Sejarah PERSIB Bandung (8): Infrastruktur Sepakbola dan Pajak

21 Mar 2015

Venue sepakbola pertama: Pieterspark

 

Awal mula pertandingan sepakbola di Bandoeng dilakukan di taman Pieterspark (kini taman balaikota?). Tercatat pertandingan pertama diselenggarakan tanggal 6 November 1904 antara Sidolig vs BVC dengan skor 3-1 (lihat: Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 08-12-1904). Klub Sidolig sendiri didirikan tanggal 22 Februari 1903. Sidolig adalah singkatan Sport In De Open Lucht Is Gezond yang artinya olahraga di udara terbuka itu sehat. Selain Sidolig ada juga klub BVC (Bandoengsche Voetbal Club) dan klub UNI yang merupakan singkatan dari Uitspanning Na Inspanning yang artinya bersenang-senang setelah bekerja keras. Dari namanya, Sidolig dan UNI, sepakbola dimaksudkan untuk berolahraga sehat dan bersenang-senang. Lapangan yang representatif untuk sepakbola di Bandoeng kala itu hanya terdapat di Taman Pieterspark. Lapangan yang berada di tengah taman ini untuk beberapa waktu dijadikan sebagai tempat penyelenggaraan pertandingan (antar klub) sepakbola di Bandoeng.

 

Pieterspark, 1904

Pieterspark, 1904

 

Sementara itu, ada dua perkumpulan sepakbola yang sudah ada sebelum klub-klub itu ada yang berada di bawah naungan kesatuan militer yang berada di Bandoeng dan Tjimahi. Perkumpulan sepakbola militer Bandoeng bermain di lapangan militer Tjikoedapateuh, dan yang di Tjimahi bermain di lapangan militer Tjimahi. Seiring dengan semakin maraknya pertandingan sepakbola di Bandoeng, kedua perkumpulan sepakbola militer ini kemudian ditingkatkan menjadi klub sepakbola (militer) dengan mengambil nama klub yang bermain di Liga Belanda yakni nama Sparta untuk klub militer di Bandoeng) dan Velocitas yang ada di Tjimahi. Selain nama Sparta ada di Bandoeng, juga ada klub Sparta (militer) di Batavia.

***

Dalam perkembangannya, lapangan Pieterspark dianggap tidak sesuai lagi dengan standar minimal untuk pertandingan sepakbola. Pemerintah kota juga menganggap taman kota Pieterspark harus dipertahankan keasriannya dan keindahan, maka komunitas sepakbola Bandoeng difasilitasi dengan mengubah penampilan taman Aloon-Aloon menjadi lapangan umum yang bisa digunakan untuk pertandingan sepakbola. Pemindahan dari Pieterspark ke lapangan Aloon-Aloon boleh jadi dimaksudkan pemerintah kota sekaligus untuk menjauhkan hingar bingar sepakbola dari pusat kota. Dengan demikian, lapangan representatif untuk sepakbola di Bandoeng bertambah selain yang sudah ada sebelumnya yakni lapangan militer di Tjikoedapateuh (planten en diertuin plaatsvinden). Namun karena, Tjikoedapateuh agak jauh dari pusat kota, maka lapangan Aloon-Aloon yang kerap digunakan untuk pertandingan sepakbola.

 

Stadion pertama: Lapangan Aloon-Aloon

 

Ketika Bandoeng ditetapkan menjadi nyonya rumah (kemudian menjadi tuan rumah) untuk penyelenggaraan Kejuaraan Antarkota yang kelima (1918), lapangan Aloon-Aloon disulap menjadi stadion dadakan. Disebut stadion dadakan karena lapangan tersebut dibatasi dengan dinding yang terbuat dari bilik dan penonton dikutip bayaran melalui tiket. Setelah perhelatan kejuaraan itu selesai, stadion dadakan ini dikembalikan ke keadaaan semula sebagai lapangan umum (yang juga bisa digunakan untuk bermain sepakbola). Sejak kejuaraan antarkota ini lapangan Aloon-Aloon menjadi intens digunakan untuk pertandingan sepakbola dan semakin kerap pula lapangan disulap menjadi stadion dadakan. Setiap lapangan umum tersebut (gratis) disulap menjadi stadion dadakan (komersil) pemerintah kota selalu mengutip pajak tontonan (pajak penonton) dari penyelenggara (BVB).

4a2e7222dfafc3e42fa5fba1da644ef0_image001

Stadion dadakan, Lapangan Aloon-Aloon Bandoeng, 1918

 

Sidolig dan UNI mempelopori bangun stadion sendiri

 

Sementara animo warga kota untuk menonton sepakbola terus meningkat, frekuensi pertandingan bertambah, kompetisi (liga Bandoeng) semakin teratur (regular), klub tamu semakin sering bertandang ke Bandoeng, klub-klub seperti Sidolig dan UNI merasa perlu untuk memiliki lapangan sendiri. Dua klub ini mulai tertarik berinvestasi untuk menyediakan infrastruktur sepakbola. Keberanian berinvestasi ini karena prospek sepakbola semakin bagus dan kemampuan membayar penonton tidak perlu diragukan lagi. Ide ini awalnya diterapkan ketika dua klub top ini coba mencari lahan kosong untuk dirapihkan menjadi lapangan sepakbola untuk keperluan sendiri. Namun mendapatkan lahan yang sesuai tidak mudah. Klub UNI mendapat izin untuk merenovasi lapangan Aloon Aloon dan membangun tribun. Sementara Sidolig menemukan lahan yang tepat yang lokasinya di Grooten Postweg (ujung) yangt tidak jauh dari lapangan Tjikoedapateuh. Di lapangan masing-masing, kedua klub ini menjadikannya sebagai pusat latihan dan dalam perkembangannya menjadi lapangan tersebut dijadikan sebagai homebase dan juga sebagai lapangan yang telah memenuhi syarat untuk menjadi tuan rumah dalam kompetisi liga Bandoeng yang diselenggarakan oleh BVB. Inisiatif Sidolig dan UNI didukung oleh BVB dan diizinkan oleh pemerintah kota.

 

Foto udara lapangan sepakbola di Bandoeng, 1922

Foto udara lapangan sepakbola di Bandoeng, 1922

 

Pada tahun 1923 klub UNI menambah investasi dengan membuat pagar permanen yang mengitari lapangan dan membangun tribun di tengah sisi timur lapangan. Hal yang sama juga kemudian dilakukan oleh Sidolig. Sidolig dan UNI mengawali konsep stadion di Bandoeng plus menyediakan billboard di pinggir lapangan sebagai ruang promosi (iklan) bagi sponsor. Lapangan Tjikodapateuh yang menjadi homebase Sparta adakalanya digunakan untuk pertandingan liga atau pertandingan lainnya jika kemungkinan jumlah penonton diperkirakan akan melebihi kapasitas lapangan (stadion dadakan) Aloon-Aloon (stadion UNI). Lapangan Tjikoedapateuh dalam perkembangannya bergeser ke lokasi dimana menjadi cikal bakal Stadion Siliwangi.

 

Lapangan UNI Bandoeng, 1926

Lapangan Aloon-Aloon menjadi Lapangan UNI Bandoeng

 

Stadion UNI termegah di Hindia Belanda

 

UNI adalah pionir dalam pembangunan lapangan sepakbola dengan konsep stadion. UNI terus berinvestasi hingga akhirya berhasil membangun stadion yang representatif yang disebut Niew Houtrust yang diresmikan pada tanggal 6 April 1925 (lihat De Indische courant, 06-04-1925). Sementara itu kejuaran antar kota diselenggarakan oleh NIVB pada tahun ini. Anehnya, kejuaraan setengah kompetisi ini tidak dipusatkan di dalam satu kota, tetapi situasinya adalah sebagai berikut: Tanggal 9 Mei mepertemukan Batavia dengan Bandoeng yang diselenggarakan di Batavia dan antara Semarang dengan Soerabaija dilangsungkan di Semarang. Empat pertandingan lainnya diadakan di Bandoeng, yakni 29 Mei Bandoeng vs Semarang, 30 Mei Semarang vs Batavia, 31 Mei Batavia vs Soerabaija, dan 1 Juni Soerabaija vs Bandoeng. Empat pertandingan ini semuanya dilangsungkan di Niew Houtrust (lihat De Indische courant, 04-05-1925).

 

Bataviaasch nieuwsblad, 05-05-1925 memberitakan bahwa stadion baru ini terletak di dekat persimpangan Kleine Lengkong dan Oost Einde di pusat kota Bandoeng. Untuk menggunakan stadion UNI yang baru ini NIVB bekerjasama dengan UNI untuk menambah fasilitas dengan dana dari NIVB. Kini stadion ini sudah siap dengan empat sisi: (1) untuk penonton berdiri dengan kapasitas 400 penonton, (2) tribun permanen untuk 450 penonton, (3) tribun permanen untuk 200 penonton, dan (4) tribun dari bambu untuk 240 penonton. Fasilitas lainnya adalah ruang ganti, bar, kamar mandi dan toilet. Strategi yang dilakukan NIVB ini untuk menghemat anggaran setiap kejuaraan. Hanya saja dalam masalah ini, investasi NIVB konpensasinya dapat digunakan stadion UNI di lain waktu dengan cara gratis. Sebab selama ini, NIVB harus mengeluarkan banyak untuk stadion dadakan dari bambu tapi setelah itu ribuan gulden lenyap begitu saja karena bahan-bahan bambu itu kemudian tidak terpakai lagi. Untuk pertandingan yang akan dilaksanakan penonton dibagi ke dalam empat kelas dengan harga f 3.75, f 2.50, f 1.25 dan f 0.50. Untuk membeli tiket dapat dilakukan di restoran yang berada di Aloon-Aloon pada hari dan jam yang ditentukan. Penonton yang membeli dua tiket pertandingan ada pengurangan f 0.25 per game, sedangkan yang membeli empat tiket pertandingan akan ditentukan lagi.

 

Peta lokasi Stadion UNI Bandoeng, 1926

Peta lokasi Stadion UNI Bandoeng, 1926

 

Infrastruktur sepakbola dan pajak

 

Pada tahun 1927 Sidolig, UNI, Sparta dan YMC (klub sepakbola orang-orang Tionghoa) sudah memiliki stadion sendiri-sendiri. Sementara klub-klub lainnya juga telah memiliki lapangan sendiri meski belum dianggap sebagai konsep stadion seperti halnya lapangan Sidolig dan lapangan UNI. Namun semua lapangan sepakbola dan stadion yang dimaksud dibangun di atas lahan kosong yang diklaim pemerintah sebagai milik Pemerintah Kota (Gemenstee Bestur). Pada bulan Agustus 1927 atas inisiatif pemerintah kota atas rekomendasi dewan kota (Gementeeraad) melakukan pertemuan dengan mengundang pengurus BVB dan direksi klub untuk duduk bersama untuk membicarakan status legal lapangan sepakbola (stadion). Pemerintah menyodorkan formula pajak atas penggunaan lahan. Sidolig dan UNI paham bahwa lahan yang mereka gunakan untuk membangun infrastruktur sepakbola mereka bukanlah aset klub. Mereka hanya bernegosiasi soal formulasi dan besaran pajak yang harus disetor. Klub lain mengikuti apapun kesepakatan antara Sidolig atau UNI dengan pemerintah kota (Gemenstee Bestur).

 

Peta lahan militer/lapangan sepakbola Sparta, Tjikoedapateuh, 1926

Peta lahan militer/lapangan sepakbola Sparta, Tjikoedapateuh, 1926

Tidak demikian dengan klub Sparta. Pengurus klub menolak formulasi dan besaran pajak yang dikenakan pemerintah kota terhadap lahan militer yang difungsikan sebagai lapangan sepakbola. Mungkin pengurus Sparta menganggap lahan mereka adalah bagian dari lahan kesatuan militer yang dibedakan dengan lahan-lahan lain. Pemerintah kota punya argumentasi sendiri untuk meredam alasan Sparta, kira-kira begini: ‘jika pertandingan sepakbola tidak mengutip bayaran, pemerintah tidak akan mengutip pajak tontonan dan pajak lahan’. Kalau pemerintah kota di era yang sekarang mungkin menambah dalil, menjadi begini: ‘itu baru pajak bumi (lahan), belum pajak bangunan (tribun)’.

 

Stadion Persib Sidolig masa kini

Stadion Persib Sidolig masa kini

 

***

Demikianlah riwayat taman (park) menjadi lapangan sepakbola (velt) dan kemudian menjadi stadion. Demikian pula riwayat fasilitasi pemerintah untuk warga kota (menyediakan sarana olahraga) yang berawal dari taman kemudian bergeser menjadi dasar pemungutan pajak tontonan (penonton) dan pajak lahan lalu dalam era yang sekarang menjadi pajak bumi dan bangunan (PBB). Singkat cerita (pada nantinya serial artikel ini akan sampai ke sana), stadion Sidolig adalah aset klub (bangunan) dan aset pemerintah (lahan). Ketika pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda, stadion Sidolig termasuk yang diserahkan kepada pemerintah RI (dalam hal ini pemerintah kota Bandung) yang kemudian menjadi homebase Persib Bandung. Klub Sidolig yang terus eksis harus meninggalkan Stadion Sidolig. Hal yang sama juga untuk klub UNI. Lantas kemudian, di era masa kini, hal yang sama kembali berulang, ketika Persib Bandung beralih status dari amatir menjadi professional, Stadion Sidolig atau juga disebut Stadion Persib harus dikembalikan oleh PT. Persib Bandung Bermartabat (PBB) ke pemerintah kota.

 

(bersambung)

 

 

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Lokasi stadion di Bandoeng, 1926

Lokasi stadion di Bandoeng, 1926

-