Leicester City FC: Juara Liga Inggris, Bukan Anomali dalam Sepakbola

6 May 2016

Juara Liga Inggris Divisi-1 (Premiere League) yang baru, Leicester membuat semua ‘gibol’ bertanya-tanya. Bagaimana mungkin bisa menjadi juara, padahal dua tahun lalu, Leicester Fosse masih berada di Divisi-2 (Championship) dan promosi ke Divisi-1. Pada tahun lalu, Leicester City FC harus berjuang keras untuk tidak terdegradasi. Akan tetapi, faktanya: Leicester City memang menjadi juara, bahkan sebelum kompetisi (liga berakhir dan masih menyisakan dua pertandingan). Lalu untuk merebut juara, sesungguhnya Leicester City sudah menunjukkan tanda-tanda baik di awal, menjadi runner-up pada paruh musim.

Pada saat Leicester City promosi, dua tahun lalu, yang menjadi juara Divisi-1 adalah Manchester City. Lalu pada saat Leicester City terseok-seok di tepi jurang degradasi, juara Divisi-1 adalah Chelsea dan runner-up Manchester City.

Yang menyulitkan Manchester City sulit bersaing di Divisi-1 (Premiere League) adalah karena tidak hanya klub promosi, tetapi juga termasuk klub kecil. Investornya juga hanya datang dari Asia Tenggara di Thailand. Menurut BBC-Indonesia, nilai seluruh pemain Leicester City hanya nilai dari satu pemain Manchester City. Kita bisa membayangkan, begitu murah biaya yang dikeluarkan Leicester City dan begitu mahal biaya yang dikeluarkan oleh Manchester City.

Beberapa tahun yang lalu, terkesan bahwa Premiere League identik dengan The Big Four: Manchester United, Chelsea, Manchester City dan Arsenal. Diantara empat klub ini, hanya Arsenal yang tidak disebut klub raksasa (baca: kaya). Karenanya, ketiga klub ini bergantian menjadi juara, sedangkan Arsenal dalam satu dasarwarsa terakhir tidak pernah menjadi juara. Namun dari sisi bisnis, diantara empat The Bog Four ini hanya klub Arsenal yang memperoleh keuntungan (profit) dari tahun ke tahun. Yang lainnya: rugi.

Leicester City FC tetap sebagai klub kecil (butuh waktu untuk menjadi klub besar, bahkan jauh di bawah klub Arsenal yang peruntungannya selalu untung. Akan tetapi dengan situasi dan kondisi yang terbaru (pasca Leicester City menjadi juara), klub Arsenal akan miliki competitor baru soal pencapaian keuntungan. Leicester City di depan mata akan meraih keuntungan besar (paling tidak satu tahun ke depan). Sumber pendapatan sudah menunggu di dalam berbagai faktur baru: utamanya fee liga, komersialisasi di dalam Liga Champion Eropa.

Leicester City FC akan berbagi keuntungan dengan Arsenal FC dalam meraih profit. Masih akan lebih besar profit Arsenal dibandingkan Leicester City FC. Hal ini karena Arsenal FC sudah memeiliki portofolio yang lebih unggul, baik dari sisi infrastruktur, nilai pemain maupun publisitas dan supporter yang memadati stadion. Untuk soal juara, keuntungan tidak bisa dibagi, karena hanya satu pemenang dalam setia[ musim liga, kali ini Leicester City FC. Untuk perlombaan juara musim depan, antara Leicester City FC dan Arsenal FC, klub juara baru ini akan merogoh kocek dalam-dalam untuk membiayai kompetisi. Karena kompetisi di liga champion Eropa diperlukan amunisi baru. Itu soal pilihan bagi Leicester City FC.

Klub adalah unit bisnis di sektor spakbola. Secara teoritis butuh waktu lama untuk mendatangkan keuntungan, Bisnis sepakbola di dalam industri sepakbola berbeda dengan bisnis di sektor lain. Bisnis di dunia sepakbola sangat khas: Tujuan ganda: juara (kompetisi sepakbola di dalam liga) dan profit (kompetisi bisnis di dalam industri). Biaya (cost) dalam investasi (infrastruktur, pemain dll)) adalah faktor penting untuk meraih juara kompetisi, selanjutnya juara (klub lebih kompetitif) adalah faktor penting dalam meningkatkan penerimaan (revenue). Dengan kata lain bersifat asismetris. Oleh karenanya sebuah klub sepakbola (seperti lazimnya di sector lain) butuh waktu lama untuk mencapai profit.

Dalam kasus Leicester City FC yang baru menjadi juara, hanya butuh biaya kecil. Mungkin selama berlangsungnya kompetisi tahun ini, melihat tren yang terus naik hingga menjadi juara, revenue meningkat drastic dan telah menutupi semua biaya yang dikeluarkan. Kemudian, faktor juara mendorong pemasukan akan lebih besar. Tahun ini, revenue Leicester City FC akan membengkak, karena akan berlaga di liga champion Eropa. Profit sendiri adalah revenue dikurang cost. Leicester City FC dalam hal ini dalam posisi minimum cost dan maksimum revenue. Dengan kata lain, Leicester City FC akan mengikuti hokum bisnis: memaksimumkan revenue. Inilah esensi bisnis dalam lapangan (sektor) sepakbola. Sangat jarang, tetapi kenyataannya bisa dilakukan oleh Leicester City FC.

Kunci sukses Leicester City FC adalah inovasi. Proses inovasi ini tampaknya terjadi pada faktor Claudio Ranieri, pelatih asal Italia. Sudah sangat tua, seharusnya sudah pension, harganya juga di pasar pelatih sepakbola tidak tinggi amat, tetapi ilmunya dalam melakukan inovasi di klub Leicester City FC (dalam meramu pemain dan menyusun strategi perang terhadap lawan) berbuah hasil. Tingkat pencapaian tertinggi seorang pelatih berpengalaman adalah mampu menekan cost dan memaksimumkan revenue. Pelatih serupa inilah yang diperlukan dalam dunia sepakbola professional modern.

Bagaimana dengan kawan kita, Erick Thohir di Inter Milan? Apakah sudah merencanakan inovasi baru sebagaimana telah dilakukan Vichai Srivaddhanaprabha from Thailand? Kita tunggu!. Semoga Inter Milan (investasi Indonesia) berjaya di Italia dan Queens Park Rangers (investasi Malaysia) di Inggris, serta Valencia FC (investasi Singapura) di Spanyol. Itulah ekonomi (dunia) bisnis sepakbola modern. Tidak bisa negaranya berbiaca dalam prestasi sepakbola. Tetapi para pebisnisnya bisa berbicara di Negara-negara sepakbola (Inggris, Italia dan Spanyol).

Tingkat pencapaian tertinggi Leicester City FC (juara dan profit) bukanlah suatu anomali dalam dunia sepakbola. Justru, yang serupa ini yang seharusnya menjadi tujuan klub (bisnis) sepakbola di era industrialisasi sepakbola. Memang sangat jarang, tetapi itulah dunia sepakbola, sector baru dalam perekonomian modern.

Ketika Leicester City FC menjadi juara sepanjang sejarahnya, sebaliknya Aston Villa klub tertua di Inggris justru terdegradasi. Tanda-tanda Aston Villa bakal terdegrasi sudah terlihat musim sebelumnya yang nyaris terdegrasi. Aston Villa dibentuk 1874 (jauh sebelum sepakbola dikenal di Indonesia). Aston Villa salah satu pencetus digulirnya liga sepakbola di Inggris yang dimulai tahun 1888. Aston Villa juga salah satu pendiri Premiere League, 1992. Aston Villa adalah satu dari lima klub (MU, Chelsea, Arsenal dan Liverpool) Premiere League yang terus eksis sejak awal (1992). Tapi, kini (2016) Aston Villa terbenam. Boleh jadi akan menyusul Leeds United yang tenggelam sejak 2004. Itulah dunia sepakbola.  

Inggris adalah negara terawal yang menggelar kompetisi sepakbola. Sebelumnya pertandingan sepakbola hanya dilakukan pertandingan kunjungan anjamgsana (pertandingan persahabatan) dan turnamen-turnamen kecil (beberapa klub). Kompetisi sepakbola pertama di Inggris dimulai tahun 1888 yang menjadi juara adalah Preston North End. Juara-juara berikutnya adalah Everton (1890/1891), kemudian Sunderland (1891/1892) lalu berikutnya Aston Villa (1893/1894). Aston Villa menjuarai beberapa kali di akhir abad ke-19 (lihat De Telegraaf, 27-08-1897).

Leicester City FC didirikan tahun 1884, empat tahun sebelum kompetisi sepakbola Inggris dimulai. Aston Villa bukanlah tandingan (competitor) dari Leicester City FC. Klub Aston Villa waktu itu adalah klub besar, sedangkan Leicester hanyalah klub kecil dari kota kecil dan lebih muda usia 10 tahun dari Aston Villa yang lahir tahun 1874. Leicester sendiri baru tahun 1894 lolos saringan masuk (memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku) untuk bisa berpartisipasi di dalam kompetisi Divisi-2 Inggris (kala itu belum dikenal promosi/degradasi).Pada tahun 1899, klub Leicester belum masuk Divisi-1 (utama) seperti terlihat dalam guntingan koran Algemeen Handelsblad edisi 28-12-1899 yang terbit di Batavia.

Pada saat pendiriannya, klub Leicester bernama Leicester Fosse FC dan baru tahun 1919 namanya diubah menjadi Leicester City FC, tetapi julukannya tetap digunakan: The Foxes. Leicester Fosse FC baru promosi tahun 1928/1929 ke Divisi-1 (utama). Positioning Leicester Fosse FC tidak sebagus Aston Villa yang hamper selama hidupnya berada di Divisi-1. Leicester Fosse FC beberapa kali degradasi dan lalu promosi lagi. Promosi pertama Leicester yang terjadi pada tahun 1928 ternyata hasilnya tidak jelek-jelek amat, bahkan berada pada posisi big four. Manchester United jauh berada di dasar klasemen. Bahkan Manchester City, Liverpool dan Arsenal tdak akan mingkin lagi mengejar Leicester City FC. Guntingan koran yang diperoleh dari Soerabaijasch handelsblad edisi 05-04-1929 yang terbit di Surabaya, tentu saja para pemuda yang baru usai Kongres Pemuda 1928 di Batavia sudah mengikuti liga Inggris, seperti umumnya anak-anak muda jaman sekarang. Promosi Leicester Fosse FC yang terakhir terjadi pada dua tahun lalu. Dan kini (2016) menjadi juara liga utama Inggris, untuk kali pertama, sejak debutnya di kompetisi yang bergengsi itu. Congratulation. Leicester City FC yang menjadi juara sekarang, bukan klub lemah, tetapi memiliki sejarah yang panjang dan baru kini bisa juara.

Pertandingan sepakbola pertama di Indonesia (pada waktu itu disebut Nederlandsch Indie atau Hindia Belanda) dilaporkan pada tahun 1893, ketika Leicester Fosse FC masuk pertama kali ke dalam kompetisi Inggris. Pertandingan pertama tersebut digelar di Medan di Esplanade (kini Lapangan Merdeka) antara Tim Deli vs Tim Penang akhir Desember 1893 (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 02-01-1894). Tim Deli terdiri dari orang-orang Belanda sedangkan Tim Penang terdiri dari orang-orang Inggris. Pemain-pemain sepakbola di Medan ini ternyata bukanlah pemain sembarangan. Semua pemain memiliki latarbelakang sepakbola. Algemeen Handelsblad, 14-03-1900 mendeskripsikan darimana asal-asul pemain tersebut. Klub-klub pemain itu di Belanda antara lain: Sparta, Rapiditas, Quick Amsterdam), Victoria Rotterdam, HFC, dan Volharding Amsterdam. Umumnya mereka di Medan bekerja sebagai planter (pengusaha perkebenunan) yang boleh jadi setelah pension menjadi pemain sepakbola di Belanda merantai ke Medan.

Kompetisi sepakbola pertama di Indonesi digelar di Batavia tahun 1904 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 18-07-1904). Kompetisi di Batavi ini dipusatkan di lapangan Koningsplein (kini lapangan Monas). Di Medan kompetisi sepakbola baru dimulai tahun 1905 (lihat De Sumatra post, 02-12-1905). Sementara itu, di Bandung sendiri, pertandingan sepakbola pertama digelar pada tahun 1904 antara klub BVC (Bataviasch Voetbal Club) dengan tim Bandung di lapangan Pietersplein (lihat De Preanger-bode, 31-03-1904). Pietersplein kini menjadi lapangan (taman) apa ya? Semoga pembaca dapat membantu.

 

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap


TAGS Leicester bukan anomali sepakbola


-

Profil Penulis

akhirmh@yahoo.com

Bergabung dengan Blogdetik sejak 4 Juni 2008, menulis blog di waktu luang. Satu dasawarsa terakhir mempelajari ekonomi, industri dan bisnis sepakbola. Untuk lebih memahami topik sepakbola tersebut, sedang mempelajari sejarah sepakbola di Indonesia.

Follow Me