lain: Gatot Mankoepradja, orang PSSI, orang pers, Ali Sastroamidjojo dan terakhir Amir Sjarifoedin Harahap.

Amir Sjarifoedin Harahap berbicara tentang imperialism, imperialism barat telah meluas dengan berjalannya waktu, industri Western membunuh penduduk asli dan melemahkannya, pertumbuhan modal asing di Indonesia, karena imperialisme ini ada di tanah air kita, Indonesia, telah menjadi bidang benih kapitalisme asing, tempat untuk produk pertambangan dan pasar untuk penjualan barang-barang asing, Karena imperialisme ini maka Maatschappy Indonesia, baik moral dan material, hancur; sejarah dunia telah menunjukkan bahwa masyarakat hanya dapat dibangun kembali di negara tertentu dan diperbarui pada semua tingkatan, jika negara yang diperintah oleh rakyatnya sendiri dan menghilangkan pengaruh dan kekuatan imperialisme asing, negara kita diatur oleh bangsa kita sendiri, untuk itu mencari Partai Indonesia untuk peri Indonesia merdeka, Partai Indonesia sebagai keyakinannya bahwa masyarakat Indonesia dalam pencariannya untuk Indonesia merdeka harus mengandalkan kekuatan mereka sendiri dan kemampuan mereka sendiri, dan tidak berharap untuk dukungan imperialisme’.

Boleh jadi Parada Harahap sumringah mendengar pidato yang berapi-api dari Amir Sjarifoedin Harahap ini. Boleh jadi Parada Harahap teringat dengan nama koran yang pernah didirikannya di Padang Sidempuan tahun 1919 dengan nama Sinar Merdeka. Di Surabaya, kerusuhan yang berawal dari sepakbola itu kemudian dilakukan boikot oleh editor (agar Tionghoa dan pribumi tidak bertanding) yang berakhir dengan penangkapan serta telah dilepas setelah PPPKI turun tangan (hal pembelaan serupa ini juga pernah dilakukan oleh Parada Harahap terhadap editor Tionghoa, Sin Po pada tahun 1925). Kini, secara bulat warga Surabaya melakukan protes besar yang menamakan dirinya Komite Aksi dari Persatoean Bangsa Asia terhadap rezim Belanda, dimana Radjamin Nasution duduk sebagai wakil ketua komite.

De Indische courant, 23-05-1932 (Pertemuan protes besar): ‘Kemarin pagi pukul 9 pagi di Gedong Nasional di Boeboetan, gedung persatuan kaum nasionalis pribumi dibuat tersedia untuk tujuan dalam protes besar, yang dilakukan oleh yang menamakan dirinya sebagai Komite Aksi Persatoean Bangsa Asia. Dalam pertemuan ini hadir 2.500-3.000 orang hadir. Di aula kita melihat orang-orang yang mewakili semua faham, semua jenis serikat politik dari semua ras dan kelas: Jawa, Madura, Melayu Amboynese, Indo-Cina, Indo-Arab, perempuan, laki-laki, anak-anak, orang terpandang maupun orang miskin. Aula itu dihiasi dengan karangan bunga dan beberapa bendera kertas warna nasionalis: merah dan hijau. Sisi panggung terlihat potret besar berwarna (tokoh) Mahatma Gandhi, advokat India yang menginginkan otonomi bagi umatnya. Di meja hijau telah mengambil tempat yang penuh bagi dewan komite yang lebih tinggi yang terdiri dari orang-orang yang mewakili kelompoknya: Dr. Soetomo, Alamoedi dan The Boen Liang, yang merupakan pemimpin masing-masing dari Indonesia, Arab dan Cina.. Pertemuan itu dipimpin oleh Mr Liem Koen Hian, yang diketahui beberapa waktu yang lalu ditangkap dan telah ditahan oleh kantor polisi selama lima hari. Anggota dari fraksi nasionalis di Dewan Kota (gementeeraad), Mr. Radjamin bergabung sebagai wakil ketua komite. Pada baris pertama kursi di aula banyak tokoh adat dan bahkan beberapa wanita Chineesehe. Sebagian besar speaker, Indonesia, Indo-Chiiieezen dan Indo-Arab, terkesan pada hadirin yang banyak masing-masing dengan caranya sendiri, sudah saatnya bahwa ras berwarna coklat di Nusantara bergabung bersama menjadi satu obligasi besar orang Asia. Pada awal pertemuan memberitahu wakil presiden, Mr Radjamin Nasution, bahwa anggot Dewan Rakyat (Volksraad) Mr Thamrin, telegram berikut diterima: “Sukses toegewenscht. hasil harapan kerjasama terus varietas Asia Indonesia berdasarkan saling menghargai, harga diri. Thamrin’. Kemudian beberapa speaker berpidato seperti Mr Liem Koen Hian, Mr Kwee Thiau Ching, editor Koran Sin Tit Po, dimana Dia memberi penjelasan tentang asal-usul sengketa antara papan dari SVB (Asosiasi Sepakbola Soerabaiasche) dan NIVB (Ned. Ind. Asosiasi Football). Mr. Kwee mengakhiri pidatonya dengan menyatakan: ‘Kami tidak memiliki SVB Kami tidak memiliki NIVB. Kami hanya tahu Indonesia Football Association’ (Gemuruh sorak-sorai). Pembicara ketiga ‘adalah Mr Jao Khing Tiong dari Masyarakat Chineesehe ‘Hap Sim Hwee’ yang menyesalkan bahwa masih ada begitu banyak orang Cina, yang menjauhkan diri dari gerakan. Hanya ada tujuh atau delapan serikat Chineesehe yang mengambil bagian dalam aksi. Sebelumnya, di awal, Mr. Radjamin Nasution mengatur secara rinci bagaimana sengketa dengan SVB dan NIVB telah dimulai dan SIVB (Asosiasi Sepakbola Indonesia Soerabaiasche) telah dilakukan untuk memboikot kompetisi kota dan keberhasilan membuat kompetisi sendiri. Kemudian muncul protes bahwa ini adalah tugas dari polisi untuk menangkap tapi bukan hanya dia (menunjuk ke Mr Liem) mereka bisa menangkap kami semua, karena kita semua berdiri di belakang gerakan (boikot) itu. Bahkan di Volksraad Asia harus bekerja sama, tidak hanya di Gedong ini. Mengapa kesalahan tidak dilakukan terhadap fatwa dari NIVB? Pertemuan protes ini dari 58 serikat dimana ada 40.000 warga di belakangnya. Awalnya kami hanya ingin bersatu dalam sepakbola tetapi kini kami menetapkan tujuan yang lebih tinggi lagi

Pertemuan Surabaya ini adalah protes pertama dalam skala besar yang pernah dilakukan, yang berawal dari sepakbola. Protes ini tidak berdiri sendiri, Surabaya (Komite Asia: Liem dan Radjamin Nasution) didukung habis Batavia (PPPKI: Thamrin dan Parada Harahap). Parada Harahap sendiri di Batavia terus menggodok berbagai agenda untuk melakukan maneuver dengan membawa rombongan Indonesia melawat ke Jepang sebagai studi perbandingan (Belanda/ Eropa vs Jepang/Asia).

Pemerintah colonial juga mulai gerah. Pada bulan Juni 1932 sejumlah surat kabar dilarang terbit.

De Sumatra post, 13-06-1932 (Verboden periodieken en bladen): ‘Pihak berwenang militer pada kenyataannya hampir seluruh rakyat pribumi ditempatkan pada daftar hitam, diduga melarang. Lembar dan majalah yang dilarang adalah sebagai berikut: Persato’an Indonesia, Simpaj, Sedio- Tomo, Aksi, Indonesia Moeda, Balai Pemoeda Bandoeng, Garoeda, Garoeda Smeroe, Garoeda Merapi, Sinar Djakarta, Indonesia Merdeka, Impressa, Soeloeh Indonesia Moeda, Keng Po, Sim Po, Warna Warta, Sinar Terang, Indonesia Raja, Soeara Merdeka, Daulat Ra’jat, Banteng Indonesia, Panggoegah Ra’jat, Banteng Ra’jat, Darmo Kondo, Haloean, Kaperloean Kita, Mustika, Pahlawan (dengan pcmoeda Kita), Soeara Kita, Priangan Tengah, Soeara Oemoem, Soeara Oemoem Jav. Editie, Sipatahoenan, Medan Ra’jat, Fikiran, dan Ir. Soekarno djeung pergeraken Ra’jat. Seperti dapat dilihat, termasuk kedua suratkabar Melayu yang pribumi dan Chineesch. Di antara majalah yang bisa dibaca Bintang Timoer (Parada Harahap) dan Siang Po, baik yang muncul di Batavia, bahkan majalah Fikiran, anggota dean, Dr. Ratu Langi di Manado, adalah tabu. Majalah lainnya adalah organ nasionalis, semua link bahkan diucapkan sebagai arah revolusioner’.

Akhirnya, Parada Harahap dan rombongan telah berangkat ke Jepang dengan kapal Nagoya Maru dari Tandjong Priok (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 17-11-1933). Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 05-12-1933: melaporkan bahwa rombongan yang dipimpin Parada Harahap telah tiba di Kobe. Lalu kemudian pers Belanda mulai manganalisis: Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 28-12-1933: ‘Unsur-unsur eksentrik revolusioner Indonesia ke Jepang dengan dalih kunjungan komersial, tidak hanya perhatian pemerintah! Juga menjadi hal-hal baru yang dipantau oleh bidang politik. Di tempat lain, di belakang nama-nama otoritas perdagangan Indonesia kualitas mereka, dan mereka seharusnya telah terlihat. Aneh di Jepang dua wartawan [salah satu Parada Harahap], seorang pedagang batik,‘master sekolah’ [M. Hatta] dan mahasiswa adalah penamaan orang sebuah ‘commissionnall’. Apakah Anda punya jawaban yang memuaskan untuk apa Mr Parada Harahap dari Bintang Timur di Jepang menyatakan baik di meja sebuah ‘sukiyaki dinner’ di Kikusui, hasil wawancara (ini tidak dikonfirmasi) Namun dia [Parada Harahap] mengatakan.; Kami ingin membantu membangun hubugan antara masyarakat Jepang dan Jawa, dan tujuan lain maka kita ingin (adat) masyarakat di Jawa di negara Anda dapat terhubung. Selanjutnya, berbicara tentang jutaan Java bahwa Jepang ingin tahu apa yang harus Parada Harahap dapat dilakukan. Terbaik melalui pers Melayu Karena Pemerintah Nederiandsche juga Hindia Belanda dan untuk kepentingan mereka mewakili Pemerintah Jepang melalui duta besar untuk Tokyo, Parada Harahap memberikan jaminan pada penciptaan hubungan harmonis antara bangsa-bangsa (sic) dari Jawa dan Jepang meskipun penting untuk melakukan, namun maksud terselubung dari seluruh disebut bandelsgedoe ini. Ini komite perdagangan tidak ada pejabat, adalah murni pribadi, agak transparan, hobi. Dan bahkan jika beberapa ‘acara resmi’ memiliki, maka itu bukan di jalan misi dagang untuk membuat hubungan ramah antara masyarakat’. Koran-koran lainnya menulis dengan judul: Bataviaasch nieuwsblad, 29-12-1933 (Java in Japan: The King of the Java Press): De Indische courant, 29-12-1933 (Harahap in Japan: The King of the Java Press):

Radjamin Nasution, seorang ‘gibol’ sudah menjadi tokoh penting di Surabaya. Tokoh penting di Batavia, yang juga ‘gibol’ adalah Parada Harahap. Salah satu ‘gibol’ yang menjadi tokoh penting adalah Abdullah Lubis di Medan. Poros Medan, Batavia dan Surabaya adalah poros sepakbola Indonesia pada masa itu.

Kapal ‘Panama Maru’ bersandar di Surabaya. Parada Harahap disambut oleh Radjamin Nasution. Parada Harahap cukup lama di Surabaya, seminggu lamanya, tetapi tidak diketahui apa yang dibicarakan Parada Harahap dan Radjamin Nasution dan apa aktivitas kedua tokoh ini selama di Surabaya dengan tokoh-tokoh di Surabaya. Rombongan Parada Harahap dkk berangkat dari Tandjong Priok, Batavia dengan kapal ‘Nagoya Maru’ dan tiba di Kobe tanggal 4 Desember 1933. Pulang kembali ke tanah air, tiba di Tandjong Perak, Soerabaija hari Sabtu pagi, 13 Januari 1934.

Di Surabaya, tentu saja Parada Harahap berkesempatan bertemu dengan kawan-kawan yang lain asal Padang Sidempuan. Radjamin Nasution besar kemungkinan mempertemukan Parada Harahap dengan Dr. Soetomo. Tentu saja para pemuda juga terlibat dalam berbagai aktivitas di Surabaya. Muhamad Hatta yang juga ikut rombongan dari Jepang, Soekarno yang tengah berlibur di kampong halamannya di Surabaya dan sudah barang tentu Amir Sjarifoedin datang dari Batavia naik kereta untuk menyambut uda (paman) Parada Harahap yang pulang dari Jepang.

Amir Sjarifoedin datang dengan rombongan yang di dalamnya termasuk istri dan anak Parada Harahap, adik-adik Parada Harahap yakni: Harun Harahap (pengusaha) dan Panangian Harahap (penilik sekolah di Bandung), Tentu saja adik Amir Sjarifoedin bernama Arifin Harahap yang tengah kuliah di Technisch School di Bandung ikut karena tengah libur kuliah (kelak menjadi Menteri Industri). Ini juga adalah kesempatan anak-anak Parada Harahap dan Radjamin Nasution saling bersua kembali (kelak Sahrrareza br. Nasution 1956 dan Aida Dalkit br. Harahap 1957 lulus dari Rechschool di Jakarta, tempat sekolahnya Amir Sjarifoedin).

Mengapa begitu lama singgah di Surabaya? Jawabnya begini: Parada Harahap dan kawan-kawan yang baru pulang dari Jepang perlu waktu untuk menerjemahkan situasi dan kondisi terkini sebelum memasuki Batavia. Boleh jadi karena, keinginan Radjamin Nasution yang sudah lama tidak bersua dengan Parada Harahap. Tentu saja, karena alasan karena Surabaya adalah pangkalan kapal-kapal Jepang di Indonesia. Jika sewaktu-waktu sambil menunggu waktu terjadi pengejaran dan penangkapan terhadap rombongan akan mudah segera berlindung ke dalam kapal-kapal Jepang yang banyak bersandar di pelabuhan Surabaya. Pelabuhan ini sangat aman bagi rombongan: Radjamin Nasution adalah mantan kepala bea dan cukai Surabaya, mantan penasehat organisasi buruh di pelabuhan Surabaya.  

Setelah kepulangan Parada Harahap dan kawan-kawan dari Jepang, suhu politik makin memanas di semua sektor, termasuk di lapangan sepakbola seperti di Surabaya. Radjamin Nasution, mantan pemain sepakbola STOVIA (1907), meski tidak muda lagi, dalam pertandingan sepakbola di Surabaya masih bisa menggiring bola. Radjamin Nasution pesebakbola sejati: bermain selama kuliah, pendiri perserikatan sepakbola pribumi di Medan dan kini di Surabaya, selain anggota dewan kota juga masih terlibat dalam membina sepakbola pribumi. Sepakbola, mahasiswa, politik tidak terpisahkan saat itu.

Radjamin Nasution Menjadi Walikota Surabaya

Radjamin Nasution di Surabaya adalah tokoh politik dan tokoh sepakbola. Itulah yang dibutuhkan oleh penduduk yang melekat pada sepakbola pada masa itu. Meski begitu, para tokoh masih bisa membedakan anatara dunia politik dan dunia sepakbola. Dua dunia yang berbeda dan tidak dicampuradukkan. Sepakbola adalah sumber hiburan publik di lapangan sepakbola, sedangkan politik adalah ranah ‘pertempuran’ di dewan (Belanda vs pribumi).

Pada masa kini (era industri sepakbola), yang diharapkan dari tokoh sepakbola adalah bagaimana seseorang mampu membangkitkan energi sepakbola dengan menjadikan klub sebagai klub professional yang sehat (secara bisnis) yang menunjang pada industri sepakbola dalam perekonomian Indonesia. Oleh karenanya, kita tidak butuh tokoh politik yang korup dalam dunia sepakbola (yang justru menghacurkan industri sepakbola sendiri: untuk tokoh semaccam ini banyak contohnya).

Penduduk Surabaya telah memilih Radjamin Nasution sebagai tokohnya, untuk bertarung di parlemen kota dengan orang-orang Belanda. Kesediaan Radjamin Nasution telah pula didukung 100 persen oleh tokoh-tokoh Surabaya. Inilah kebijaksanaan dan contoh kearifan yang baik yang telah ditunjukkan oleh penduduk Surabaya. Radjamin Nasution sebagai ‘gibol’ dan penduduk Surabaya yang juga sangat menyukai sepakbola bertemu di lapangan sepakbola. Sepakbola seharusnya berfungsi untuk menjadi sumber inisiatif untuk persatuan dan kesatuan (bagi penduduk pribumi). Jika ada ketidakadilan dalam kerjasama sepakbola dengan orang-orang (klub) Belanda baru disitulah perjuangan dilakukan. Sepakbola sendiri adalah situs yang harus tetap dibuat netral.

Di Surabaya ada dua tokoh sepakbola: Dr. Radjamin Nasution dan Mr. RE Weiss. Keduanya sama-sama gibol, dan keduanya juga sama-sama anggota parlemen kota. Mereka berdua dapat memilah politik dan sepakbola. Anehnya, dua orang ini di parlemen saling berseberangan tetapi di dalam lapangan sepakbola keduanya saling bekerja sama: membangun sepakbola Surabaya. Weiss adalah mantan pemain THOR Surabaya (debut 1914) dan kini, Weiss adalah petinggi bond SVB (De Indische courant, 26-10-1938). Sedangkan Radjamin Nasution mantan pemain STOVIA VC Batavia (berhenti tahun 1912) dan kini menjadi pembina SIVB (mantan pendiri DVB di Medan).

Karir Radjamin di parlemen makin menguat hingga terpilih menjadi wakil Jawa Timur mewakili Kota Surabaya ke parlemen pusat (Volksraad) dari Partai Parindra tahun 1938. Radjamin Nasution adalah sekretaris Partai Parindra Kota Soerabaija (Soerabaijasch Handelsblad tanggal 20-07-1938). Di Batavia, Radjamin Nasution kembali bertemu sobat lamanya sesama gibol yakni Parada Harahap yang juga terpilih menjadi anggota Volksraad dari Parindra.

Posisi Radjamin menjadi ‘double gardan’, di satu tangan anggota senior (wethouder) dewan kota Surabaya, dan di tangan lain sebagai anggota Volksraad. Pada masa itulah Radjamin memperkenalkan gaya blusukan. Dari kampong ke kampong melihat rakyatnya dan menampung aspirasi rakyatnya. Dalam hal tertentu, Radjamin tidak segan-segan menegor dan menggertak walikota Fuchter yang bangsa Belanda, jika pembangunan yang dijalankan jauh menyimpang dari kebutuhan rakyat. Figur Radjamin galak terhadap Belanda, sebaliknya santun terhadap rakyatnya. Radjamin Nasoetion yang sudah menyandang nama ‘arek soerabaia’ masih sering bolak-balik dari Batavia ke Soerabai untuk menyambangi konstituennya. Karenanya, hobinya di dunia sepakbola tetap terjaga. Pengaruhnya masih sangat kuat diantara anggota pribumi Dewan Kota. Radjamin dijuluki sebagai Wethouder di Surabaya. Sebutan Wethouder merupakan sebuatan bagi anggota tertua dewan kota di Inggris.

Kedua organisasi sepakbola ini (SVB cenderung Eropa/Belanda dan SIVB cenderung pribumi) bekerjasama dalam urusan sepakbola: pertandingan persahabatan untuk menciptakan value seperti pertandingan amal. De Indische courant, 15-11-1938: ‘Sepakbola amal SVB kontra IVB. Pada tanggal 26 dan 27 November akan menjadi tim perserikatan dan klub dari SVB dan Asosiasi Sepakbola Indonesia (SIVB) akan bertandingan terhadap satu sama lain. Hal ini juga meminta kita untuk berbagi pendapatan yang mana sebagian diserahkan ke orang pengidap kusta, dan manfaat lebih lanjut untuk kontrol TBC di Surabaya’.

Di Jakarta, untuk urusan sepakbola Parada Harahap meski ada pribumi dan ada ETI tidak terlalu mempersoalkan. Sepakbola adalah sepakbola. Urusan politik harus dijauhkan dari lapangan sepakbola. Hal serupa itu juga terjadi di Surabaya. Pembina Persibaja adalah Radjamin Nasution. Namun jika Radjamin Nasution tengah sibuk urusan politik di Batavia, kepemimpinan sepakbola di Surabaya diserahkan kepada istrinya. Dalam pertandingan yang memperebutkan piala baru-baru ini yang memberikan piala dan hadiah kepada pemenang adalah istri Radjamin Nasution sendiri. Oleh karenanya antara klub-klub ETI dan klub-klub pribumi tidak ada persoalan. Kedua bond hidup berdampingan. Itulah sepakbola di Surabaya dan seharusnya demikian, sepakbola adalah game yang bersifat hiburan publik yang menuntut sportivitas.

Soerabaijasch handelsblad, 05-12-1938: ‘Pertandingan sepakbola di Surabaya yang diselenggarakan untuk memperebutkan Oliveo-beker. Pertandingan tersebut mempertemukan tim SVB (Belanda) dan Persibaja (pribumi) dimana penonton sangat ramai. Pertandingan yang dilakukan pada hari Sabtu sore itu Persibaja memperlihatkan pemainan yang menarik. Persibaja dengan kemeja hijau sulit diladeni pada awal permainan oleh SVB yang berbaju oranje. Namun Persibaja malah kemasukan gol duluan. Pada akhir pertandingan Persibaja kalah dua nol. Piala dan hadiah diberikan, dimana SVB dipimpin kapten Samuel dan salah satu pemain Persibaja, Gie Hoo yang diserahkan oleh Ibu Radjamin (Nasution), istri dari Wethouder (anggota dewan senior) Radjamin Nasution. Istri Radjamin Nasution (br. Lubis) mengharapkan terus adanya kerjasama antara kedua asosiasi. Presiden SVB berbicara beberapa kata dan mengucapkan terimakasih dan pujian untuk organisasi yang rapi dan bermain sangat baik dari Persibajanen’.

Memang ada riak-riak di antara para stakeholder sepakbola. Itu tidak terhindarkan apalagi yang terkait dengan isu ras (ETI vs pribumi). Persoalannya adalah bagaimana kedua belah pihak mengelola konflik dan memupuk kerjasama. Pihak pemerintah sesungguhnya netral meski setiap saat bisa melakukan intervensi. Akan tetapi tidak pernah digunakan. Pemerintah memberikan kebebasan dalam sepakbola dan tidak terlalu mau mencampuri urusan internal sepakbola.

Berbeda dengan pada masa kini. Sudah jelas pemerintah tidak boleh intervensi dalam organisasi sepakbola dunia di Indonesia tetapi pemerintah tetap saja melakukan intervensi (akibannya PSSI dibekukan FIFA). Padahal waktu itu pemerintah tidak dilarang oleh FIFA melakukan intervensi, tetapi pemerintah tidak pernah melakukannya. Independensi sepakbola di Indonesia kala itu memang diberikan. Yang menjadi soal adalah persaingan antara klub ETI dan klub pribumi.

Bond SVB sendiri dibentuk pada tahun 1909. Pada tahun ini merupakan ulang tahun yang ketiga puluh (De Indische courant, 14-06-1939). SIVB lahir pada tahun 1930 dengan kata lain, SVB mengalami pemekaran dengan dibentuknya bond pribumi (SIVB). Pada tahun ini juga, Surabaya menjadi tuan rumah Kejuaraan Antara Klub se-Jawa (Java Club Championship). Klub-klub juara di Batavia, Bandung dan Semarang akan beradu kompetitif dengan klub juara dari Surabaya (yakni Tiong Hwa Surabaya. MOT Semarang, BVC Batavia dan UNI Bandung). Juaranya adalah Tiong Hwa dengan mengalah BVC di final dengan skor 6-1 (De Indische courant, 07-07-1939). Pertandingan tidak hanya ditonton oleh orang-orang Eropa/Belanda (ETI) tetapi juga oleh orang-orang pribumi. Itulah esensi sepakbola, siapapun pemiliknya tetapi memberikan manfaat (hiburan) bagi semua orang.

Bulan April 1940, Radjamin turba kembali ke Surabaya. Dia berkeliling kota, blusukan ke tempat-tempat tertentu: pasar, pinggir jalan (proyek pembangunan jalan), stasion, terminal dan perkampungan. Radjamin tidak segan-segan mengkritik pegawai kota yang berbangsa Belanda yang tidak becus melaksanakan tupoksinya. Rupanya gaya Radjamin ini di masa kini menular kepada Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Hebatnya, Radjamin blusukan minta langsung didampingi oleh Walikota Fuchter. Walikota bangsa Belanda ini ‘nurut’ sama Anggota Volksraad pribumi, Radjamin Nasution. Kepada bangsa Belanda, Radjamin sangat galak, tetapi sangat mencintai rakyatnya dan sangat hormat kepada teman-teman.

Pada tahun 1941 Radjamin Nasution buru-buru harus pulang kampong di Surabaya. Apa pasal? Radjamin Nasution berduka. Salah satu sobatnya sejak kuliah di STOVIA dikabarkan telah meninggal dunia. Soerabaija Handelsblad koran Surabaya yang terbit tanggal 23-2-1941 melaporkan bahwa Radjamin Nasution menghadiri pemakaman rekannya Dr. Soetomo. Radjiman berpidato dengan lembut dan hangat dalam upacara pemberangkatan ke pemakaman Demikian Soerabaija Handelsblad melaporkan.

Sementara itu, dunia sepakbola tetap normal. Klub Surabaya juga menjalin hubungan dengan klub di Makassar. Ini yang terjadi pada tahun 1941. Sebagaimana dilaporkan De Indische courant, 03-11-1941, terjadi pertandingan antara Makasser dengan SVB dengan kemenangan Surabaya 2-7. Trio Hway Gie, San Hay dan Sopardi dengan didukung dua sayap Anwar dan Stalder menjadi Soerabaia tampak superior’. Kunjungan Makassar ini merupakan kunjungan balasan, dimana HBS Surabaya pada tahun 1933 telah melakukan lawatan melawan Makasser (De Indische courant, 20-06-1933). Pertandingan kunjungan anjang sana juga pernah dialami Radjamin Nasution pada tahun 1909, ketika klubnya STOVIA VC (bond BVB Batavia) berkunjungan ke Medan melawan Tapanoeli VC (bond BVB Medan).

Rupanya pertandingan ini merupakan pertandingan sepakbola yang terakhir di Surabaya, karena secara tiba-riba, tidak ada angin lalu ada hujan. Pasukan Jepang telah melakukan bombardier di Riaou tepatnya di sekitar Batam yang berbatasan dengan Singapoera.

Radjamin Nasution yang tengah berada di Surabaya tiba-tiba pula mendapat surat dari anak perempuannya, seorang dokter yang bersuamikan dokter yang sama-sama berdinas di Tarempa, Tandjong Pinang, Kepulauan Riau. Surat ini ditujukan kepada khalayak dan cepat beredar, karena termasuk berita penting masa itu. Surat kabar Soeara Oemoem yang terbit di Surabaya mempublikasikan isi surat keluarga (anak kepada ayahnya) tersebut menjadi milik publik sebagaimana dikutip oleh koran De Indische Courant tanggal 08-01-1942. Berikut isi surat tersebut.

Tandjong Pinang, 22-12-194l.

Dear all. Sama seperti Anda telah mendengar di radio Tarempa dibom. Kami masih hidup dan untuk ini kita harus berterima kasih kepada Tuhan. Anda tidak menyadari apa yang telah kami alami. Ini mengerikan, enam hari kami tinggal di dalam lubang. Kami tidak lagi tinggal di Tarempa tapi di gunung. Dan apa yang harus kami makan kadang-kadang hanya ubi. Tewas dan terluka tidak terhitung. Rumah kami dibom dua kali dan rusak parah. Apa yang bisa kami amankan, telah kami bawa ke gunung. Ini hanya beberapa pakaian. Apa yang telah kami menabung berjuang dalam waktu empat tahun, dalam waktu setengah jam hilang. Tapi aku tidak berduka, ketika kami menyadari masih hidup.

Hari Kamis, tempat kami dievakuasi….cepat-cepat aku mengepak koper dengan beberapa pakaian. Kami tidak diperbolehkan untuk mengambil banyak. Perjalanan menyusuri harus dilakukan dengan cepat. Kami hanya diberi waktu lima menit, takut Jepang datang kembali. Mereka datang setiap hari. Pukul 4 sore kami berlari ke pit controller, karena pesawat Jepang bisa kembali setiap saat. Aku tidak melihat, tapi terus berlari. Saya hanya bisa melihat bahwa tidak ada yang tersisa di Tarempa.

Kami mendengar dentuman. Jika pesawat datang, kami merangkak. Semuanya harus dilakukan dengan cepat. Kami meninggalkan tempat kejadian dengan menggunakan sampan. Butuh waktu satu jam. Aku sama sekali tidak mabuk laut….. Di Tanjong Pinang akibatnya saya menjadi sangat gugup, apalagi saya punya anak kecil. Dia tidak cukup susu dari saya…Saya mendapat telegram Kamis 14 Desember supaya menuju Tapanoeli…Saya memiliki Kakek dan bibi di sana…Sejauh ini, saya berharap kita bisa bertemu….Selamat bertemu. Ini mengerikan di sini. Semoga saya bisa melihat Anda lagi segera.

Penyerangan oleh Jepang dimulai dengan pengeboman di Filipina dan Malaya/Singapura. Pemboman oleh Jepang di Tarempa merupakan bagian dari pengeboman yang dilakukan di wilayah Singapura. Tarempa sangat dekat dari Singapura.

Tanggal 3 Februari 1942 perang benar-benar meletus di Kota Surabaya. Pasukan Jepang selama satu bulan beberapa kali mengebom Kota Surabaya. Koran Soerabaijasch Handelsblad yang menjadi salah satu sumber utama artikel tentang Radjamin ini, lama tidak terbit. Baru terbit kembali pada tanggal 26-02-1942. Dalam terbitan tersebut, dilaporkan terjadi perubahan di Dewan Kota. Radjamin Nasution diangkat sebagai wakil ketua dewan kota.

Pada tanggal 8 Maret 1942 pemerintahan Belanda di Indonesia benar-benar takluk tanpa syarat kepada pasukan Jepang. Pada hari itu juga kekuasaan Gemeente (Pemerintahan Kota) Surabaya berpindah tangan kepada militer (pasukan tentara) Jepang. Lantas Dewan Kota dibubarkan. Namun demikian, pada fase konsolidasi ini, pihak Jepang masih memberi toleransi dua kepemimpinan di dalam kota. Walikota Fuchter masih dianggap berfungsi untuk kepentingan komunitas orang-orang Eropa saja. Sementara walikota di kubu Indonesia dibawah perlindungan militer Jepang ditunjuk dan diangkat Radjamin Nasoetion–Wethouder, mantan anggota senior dewan kota yang berasal dari bumiputra.

Jepang memilih Radjamin dibandingkan yang lain karena Radjamin satu-satunya tokoh pribumi di Surabaya yang memiliki portfolio paling tinggi. Radjamin selain dikenal sebagai Wethouder (tokoh anggota dewan kota) yang pro rakyat (lihat Radjamin, seorang pemberani yang mampu menggertak Futchter). Radjamin juga diketahui secara luas sangat dekat dengan rakyat dan didukung tokoh-tokoh ‘adat’ di Surabaya (lihat kembali rekomendasi Koesmadi). Radjamin juga berpengalaman dalam pemerintahan Belanda sebagai pejabat tinggi (eselon-1) Bea dan Cukai. Jangan lupa, Radjamin juga seorang yang cerdas, dokter, lulusan perguruan tinggi, Stovia di Batavia. Karakter yang lengkap ini juga disukai pasukan Jepang, ketika datang pertamakali ke Surabaya. Militer Jepang lalu mengangkatnya sebagai walikota, menggantikan kedudukan Fuchter yang saat ini sibuk mengurusi soal deportasi bangsa Eropa dari Surabaya.

Walikota Surabaya kini bukan lagi Fuchter, tetapi Walikota Surabaya adalah Radjamin Nasution. Kota melting pot ini memerlukan seorang walikota yang kuat yang bisa menyatukan semua latar belakang penduduk kota. Hanya Radjamin Nasution yang bisa melakukan itu. Sepakbola tentu saja bagian dari kehidupan.

Koran Soerabaijasch Handelsblad yang beberapa minggu terakhir berhenti terbit, terbit kembali tanggal 27-04-1942. Disebutkan bahwa Radjamin telah membentuk panitia peringatan ulang tahun Tenno Haika. Panitia terdiri dari, ketua: Ruslan Wongsokoesoemo, dan sekretaris: Dr Angka Nitisastro. Kegiatan menghormati Raja Jepang itu meliputi berbagai kegiatan, seperti karnaval, hiburan rakyat, dan pertandingan sepakbola. Untuk pertandingan sepakbola dilaksanakan tiga hari 28-30 April 1942 yang diikuti empat klub, yakni: Persibaja (Persatuan Sepakbola Indonesia, Soerabaja), HBS, Tiong Hwa dan Excelsior.

Soerabaijasch handelsblad, 30-04-1942 (Pertandingan sepakbola: Excelsior 7 vs Tiong Hwa 2 dan HBS 2 vs Persibaja 1): ‘Dua pertemuan pertama pertandingan sepakbola untuk menghormati ulang tahun Tenno Heika diselenggarakan. Dua hari secara besar-besar di Stadion HBS. Ribuan penonton datang tanpa mengeluh di Jalan Tambaksari. Harga tiket masuk yang rendah. Yang merupakan bukti jelas bahwa kepentingan publik dalam keran sepakbola. Hadir beberapa otoritas tinggi Nippon, kepala polittie yang hari kedua melakukan kickoff. Juga banyak tentara Nipponsche, juga tampak Walikota Radjamin (Nasution). Seperti diketahui, seluruh penerimaan dari tiket untuk dibayarkan kepada pemerintah kota untuk disalurkan kepada keluarga yang terkena dampak perang. Itu menunjukan kebajikan olahraga dan amal disini juga berjalan seiring. Pada pertandingan pertama lebih layak dari tampilan kedua. Pertandingan berjalan adil sehingga semua pemain tidak ada yang dirugikan dan mendapat layak pujian. Itu olahraga tidak hanya konten yang baik, tapi juga sportivitas yang tinggi. Pertemuan pertama antara. Excelsior dan Tiong Hwa berakhir dengan skor 7-2. Excelsior akan di final. Pertandingan kedua adalah antara Persibaja dan HBS adalah menjadi sebuah kompetisi baik dalam kualitas antusias, 22 pemain bersemangat sampai menit terakhir, Terlihat selalu indah adil dan sporty. Babak pertama tanpa gol. Pada babak kedua HBS tak henti-hentinya mereka menyerbu ke gawang Persibaja, kiper Persibaja terlalu kuat. Akhirnya HBS menang dan akan melawan Excelsior di final. Wasit Risakotta dan Pangeran, cakap dibantu oleh hakim garis Carter dan Limahelu. Kami melihat ada seremoni. Di tribun telah dipasang tiang, kemudian Amboneesche orkestra alat musik tiup mengiringi Kimigayo, bendera Nippon dikibarkan naik sangat lambat dalam upacara. Sebelumnya kickoff pada pertandingan pertama dilakukan oleh Burgemesteer (Walikota) Radjamin (Nasution) dan pada pertandingan yang kedua dilakukan oleh Komisaris Polisi Nippon. Pada pertandingan besok sore antara Tiong Hwa dan Persibaja dan kemudian antar pemenang yakni Excelsior dan HBS. Untuk pemenang akan disedikan piala dari Soerabajasche Middenstands Vereeniging

Inilah gambaran umum kota Surabaya. Keberagaman tetap terjaga. Meski semua kini tengah berada di bawah superior Asia, Nippon, tetapi Belanda, Tonghoa dan pribumi masih bisa bekerjasama, paling tidak dalam urusan sepakbola. Yang berbeda sekarang, Radjamin Nasution adalah petinggi kota, seorang pribumi, seorang yang sudah menjadi ‘arek Soerabaija’, seorang yang kenal baik kota ini sejak lama. Uniknya, Radjamin Nasution berani menegor walikota Fuchter (di era Belanda), tetapi kini Fuchter tidak diketahui lagi entah dimana. Dengan kata lain, Radjamin Nasution menang telak dua kosong dengan Fuchter. Jika dulu Fuchter menomorsatukan klub-klub Belanda, kini Radjamin Nasution menomorsatukan Persibaja (namanya kelak menjadi Persebaya).

Dr. Radjamin Nasution Masih Walikota Surabaya pada Masa Agresi Militer Belanda, Bahu Membahu dengan Anaknya Dr. Irsan Radjamin dan Ismail Harahap (seorang apoteker yang kelak dikenal sebagai ayah dari Ucok AKA, arek soerabaija, rocker terkenal

Sepakbola Soerabaija sudah lama mati. Pertandingan antar tiga ras (pribumi, Tionghoa dan Belanda) pada bulan April 1942 adalah pertandingan sepakbola yang terakhir dilaporkan di Surabaya. Jepang tidak suka sepakbola (beda dengan Belanda yang ‘gibol’). Adanya pertandingan sepakbola pada perayaan Tenno Haika tersebut boleh jadi hanya inisiatif Radjamin Nasution yang juga gibol. Jepang lebih menyukai bela diri, untuk bela Negara dan bela bangsa. Pribumi tidak berkutik, ternyata Jepang lebih sadis dari Belanda. Pribumi sangat lemah, Jepang sangat digdaya, tidak hanya menguasai Indonesia tetapi hampir seluruh Asia Timur dan Asia Tenggara.

Namun itu tidak terlalu lama. Tiba-tiba Hiroshima dan Nagasaki, bulan Agustus 1945 di bom, kemudian Jepang menyerah kepada sekutu. Pada saat tersebut Indonesia juga memproklamasikan kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945. Takahashi Ichiro kemudian menyerahkan sepenuhnya kepala pemerintahan Kota Surabaya kepada wakilnya, Radjamin Nasution. Fungsi pemerintahan kota ini dijalankan oleh Radjamin Nasution. Terhitung sejak Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945 itu, Radjamin Nasution ditetapkan Pemerintah RI di Jakarta (nama Batavia hilang) sebagai Walikota Surabaya.

Akan tetapi Belanda nongol lagi lalu melakukan tindakan Agresi Militer. Pertempuran Surabaya November meletus antara Sekutu dan Republik. Masa berkantor Radjamin di Balai Kota diungsikan ke luar kota. Sekutu menduduki kota Surabaya. Sementara pasukan sekutu/Belanda terus mengejar pasukan/laskar republik, di belakangnya di Surabaya dibentuk kembali Pemerintahan Belanda yang dipimpin Mr.CJG. Becht–Kepala Urusan Haminte. Sementara pemerintahan walikota yang dipimpin Radjamin Nasution tetap berfungsi di depan (di belakang garis pertempuran) pasukan/lascar republik yang terus digempur pasukan Belanda. Dalam hal ini, satu pertempuran dengan dua pasukan (Belanda vs RI) dan dua pemerintahan (Radjamin vs Becht).

Namun dalam perkembangannnya, Belanda mendelegasikan urusan pemerintahan ini ke orang-orang Indonesia yang boleh jadi dibilang pro-Belanda. Walikota yang menggantikan Becht adalah Indra Koesoema. Sementara Radjamin Nasution, Walikota pro-Republik yang masih berada di pengasingan (di luar kota Surabaya). Selanjutnya, Indra Koesoema digantikan oleh Soerjadi dari tahun 1946 hingga1950. Periode Walikota Soejadi ini terjadi ketika Negara Jawa Timur dibentuk Negara Jawa Timur adalah sebuah wilayah bentukan Belanda yang didirikan pada tanggal 26 November 1948 dan pada tanggal 9 Maret 1950 bergabung kembali dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Radjamin, Walikota Republik dan perangkat pemerintahannnya tetap berada di pengasingan (di daerah pengungsian).

Nieuwe courant, 17-09-1946: ‘Dewan baru asosiasi sepakbola Surabaya (SVB yang kini bernama) KNBSB pada pertemuan pada hari Minggu pagi. Pengurus baru Asosiasi Sepakbola Soerabaia (Belanda) terdiri sebagai berikut. Ketua: Dr. A. Nawir, Wakil Ketua: Mr. KLTH. Crinc le Roy, Secr. Manajer Kompetisi: PJ van Hooydonk, Bendahara: A L. Horst dan para komisaris: AJ. Bronze, J. Hunter, JS. Tentua, CD Ferdinandus. dan JF. Raalten’.

Selama di pengungsian, Radjamin tetap menjaga korpsnya dan bertindak sebagaimana seharusnya menjadi walikota (pimpinan). Semuanya ikut membantu perjuangan. Meski berada di pengasingan, kepemimpinan Radjamin Nasution terbilang baik. Radjamin sangat memperhatikan pejabat dan karyawannya. Radjamin selama perang tetap menganggap Kota Surabaya sebagai wilayahnya, hanya saja Radjamin bolak-balik antara Surabaya dengan Mojokerto dan Tulungagung. Hal ini karena pusat pemerintahan kota sudah dipindahkan ke Mojokerto dan Tulungagung, sementara pasukan republik masih berjuang di Surabaya.

Di tengah pertempuran masih teridentifikasi satu petarung. Nama kecilnya AFP Siregar (Abdul Firman Parlindungan Siregar). Pada tahun 1935 A.F.P Siregar melanjutkan pendidikan HBS di Medan. Pada tahun 1936 A.F.P Siregar dipromsikan dari kelas empat ke kelas lima afdeling-B (jurusan IPA sekarang). Pada tahun 1937, A.F.P. Siregar dinyatakan lulus ujian akhir (eindexamen). Setelah lulus sekolah HBS, A.F.P. Siregar gelar Mangaradja Onggang Parlindoengan berangkat ke Batavia untuk selanjutnya melanjutkan pendidikan tinggi ke luar negeri. Dari Batavia, yang terdaftar di dalam manifest M.O. Parlindoengan dengan menumpang kapal Indrapoera berangkat dari Batavia tanggal 28 Juli 1937 menuju Marseile (Prancis). Dari kota pelabuhan ini, Parlindoengan melanjutkan perjalanan dengan kereta api ke Jerman.

Setelah lulus dan memperoleh gelar akademik insinyur (Ir), A.F.P. Siregar gelar Mangaradja Onggang Parlindoengan pulang ke tanah air. Sesampainya di tanah air, situasi berubah dengan adanya pendudukan oleh militer Jepang. Keahlian Parlindoengan dibutuhkan oleh militer Jepang. Setelah Hirosima dan Nagasaki dibom oleh sekutu, Jepang bertekuk lutut dan kesempatan ini diambil oleh Inggris/Belanda untuk kembali ke Nederlansche Indie. Parlindoengan mengambil peran dalam melawan agresi militer Belanda khususnya di Surabaya, Jawa Timur (Peristiwa 10 November, 1945). Keahliannya di bidang kimia diminta negara untuk mengambil peran dalam pertempuran di Surabaya dan Jawa Timur. Boleh jadi waktu itu, hanya Mangaradja Onggang Parlindoengan, orang pribumi yang kompeten di bidang persenjataan khususnya teknik pembuatan bom. Siapa yang memintanya? Amir Sjarifoedddin, Menteri Penerangan dan juga Menteri Pertahanan RI.

Oleh karena itu, sembari melaksanakan tatakelola pemerintahan, Radjamin juga sibuk menghimpun kekuatan dan mendukung perlawanan terhadap gempuran sekutu ke pihak republik. Radjamin bersama pemuda dan karyawan yang masih bertahan di Surabaya, bahu membahu memfasilitasi keperluan pejuang di medan pertempuran. Dalam hal inilah peran pemerintahan (di luar kota) berfungsi dalam pertempuran (di dalam kota).

Radjamin sendiri dalam situasi dan kondisi perang ini menjadi berfungsi ganda. Selain mengkoordinasikan fungsi pemerintahan di belakang dalam membantu pejuang di garis depan, Radjamin juga mengambil alih peran kepala Dinas Kesehatan, seakan dia yang menjadi Kadis Kesehatan, sedangkan pejabatnya seakan menjadi wakil. Radjamin yang seorang dokter Stovia dan lebih senior dari dokter-dokter lainnya tentu tahu apa yang harus dilakukan ketika save and rescue dibutuhkan para pejuang yang terluka dalam pertempuran. Inilah kelebihan lain Radjamin sebagai walikota yang berlatar belakang dokter. Untuk urusan logistik obat ditangani oleh Ismail Harahap.

Siapa itu Ismail Harahap? Ismail Harahap adalah generasi kedua anak-anak Padang Sidempuan (setelah Radjamin Nasution dan kawan-kawan). Pada era Radjamin Nasution sekolah yang ada hanya terbatas pada STOVIA, Rechts School (di Batavia) dan Veeartsen School dan Landbowschool (di Buitenzorg). Pada era Ismail Harahap, berbagai jenis sekolah dibuka di Batavia seperti sekolah Handelschool (ekonomi),Douane school (sekolah bea dan cukai), dan sebagainya. Ketika sekolah apoteker (artsenubereidkunst) dibuka pertama kali tahun 1938, Ismail Harahap termasuk yang mendaftar. Pada tahun 1940 dari 51 siswa yang mengikuti ujian akhir, hanya 17 siswa yang lulus dua diantaranya berasal dari Padang Sidempuan yang bernama Pandapotan Siregar dan Ismail Harahap. Ismail Harahap dan kawan-kawan yang lulus diakui sebagai asisten apoteker (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 12-08-1940).[yang satu kloter dari Ismail Harahap, dari Padang Sidempuan berangkat studi ke Batavia adalah Kalisati Siregar, mengambil studi perdagangan--Kalisati Siregar kelak dikenal sebagai ayah dari Hariman Siregar (tokoh penting Malari 1974 di Jakarta)].

Ismail Harahap setelah bekerja di Batavia beberapa lama, tahun 1941 Ismail Harahap ditempatkan pemerintah di Surabaya. Ismail Harahap tampaknya sumringah di kota ini, karena di Surabaya sudah banyak anak-anak Padang Sidempuan, apalagi tokoh senior Radjamin Nasution sudah sejak lama terkenal di Surabaya. Lalu, ketika, tahun 1942 terjadi pendudukan Jepang di Surabaya, Ismail Harahap tetap berada di Surabaya, malahan ketika Radjamin Nasution diangkat menjadi walikota oleh militer Jepang, Ismail Harahap justru direkrut untuk menjadi kepala apoteker kota yang sedang kosong yang ditinggalkan oleh orang-orang Belanda (saat itu jumlah apoteker di Indonesia masih sangat sedikit, dan Ismail Harahap satu-satunya apoteker pribumi yang berada di Surabaya).

Pada waktu Belanda kembali membonceng sekutu (1945-1949), Ismail Harahap termasuk yang ikut mengungsi ke luar kota (Mojokerto dan Tulungagng), dibawah pimpinan Radjamin Nasution (walikota Surabaya). Selama perang, Ismail Harahap menjadi kepala logistik obat-obataan dari pihak pemerintahan di pengungsian. Sementara Dr. Irsan (anak Dr. Radjamin Nasution) menjadi kepala kesehatan militer (TNI) dengan pangkat terakhir Letkol. Setelah perang usai (pengakuan kedaulatan RI), Ismail Harahap kembali ke Surabaya, tidak menjadi pejabat tetapi lebih memilih untuk membuka usaha apotik yang diberi nama Apotik Kali Asin. Namun karena republik Indonesia ingin membuka sekolah farmasi di Surabaya, maka Ismail Harahap diminta untuk menjadi pengajar di sekolah tersebut. Kepala sekolah yang ditunjuk adalah Dr. GP Parijs (Belanda), Drs. Gouw Soen Hok, Yap Tjiong Ing dan Tjoa Siok Tjong. Sekolah farmasi Surabaya tersebut, wisuda pertama pada tanggal 27 Juni 1954 (lihat De vrije pers ochtendbulletin, 29-06-1954).

Ismail Harahap yang lahir di Padang Sidempuan, beristri seorang wanita cantik yang berdarah Prancis adalah ayah dari Andalas Harahap gelar Datoe Oloan atau lebih dikenal sebagai Ucok AKA dengan grup bandnya AKA Group (singkatan dari Apotik Kali Asin: Apotik perjuangan).

Agresi Militer Belanda selesai dan kemenangan ada di pihak Indonesia, serta adanya pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Belanda. Tapi, tak dinyana situasi dan kondisi yang dihadapi Radjamin berubah. Konfigurasi pemerintahan mengalami distorsi. Ketika NKRI berproses (pasca pengakuan kedaulatan), sesungguhnya terdapat dua tatakelola pemerintahan, yakni: pemerintahan republik (anti Belanda) yang umumnya berada di pengungsian, dan pemerintahan federal (bentukan Belanda) di wilayah yang sudah dikuasai oleh militer Belanda.

Untuk wilayah Jawa Timur, Belanda membidani berdirinya Negara Jawa Timur, sedangkan lawannya pemerintahan republik berada di luar. Pemerintahan Kota Surabaya bermarkas di Mojokerto dan Tulungagung. Di Jawa, daerah yang tidak membentuk daerah Federal adalah Jawa Tengah, termasuk di dalamnya Yogyakarta. Untuk wilayah Sumatra Utara, berdiri negara federal (bentukan Belanda) bernama Negara Sumatra Timur yang merupakan wilayah melayu yang berpusat di Medan, sedangkan pemerintahan republik ikut mengungsi ketika pasukan Belanda mengempur pasukan republik dan mengungsi ke Pematang Siantar dan Tapanuli (di Jawa Timur mengungsi ke Mojokerto dan Tulungagung).

Daerah Panyabungan, di afd, Padang Sidempuamn (kini Tapanuli Selatan), kampung halaman Radjamin Nasoetion adalah markas terakhir Bupati Tapanuli Selatan (setelah berpindah-pindah dari ibukota Padang Sidempuan waktu itu) yang tidak pernah tersentuh oleh Belanda hingga akhirnya ada pengakuan kedaulatan RI. Daerah kampong Radjamin Nasution ini tetap 100 persen republic hingga tiba waktunya pengakuan kedaulatan RI. Dalam perang melawan Belanda di kampong Radjamin Nasution terjadi dua hal: aksi bumi hangus dan semua orang tetap setia republik alias 100 persen republic, serta tidak ada yang membelot alias penghianat, sebagaimana Radjamin Nasution, Ismail Harahap dan MO Parlindungan Siregar di Surabaya dan sekitarnya. Mereka berasal dari kota yang sama: Padang Sidempuan, kota yang cantik di masa lampau menjadi rata dengan tanah karena Padang Sidempuan Lautan Api.

De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 04-01-1949 (Pemurnian Sumatera): ‘Dari sumber-sumber resmi bertanggal 1 ini dikomunikasikan: Di pulau-pulau lepas pantai Sumatera di Selat Malaka berlangsung pembersihan. Daerah Sawahloentoh dan Teloekbetoeng pasukan Belanda telah menduduki tempat ini. Sumber resmi yang lain melaporkan bahwa di Sumatera, Padang Sidempoean (tenggara dari Sibolga), Pagar-Alam (barat daya Lahat) dan Loeboek Linggau (barat laut Lahat) TNI telah dimurnikan (didesak keluar kota). Di Yogya sebanyak 169 mantan perwira TNI telah melaporkan diri (penghianat republik)’.

Leeuwarder courant : hoofdblad van Friesland, 07-01-1949: ‘..Di Padang Sidempoean kantor-kantor pemerintah dan juga markas dari TNI dibakar. Kondisi penduduk di bagian selatan Tapanoeli tampaknya kurang menguntungkan daripada di bagian utara’’

Het nieuwsblad voor Sumatra, 11-01-1949: ‘di Tapanoeli TNI dan laskar republik telah mundur ke gunung..di sini tidak ada kebijakan bumi hangus yang diterapkan kecuali di Padang Sidempoean, Selatan Tapanoeli. Penduduk diminta meninggalkan kota, diancam dengan pembalasan jika mereka bekerja sama dengan Belanda’.

De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 04-03-1949 (Status Tapanoeli): ‘Padang Sidempoean yang dimiliki Indonesia yang menonjol di Selatan Tapanoeli mengadakan pertemuan untuk membahas status masa depan Tapanoeli. Dengan suara bulat telah menyatakan keinginan untuk Tapanoeli untuk meminta status “Darah Istimewa”. Kemudian, panitia kerja ditunjuk untuk studi lebih lanjut dan melakukan persiapan. Demikian pula, dalam Taroetoeng pertemuan Indonesia terkemuka dari Utara Tapanoeli, dimana sebagian dari mereka yang hadir menyatakan diri untuk pondasi dari gatra Tapanoeli, sementara yang lain berpendapat untuk bergabung dengan Negara Soematera Timur. Akhirnya, pada pertemuan ini sejumlah orang Indonesia juga memberikan yang menyarankan bahwa Tapanoeli akan tetap republik’.

Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 22-03-1949 (Status Tapanoeli): ‘’Komite Status Tapanoeli secara keseluruhan melakukan pertemuan di Sibolga untuk menyetujui status sementara dari Tapanoeli selama masa transisi sebelum pembentukan negara independen dalam RIS. Sebuah resolusi yang ditandatangani oleh Presiden Mr. Abbas dan Sekretaris FL Tobing diadopsi yang mengatakan bahwa Tapanoeli dianggap sebagai Daerah Istimewa dengan pemerintahan sendiri, yang akan langsung di bawah pemerintah RIS atau pemerintah sebelumnya. Selain itu, keinginan diungkapkan, bagian untuk mengambil bagian dalam semua diskusi mengenai pembentukan RIS. Kata Panitia ‘Status seluruh Tapanoeli’ dibentuk oleh penggabungan dari Komite Status Tapanoeli dari Sibolga, Utara dan Selatan Tapanoeli Tapanoeli (Padang Sidempoean)’

Pasca kedaulatan Republik Indonesia (setelah Desember 1949), sepakbola Indonesia mulai bergairah kembali, dilakukan pengaturan dan berbagai kompetisi mulai berjalan (pada basis perserikatan). PSSI yang katanya dibentuk tanggal 19 April 1930 di Jogjakarta, pada tahun 1950 dikonsolidasikan kembali. Tiba saatnya semua orang berbicara sesukanya tentang sepakbola. Sepakbola Indonesia kemudian dilanjutkan, melanjutkan fondasi sepakbola yang sudah mulai terbentuk tahun 1907 ketika STOVIA Voetbal Club berkunjung ke Medan untuk melakukan pertandingan persahabatan dengan Tapanoeli Voetbal Club.

Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 09-03-1950 melaporkan bahwa Gubernur Jawa Timur, telah menunjuk Dul Arnowo sebagai walikota yang yang juga berdasarkan keputusan Gubernur Militer. Penunjukan ini telah dibuat sambil menunggu pengangkatan walikota oleh Pemerintah RI. Untuk masalah pembubaran dan pengunduran diri Dewan Kota Surabaya tidak ada. Untuk itu, pemerintah baru (walikota) secepat mungkin memilih anggota dewan dengan demokratis. Sementara itu dalam koran ini Radjamin Nasution, mengatakan tidak mengakui Surat Keputusan untuk menunjuk Dul Arnowo. Radjamin tetap kukuh, bahwa ia diangkat oleh Pemerintah Republik pada tahun 1945 sebagai walikota dan tidak pernah dipecat. Juga Radjamin telah mengirimkan telegram kepada pemerintah Republik dimana ia telah meminta persetujuan keputusannya untuk mengambil tempat sah Walikota Surabaya lagi.

Java Bode adalah surat kabar legendaris. Surat kabar yang terbit di Semarang. Surat kabar berbahasa Belanda ini terbit pertama kali tahun 1852. Surat kabar ini terbilang yang tinggi tirasnya di jamannya. Pada tahun 1924 Parada Harahap menulis di koran ini untuk menanggapi perseteruannya dengan editor Soerabaja Handelsbald, Karel Wijbrand dalam polemik kebangsaan. Surat kabar ini pernah diakuisi oleh pengusaha koran berdarah Tionghoa tahun 1920an dan kemudian diakuisisi lagi oleh investor Belanda. Saat pendudukan Jepang koran ini berhenti (ditutup) tetapi di masa agresi terbit kembali bahkan hingga pasca pengakuan kedaulatan. Oleh karena adanya nasionalisasi pada awal tahun 1950an, Koran ini tetap terbit tapi sahanya dibeli oleh investor pribumi yakni Parada Harahap pada tahun 1952. Dengan kata lain setelah satu abad terbit, Parada Harahap baru bisa memiliki koran legendaries ini. Pada tahun 1931 Parada Harahap memiliki dua edisi Belanda dari tujuh koran yang dimiliknya

Pada masa transisi ini, sisa-sisa kehidupan sepakbola Indonesia di masa sebelumnya (era Belanda, pendudukan Jepang dan masa agresi militer Belanda) masih terlihat. Para pendahulu (pionir), seperti Radjamin Nasution dan Parada Harahap mulai pension dan istirahat. Perjuangan sudah selesai, kemerdekaan sudah direbut dan pengakuan kedaulatan RI sudah ditegakkan. Meski begitu, Radjamin Nasution masih bemain sepakbola.

De vrije pers: ochtendbulletin, 24-04-1952: ‘Surabjase Kantoor Voetbalbond (Persatuan Sepakbola Indonesia Surabaya) menyelenggarakan pertandingan sepakbola antara Tim PAL dan Tim Polisi. Juga antara Tim Kesehatan dan Tim Borsumij. Tim Kesehatan yang juga termasuk Dr. Radjamin (Nasution) berhasil mengalahkan lawan dengan skor 3-2. Pertandingan berjalan sangat bagus dan sporty. Ketika Radjamin ditanyakan, jawabnya: ‘permainan sepakbola masih baik, belum lupa jauh’.

Fondasi sepakbola Indonesia sudah dirintis dan ditegakkan baik oleh Parada Harahap maupun Radjamin Nasution. Tinggal bagaimana untuk melanjutkannya. Di Surabaya, pembinaan sepakbola diteruskan anak Radjamin Nasution yakni Letkol Dr. Irsan Radjamin Nasution.

De vrije pers: ochtendbulletin, 25-08-1952: ‘SKVB atau Persatuan Sepakbola Indonesia Surabaya melakukan acara pertandingan sepakbola untuk merayakan ulang tahun ke-25 yang sangat meriah. Para pengurus selama ini masih bermain sekali dua kali seminggu bermain sepakbola untuk mengatasi kelelahan di belakang meja. Sudah selama seperempat abad sukacita diberikan hiburan di lapangan sepakbola. Untuk penyelenggaran ini disponsori Maclaijn Watson en Factory. Setelah pertandingan, malamnya dilakukan resepsi, pidato dengan disuguhi tarian dan musik. Ketua SKVB, Dr. Irsan Radjamin (Nasution) menceritakan tentang sejarah SKVB dan sekaligus memberikan hadiah kepada pemenang turnamen ulang tahun. Disebutkannya SKVB ini pada dasarnya komplementer antar Vereeniging. The SKVB sendiri didirikan pada tanggal 30 Juni 1927, tetapi dengan berbagai keadaan bond (perserikatan spakbola) ini selama 26 tahun saling diperebutkan. Organisasi ini diklaim Moerdijat dengan menyebut sebagai PSSI, The Boen Hwan menyebut sebagai Persibaya en Tionghoa, Mr Bos menyebut sebagai Aniem. Sebelum Perang Dunia II ada 12 vereeniging sepakbola yang menjadi anggota SKVB. Setelah perang, SKVB dibangun kembali yang saat itu beranggotaka 24 serikat yang berafiliasi dengan total 36 tim. Pcrsibaja dan SKVB bersama merupakan organisasi sepakbola terbesar di Indonesia’.

Letkol Irsan Radjamin Nasution adalah pahlawan perang Surabaya (bersama ayahnya: Radjamin Nasution, sebagai walikota). Letkol Irsan Radjamin Nasution kemudian menjadi Kepala Staf bidang Kesehatan di Kodam Brawijaya.

Masih dalam perang Surabaya ada juga Letkol MO Parlindungan, insiyur kimia ahli bom, alumni sekolah teknik Belanda/Swiss/Jerman yang kemudian ditarik ke Mabes TNI dan tahun 1952 ditugaskan menjadi Kepala Perusahaan Mesiu dan Senjata di Bandung (kini menjadi PINDAD Bandung). AFP Siregar gelar Mangaradja Onggang Parlindungan adalah penulis buku kontroversial: Tuanku Rao. Di Bandung tentu saja ada Kolonel Abdul Haris Nasution yang kemudian menjadi Komandan Kodam Siliwangi (kini digelari Jenderal Besar). Di Yogyakarta ada Kolonel Zulkifli Lubis, alumni AMS Yogyakarta, yang diangkat menjadi Kepala Intelijen RI yang pertama. Di Lampung ada Letkol Gele Harun, anak Dr. Harun Harun Al Rasjid Nasution (alumni Docter Djawa School) yang juga saudara Dr. Ida Loemongga, PhD (Doktor perempuan Indonesia pertama). Mr. Gele Harun, alumni Universiteit Leiden menjadi Residen pertama Lampung. Di Pekanbaru masih ada yakni Letkol Kaharuddin Nasution (kelak menjadi Gubernur Sumatra Utara). Last but not least: Kapten Marah Halim Harahap di Medan (yang tahun 1967 ketika berpangkat kolonel menjadi Gubernur Sumatra Utara, pencetus Turnamen Sepakbola Marah Halim Cup). Lantas siapa yang berada di Padang Sidempuan ketika agresi militer Belanda yang kedua? Dia adalah Letkol Ibrahim Adji yang dibantu Mayor Maraden Panggabean. Ibrahim Adji adalah eks komandan militer dalam pertempuran di Depok (masih berpangkat kapten).

Singkat cerita: Dalam kasus Soekarno vs Mochtar Lubis, Parada Harahap sudah mulai menua Parada Harahap abstein, tidak intervensi dan tidak melakukan apa, mungkin karena keduanya adalah adik-adiknya yang pernah dibimbingnya. Inilah kearifan Parada Harahap, musuhnya hanya satu: Belanda. Demikianlah fakta yang sebenarnya. Segala sesuatunya tidak datang ujuk-ujuk (secara random), boleh jadi by design (secara systematic) oleh sang kreator: Parada Harahap. Selanjutnya estafet diserahkan kepada sang creator baru: Adam Malik.

Akhirnya Soekarno tumbang setelah era politik Ganyang Malaysia dan Peristiwa G 30 S PKI. Menariknya, dalam peralihan dari orde lama (Soekarno) ke orde baru (Soeharto) ada tiga tokoh penting yang menjadi arisitek Orde Baru, yakni: Soeharto, Sultan Hamengkoeboewono IX, dan Adam Malik (Batubara). Trio baru ini seakan mengingatkan masa peralihan dari era kolonial ke era kemerdakaan yang mana tiga tokoh penting yang disebut The Three Founding Father: Soekarno, M. Hatta dan Amir Sjarifoedin (Harahap). Amir dan Adam, dua tokoh asal Padang Sidempoean dalam dua era yang berbeda dalam menyusun arsitektur NKRI. Jika Dja Endar Moeda, Soetan Casajangan dan Parada Harahap adalah trio pelopor NKRI, maka trio Soekarno. Hatta dan Amir Sjarifoedin adalah penegak NKRI, lantas trio baru: Adam Malik, Soeharto, Hamengkoeboewono adalah penerus NKRI.

Diantara kreator ada korektor: Di Era Belanda satu korektor penting adalah Dja Endar Moeda. Setelah itu muncul kreator: Parada Harahap dengan korektor Mochtar Lubis. Generasi selanjutnya, kreator Adam Malik dengan korekter Hariman Siregar (yang kini juga tetap membina sepakbola di Jakarta). Mereka semua satu garis continuum from Padang Sidempuan. Apakah Hariman Siregar ingin mengoreksi era Jokowi? Pikir-pikir dulu: ada dua tokoh penting disitu: Darmin Nasution dan Rizal Ramli. Darmin Nasution (dongan sahuta) from Padang Sidempuan, dan Rizal Ramli (teman seperjuangan) di era Malari, 1974 (Hariman Siregar, Ketua Dewan Mahasiswa UI, Rizal Ramli, Ketua Dewan Mahasiswa ITB). 

Penutup: Srikandi-Srikandi Padang Sidempuan dalam Dunia Sepakbola

Ketika Medan masih kampung, Padang Sidempuan sudah kotaRadjamin Nasution adalah alumni terakhir dari ELS Padang Sidempuan (ELS di pindahkan ke Sibolga). Kota Padang Sidempuan. Ibukota afd. Mandheling en Ankola pada tahun 1870 merupakan kota terbesar di Sumatra Utara (Tapanoeli en Oostkust Sumatra). Di kota inilah kakek Amir Sjarifoedin (Soetan Goenoeng Toea) pada tahun 1870 menjabat sebagai schrijver (penulis) di kantor Asisten Residen Mandheling en Ankola). Sejak itu muncul generasi-generasi terpelajar, utamanya lulusan Kweekschool Padang Sidempuan, seperti Dja Endar Moeda dan Soetan Casajangan. Mereka merantau jauh dengan membawa visi nasional dan memperjuangkannya (yang menjadi cikal bakal NKRI). Guru mereka yang terkenal adalah Charles Adriaan van Ophuijsen (penulis tatabahasa Melayu yang menjadi cikal bakal tatabahasa Indonesia). [Peta: Ketika Medan masih kampung (1973), Padang Sidempuan sudah kota (1877)].

Gagasan para pelopor itu diteruskan oleh Parada Harahap (di Batavia), Radjamin Nasution (di Surabaya) dan Abdulah Lubis (di Medan). Ketika fisik mereka mulai menua, diteruskan lagi, antara lain oleh Amir Sjarifoedin, Adam Malik, Soetan Goenoeng Moelia, PhD dan Mochtar Lubis. Ke dalam barisan ini termasuk Kol. Zulkifli Lubis, Dr. Parlindungan Lubis dan Mr. Masdoelhak, PhD (di Yogyakarta), Sakti Alamsjah dan Kol. Abdul Haris (di Bandung), Letkol. Dr. Irsan Radjamin, Letkol Ir. MO Parlindungan dan Ismail Harahap, Apt (di Surabaya), Mr. Gele Harun Nasution (di Lampung), Mr. Egon Nasution (di Padang) dan Dr. Anwar Nasution dkk (di Bogor). Anwar Nasution adalah ayah dari Andi Hakim Nasution (rector IPB 1978-1987). Tentu saja mereka yang berada di Medan: Mr. SM Amin, Dr. Gindo Siregar, Mr. Abdul Hakim, Mr. GB Josua, Dr. Djabangoen (Ketua Front Medan). [Peta: Surabaya tahun 1867 masih kota kecil]. Kota Padang Sidempuan terbilang kota yang telah memiliki peradaban modern pada fase awal kesadaran berbangsa.

Instrumen utama kesadaran berbangsa dan ‘oentoek kemadjoean bangsa serta kemerdekaan Indonesia adalah organisasi-organisasi yang memiliki motto: ‘Dari Pribumi Oleh Pribumi Untuk Pribumi’. Organisasi itu terdapat di dua jalur. Pertama adalah jalur kemasyarakatan: Organisasi pertama Indonesia yang didirikan adalah Medan Perdamaian yang didirikan oleh Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda (1900 di Padang), kemudian Sumatranen Bond didirikan oleh Dr. Sorip Tagor (1917 di Leiden), lalu Bataksch Bond oleh Dr. Abdul Rasjid Siregar (1919 di Batavia) dan kemudian supra organisasi, suatu organisasi yang menyatukan semua organisasi yang dikenal sebagaiPermofakatan Persatoen Perhimpunan Kemasyarakatan Indonesia (PPPKI) yang didirikan oleh Parada Harahap pada tahun 1927 yang menjadi pelindung (panitia) Kongres Pemuda 1928 (dimana bendaharanya adalah Amir Sjarifoedin).

Kedua adalah jalur kemahasiwaan: Organisasi pertama mahasiswa Indonesia adalah Indisch Vereeniging (Perhimpunan Pelajar Hindia Belanda) yang didirikan oleh Rasdjioen Harahap gelar Soetan Casajangan di Leiden tahun 1908. Organisasi ini kemudian namanya diubah menjadi Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) tahun 1924, dimana ketua PPI yang terakhir (198-1941) adalah Parlindoengan Lubis (yang pernah ditawan NAZI di Jerman). Organisasi mahasiswa berikutnya adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang didirikan oleh Lafran Pane pada tahun 1947 di Yogyakarta. Sementara itu pada tahun yang sama (1947) didirikan Persatuan Mahasiswa Universiteit van Indonesia (PMUI) oleh Ida Nasution dan G. Harahap di Jakarta. HMI adalah organisasi mahasiswa di luar kampus, sedangkan PMUI adalah organisasi mahasiswa di dalam kampus (yang meliputi fakultas-fakultas di Jakarta, Bogor, Bandung. Surabaya dan Makassar). Dalam pasca pengakuan kedaulatan, fakultas-fakultas tersebut menjadi Universitas/Institut yang mana organisasi mahasiswa PMUI berubah menjadi Dewan Mahasiswa (DEMA) di masing-masing Universitas/Institut. Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DEMA UI) yang terakhir tahun 1973 adalah Hariman Siregar.  

Semua organisasi-organisasi tersebut telah dengan sadar didirikan oleh putra-putri terbaik Indonesia yang kebetulan lahir dari kampung yang sama di afdeeling (kabupaten) Padang Sidempuan, Residentie Tapanoeli—suatu kabupaten yang 100 persen penduduknya republiken. 

Last but not least. Putri-putri Padang Sidempuan juga ternyata berpartisipasi dalam dunia sepakbola Indonesia. Mereka memang bukan pemain, karena belum ada sepakbola wanita, melainkan sebagai pengurus organisasi sepakbola. Di Medan, pengurus klub sepakbola Sahata VC yang didirikan tahun 1935 terdiri dari Ketua: Abdul Hakim (Wethouder Gemeeteraad) dengan sekretaris Albert Siregar dan bendahara Ibu Mariamsjah Loebis (lihat De Sumatra post, 31-10-1935). Klub Sahata saat itu sangat disegani di Medan, tidak hanya klub-klub pribumi tetapi juga klub-klub Eropa/Belanda (ETI) dimana salah satu pemain topnya Kamaruddin Panggabean.

Di Surabaya, selama ketidakhadiran Radjamin Nasution dalam pembinaan sepakbola pribumi karena urusan politik (sebagai anggota Volksraad di Batavia) didelegasikan kepada istrinya (sekitar tahun 1938). Ini menunjukkan bahwa putri-putri Padang Sidempuan juga peduli terhadap sepakbola.

Putri-putri Padang Sidempuan juga terbilang pionir dalam pendidikan dan organisasi. Dr. Ida Loemongga, PhD adalah dokter bergelar Doktor pertama di negeri ini. Ida Loemongga Haroen Al Rasjid (cucu Dja Endar Moeda) meraih PhD ini di Universiteit Amsterdam, 1932. Ida memulai pendidikan di Prins Hendrik School, afdeeling HBS (pendidikan menengah) di Batavia tahun 1918 dan kemudian pada tahun 1923 langsung melanjutkan pendidikan ke Negeri Belanda. Ida Loemongga baru kembali ke tanah air setelah 10 tahun setelah menyelesaikan tingkat sarja, master dan doktor.

Seorang lagi putri Padang Sidempuan bernama Ida Nasution. Ida Nasution adalah mahasiswa angkatan pertama Fakultas Sastra, Universitas Indonesia (Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte, Universiteit van Indonesie). Di dalam kampus, Ida Nasoetion juga aktif berjuang dengan caranya sendiri. Ida Nasoetion (departemen sastra) dan G. Harahap (dari departemen jurnalistik) menggagas didirikannnya persatuan mahasiswa Indonesia yang diresmikan tanggal 20 November 1947 dengan nama Perhimpunan Mahasiswa Universitas Indonesia (PMUI) yang kemudian menjadi cikal bakal Dewan Mahasiswa. Ida termasuk diantara empat pemuda yang menonjol mewakili entitas sastrawan muda Indonesia kala itu: Chairil Anwar (penyair), Idroes (prosa), Ida Nasoetion (esai) dan Usmar Ismail (drama). Ida Nasoetion lahir tahun 1922 dan mengikuti pendidikan dasar Eropa (ELS) di Sibolga. Pada tahun 1934 Ida Nasoetion didaftarkan di Koningin Wilhelmina School. Di sekolah elit Belanda ini Ida Nasoetion menempuh pendidikan enam tahun (SMP dan SMA) dan kemudian melanjutkan ke pendidikan tinggi.

Tentu saja masih ada seperti putri-putri dari tokoh yang dibicarakan dalam artikel ini. Putri Radjamin Nasution adalah seorang dokter lulusan Genekundeschool (suksesi STOVIA) yang melaporkan pemboman Jepang di Tarempa pada akhir tahun 1941 yang mana suratnya kepada ayahnya dipublikasikan di surat kabar. Putri Radjamin Nasution yang lain juga menjadi dokter dan berdedikasi sebagai guru besar di fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Putri Radjamin Nasution bernama Sharareza lulus dari fakultas hukum Universitas Indonesia tahun 1957. Tahun sebelumnya putrid Parada Harahap bernama Aida Dalkit lulus dari fakultas yang sama tahun 1956. Mr. Aida Dalkit adalah perempuan ahli hokum pertama dari Tanah Batak.

Itu semua menunjukkan bahwa gerakan emansipasi di Tanah Batak sudah ada sejak lama (yang dapat ditelusuri dalam core culture masyarakat Batak: Dalihan Na Tolu: Kahanggi, Mora dan Anak Boru). Kedudukan perempuan yang tinggi di Tanah Batak sudah dianalisis oleh Masdoelhak Nasoetion dalam desertasinya berjudul: ‘De plaats van de vrouw in de Bataksche Maatschappij’ (Tempat perempuan dalam masyarakat Batak).

Masdoelhak mempertahankan desertasi di Utrecht (Rijksuniversiteit) pada tahun 1943 dengan predikat Cum Laude. Masdoelhak adalah doktor hukum pribumi kedua (Utrecht, 1943), sedang doktor hukum pertama adalah Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi (Leiden, 1925). Masdoelhak adalah penasehat hokum Soekarno dan Hatta di Yogyakarta. Pada saat serangan agresi militer Belanda di Yokyakarta, yang pertama dicari adalah Masdoelhak lalu diciduk dan kemudian di tembak di Pakem. Atas peristiwa ini Dewan Keamanan PBB marah besar yang berkantor di New York meminta sebuah tim netral di Belanda untuk melakukan penyelidikan segera atas kematian Dr. Mr. Masdoelhak Nasoetion di Yogyakarta 21 Desember 1948. Reaksi cepat badan PBB ini untuk menanggapi berita yang beredar dan dilansir di London sebagaimana diberitakan De Heerenveensche koerier : onafhankelijk dagblad voor Midden-Zuid-Oost-Friesland en Noord-Overijssel, 01-02-1949 [catatan: Akhirnya Masdoelhak mendapat gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2008].

Itulah afdeeling Padang Sidempuan yang sebelum Indonesia Merdeka jumlah penduduknya hanya 80.000 jiwa yang terbagi ke dalam dua kecamatan: Angkola dan Mandailing. Meski kabupaten kecil, tetapi telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi NKRI. Merdeka!

 

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber tidak disebutkan lagi, sudah disebutkan dalam artikel-artikel saya sebelumnya. Sumber disebut kembali hanya untuk lebih menekankan konteks. Sumber-sumber yang baru ditemukan akan saya sebutkan langsung.


TAGS sepakbola Radjamin Nasution Walikota Pertama Surabaya


-

Profil Penulis

akhirmh@yahoo.com

Bergabung dengan Blogdetik sejak 4 Juni 2008, menulis blog di waktu luang. Satu dasawarsa terakhir mempelajari ekonomi, industri dan bisnis sepakbola. Untuk lebih memahami topik sepakbola tersebut, sedang mempelajari sejarah sepakbola di Indonesia.

Follow Me