Sejarah PERSIB Bandung (6): Promosi vs Degradasi

18 Mar 2015

Secara resmi NIVB telah dibentuk (1919) dan sudah berafiliasi secara resmi dengan FIFA (1924). Bandoengsche Voetbal Bond (BVB) menjadi salah satu anggota NIVB yang dengan sendirinya Sidolig (1903), UNI (1904), Sparta (1904), Velocitas (1905), Osvia (1918), Luno (1919), HBS (1918) menjadi klub yang diakui oleh FIFA. Klub-klub sepakbola dari generasi pertama di Bandoeng ada beberapa diantaranya yang mengadopsi nama klub yang tengah berkompetisi di Liga Belanda. Misalnya di Bandoeng, UNI (Unitas), Sparta (Spartaan), HBS (HBS), Velocitas (Velocitas), Stormvogels (Stormvogels), di kota lainnya seperti Hercules, Quick, Excelsior, Go Ahead dan sebagainya. Klub-klub Belanda tersebut berkompetisi dengan klub yang menjadi top dan survive hingga masa kini seperti Fyenoord, Ajax, Vitesse, Go Ahead, NAC dan lain sebagainya.

 

Sidolig berdiri tanggal 22 Februari, 1903

Sidolig berdiri tanggal 22 Februari, 1903

 

***

Osvia adalah klub yang semua pemainnya adalah pribumi. Klub yang kini berlaga di Divisi Dua liga Bandoeng ini mulai ikut berpartisipasi dalam liga di bawah naungan BVB pada tahun 1918. Namun klub ini bukanlah klub pribumi, tetapi meski semua pemain Osvia murni 100 persen pribumi, klub ini harus dianggap sebagai klub pemerintah kolonial Belanda. Hal ini karena klub Osvia dibentuk di sekolah Osvia yang notabene sekolah tersebut milik pemerintah Hindia Belanda. Osvia atau OSVIA adalah singkatan dari Opleidings School voor Inlandsche Ambtenaren (sekolah calon pejabat pribumi). Pendirian sekolah OSVIA oleh pemerintah Hindia Belanda dimaksudkan untuk menyediakan pejabat pribumi yang bekerja untuk pemerintahan kolonial Belanda. Di Batavia himpunan pelajar serupa ini membentuk klub yang disebut Stovia (sekolah calon dokter pribumi).

 

Satu lagi klub sekolahan adalah SVV yang merupakan singkatan dari Studenten Voetbal Vereeniging (perhimpunan sepakbola pelajar). Klub ini baru dibentuk tahun 1923 dan ditempatkan di Divisi Dua. Pemberian nama klub sebagai SVV didasarkan pada asal para pemainnya yang semuanya beridentitas pelajar. Yang berarti bisa sebagai pelajar sekolah menengah dan sekolah tinggi. Perbedaan SVV dengan Osvia atau Stovia, karena SVV tidak murni 100 persen pribumi. Klub SVV merupakan gabungan pemain yang bestatus pelajar baik yang asal usulnya bangsa Belanda maupun pribumi. SVV tidak hanya ada di Bandoeng tetapi juga dibentuk di Semarang. SVV sebagai singkatan Studenten Voetbal Vereeniging mengadopsi nama klub yang banyak dibentuk di Negeri Belanda.

 

Dua klub lainnya yang tetap berada di Divisi Satu Liga Bandoeng adalah Sparta dan Velocitas. Dua klub ini mengambil nama dari klub-klub yang berkompetisi di Liga Belanda. Dua klub ini berafilasi dengan militer. Sparta adalah klub militer dari kesatuan yang berada di Bandoeng, sedangkan Velocitas adalah klub militer dari kesatuan tang berada di Tjimahi. Meski dua klub militer ini identik dengan tentara Belanda, tetapi sesungguhnya tidak semua pemain Sparta dan Velocitas adalah bangsa Belanda (kulit putih). Ada juga pemain dua klub ini yang pribumi (kulit coklat). Mereka itu adalah penduduk asli Hindia Belanda yang direkrut pemerintah Belanda untuk ditempatkan di kesatuan militer. Klub militer bernama Sparta juga dibentuk di Batavia, tetapi Sparta yang berada di Malang adalah non militer. Sedangkan Velocitas hanya ada di Tjimahi. Dengan demikian, Sparta dan Velocitas di Bandoeng boleh dikatakan juga klub milik pemerintah kolonial Belanda.

 

Sementara itu juga dari kalangan orang-orang Tionghoa juga dibentuk klub di Bandoeng yang disebut YMC. Klub ini didirikan tahun 1921 dan awalnya ditempatkan di Divisi Tiga dan kini berada di Divisi Dua Liga Bandoeng. Klub ini awalnya tertatih-tatih memulai kompetisi, tetapi lambat laun klub ini cepat belajar lalu menjadi klub yang diperhitungkan di Divisi Dua. Klub Tionghoa tidak hanya ditemukan di Bandoeng, tetapi juga di Batavia (UMS), Semarang (Union) dan Surabaija (Tiong Hoa). Klub YMC Bandoeng lahir, tumbuh dan berkembang di dalam komunitas orang-orang Tionghoa di sekitar Groote Poststraat (timur).

 

82f5dc03bd30ab350b11da78d3d9d8d0_image001

Area komunitas Tionghoa di Bandoeng, 1910

 

***

Saat ini, pada tahun 1925, Divisi Satu Liga Bandoeng hanya terdapat enam klub yang berkompetisi, yakni: Sidolig, UNI, Sparta, Velocitas, Luno dan Stormvogels. Empat klub pertama merupakan klub-klub yang memulai kompetisi secara regular yang disebut liga pada tahun 1918. Pada tahun 1919 masuk Luno, jumlah konstestan menjadi lima klub. Pada tahun 1921 klub Osvia ditempatkan di Divisi Satu, yang mana sebelumnya berada di Divisi Dua. Pada tahun 1923 bertambah lagi menjadi tujuh klub dengan masuknya HBS. Pada tahun 1924 Stormvogels menggantikan HBS. Stormvogels adalah klub sempalan dari kisruh yang terjadi di klub Sidolig. Hingga masuknya Stormvogels, kontestan Divisi Satu ditentukan berdasarkan keputusan bersama (kesepakatan).

 

Pada liga tahun 1924, disepakati adanya sistem degradasi-promosi. Namun pada awalnya (masa transisi) hanya memberlakukan system degradasi saja. Baru kemudian pada tahun 1925 sistem baru ini benar-benar untuh diterapkan yang mana klub terbawah dalam Divisi Satu dapat degradasi dan kleub teraras dalam Divisi Dua dapat promosi. Namun pola yang dianut bukan sistem otomatis tetapi melalui mekanisme play-off dengan menerapkan adu tanding (kandang dan tandang). Ringkasan riwayat kompetisi Divisi Satu (utama) Liga Bandoeng dapat dilihat pada Tabel-1.

 

f667d9ae6b580584940d940bc64fbcc2_image001

 

Deteksi adanya klub pribumi

 

Akhir September 1925, kompetisi Liga Bandoeng putaran pertama telah berakhir. Seperti biasanya, pasca kompetisi sepakbola akan disibukkan dengan pertandingan persahabatan atau turnamen antar klub. Setelah itu, putaran kedua Liga Bandoeng akan dimulai lagi. Pada putaran kedua Divisi Satu Liga Bandoeng ini akan terlihat (indikasi) klub mana yang terdegrasi dan klub mana yang promosi. Ini dengan sendirinya akan ada suatu perubahan yang cukup berarti dilihat dari ciri persaingan yang sesungguhnya dalam suatu liga.

 

Bataviaasch nieuwsblad edisi 05-10-1925 melaporkan pertandingan antara Luno vs Stormvogels: Pertandingan disaksikan oleh cukup besar khalayak. Kami senang mengamati bahwa kepentingan publik dalam waktu terakhir ini naik lagi. Dalam pertandingan ini, kami dengar berita terakhir tentang klub kostum si hitam dari panitia bahwa tim serikat di Papandajanstraat tersebut semua pemainnya adalah bangsa Belanda, kecuali Marsoedi yang menjadi pemain pribumi. Marsoedi tampaknya bermain kurang fit dalam pertandingan ini untuk berada pada tingkat kelayakan sepakbola, karena dia bermain pada hari Sabtu di pertandingan liga pribumi. Lebih lanjut berita ini memuat isu tentang Sidolig. Kami mendengar dari bisik-bisik bahwa pihak serikat Sidolig akan melanjutkan kompetisi dengan apa yang beredar bahwa klub mereka akan keluar sehubungan dengan sejumlah pemain kuning dan coklat. Proses awal pemurnian ini yang berakhir telah menyebabkan kekalahan. Sebaliknya, Stormvodels tim yang baru terbentuk memiliki akses ke banyak pemain muda berbakat. Dengan derasnya anak-anak pribumi yang hengkang di sarikat yang lain, serikat pekerja seharusnya dapat menahan jangan sampai keluar. Stormvogel yang terbilang tim satu-satunya yang lengkap melakukan dua pertandingan dalam minggu terakhir. Pada hari Kamis melawan Sparta dengan angka 2-0. Sementara pertandingan melawan Luno, klub Stormvogels meraih kemenangan dan hanya satu gol yang terjadi dari pertandingan tersebut (1-0).

 

Berita ini mengindikasikan dua hal. Pertama, sudah ada liga pribumi di Bandoeng. Namun sejauh ini bagaimana liga itu berlangsung belum/tidak diketahui, misalnya siapa penyelenggaranya, berapa klub yang berpartisipasi, diselenggarakan dimana dan sebagainya. Namun yang jelas, salah satu pemain Stormvogels juga bermain di dalam klub lain yang dalam hal ini klub dan liga pribumi. Kedua, seorang pemain bermain dalam dua klub yang berbeda akan memberi dampak langsung pada kinerja pemain itu sendiri ketika salah satu diantara timnya itu membutuhkan kehadirannya. Ketiga, BVB tempaknya belum meratifikasi aturan FIFA sepenuhnya yang mana seorang pemain harus memilih hanya satu klub dalam naungan FIFA. BVB adalah anggota NIVB dan NIVB merupakan anggota resmi FIFA. BVB dan NIVB kini berada dalam suatu dilemma.

 

Drama dalam sepakbola: Degradasi or Promosi

 

Suatu drama haruslah ada panggung, pemeran, penonton, ketegangan dan ending (sad or happy). Ini yang terjadi dalam putaran kedua Liga Bandoeng 1925. Dua pemeran utama pada kelasnya masing-masing: Sidolig mewakili kelas atas dan YMC mewakili kelas bawah. Keduanya bagaikan ingin bertahta. Sidolig adalah klub lawas yang berdiri 1903 dan sudah tercatat sejak 1904 sedangkan YMC baru memasuki dunia sepakbola Bandoeng tahun 1921. Dalam hal ini aturan main yang baru telah diterapkan. Peringkat terbawah Divisi Satu dapat degradasi dan peringkat atas Divisi Dua dapat promosi. Namun sebelum ditentukan keduanya dilakukan pertandingan play off (kandang dan tandang). Bagaimana perjalanan kompetisi kedua tim ini pada liga yang sekarang mari kita simak!

 

Bataviaasch nieuwsblad, 13-10-1925: sama seperti yang sudah diduga, pertemuan Sidolig vs Sparta sangat menarik minat yang besar, karena kedua serikat ini mempertaruhkan banyak hal. Sparta adalah klub militer dan juara tahun lalu dan pada tahun 1925 ingin mempertahankannya. Sementara Sidolig jelas tidak mau mengalah begitu saja, karena posisinya berada di dasar klasemen saat ini. Melihat situasi terakhir, Sidolig akan mengerahkan kekuatan luar biasa agar terhindar dari juru kunci. Sedangkan Sparta dalam waktu belakangan ini bermain buruk dan sepertinya kemenangan bagi Sidolig karena si biru-putih (baluw-witten) bermain di kandangnya sendiri. Namun kenyataannya berbeda. Si kostum merah-hitam justru menunjukkan pesta sepak bola, yang dalam waktu yang lama penampilan serupa itu tidak terlihat pada mereka. Dari awal sampai akhir antusiasme yang diletakkan pada hari yang membuat kita berpikir kembali ke masa lalu, ketika setiap pertandingan selalu dipenuhi ketegangan, para pemain selalu memberikan sepenuhnya, membuat sepakbola kita terus tumbuh. Sparta bermain dengan lebih flesibel dan berusaha untuk menang dan merasa senang untuk bertemu kembali Sidolig tiga kali dalam tahun ini. Pertandingan ini dihadiri banyak penonton yang umumnya supporter Sidolig. Berapa banyak tidak kita ketahui karena kita tidak bisa mencatat turun dari tribun. Wasit yang mempimpin pertandingan adalah Foltynski, dan hasil akhir dengan skor 3-0 untuk Sparta. Namun realitasnya pertandingan itu dapat dinilai dengan skor yang lebih baik, 3-1.

 

 

Bobotoh dukung habis tim Blauw- Witten Sidolig, 1925

Bobotoh dukung habis tim Blauw- Witten Sidolig, 1925

 

Bataviaasch nieuwsblad, 04-11-1925: hari Minggu sore itu dilakukan pertandingan Sidolig vs Stormvogels. Pertandingan ini dihadiri cukup banyak penonton bahkan sampai lima baris. Para penonton pribumi telah meningkat jumlahnya. Hal ini karena pertemuan Sidolig vs Stormvogels adalah pertemuan dua tim yang terbilang masih agak bermusuhan satu sama lain. Hal seperti ini selalu menarik. Wasit yang mempimpin adalah van Helden yang memegang seruling. Susunan kedua tim sebagai berikut:

 

 

f6f7aba487ea9ff35d7c4fe5401042b9_image001

 

 

Sidolig dalam pertandingan memulai kickoff. Sidolig menempatkan lima penyerang dengan pengatur serangan van Dijk untuk bahu membahu dengan Matulessija dan Soegeng di tengah yang akan didukung dengan dua penyerang sayap. Matulesija adalah pemain depan yang merupakan debut dalam pertandingan ini yang mana dia sebelumnya bermain di klub Belanda, VOC. Dia baru saja datang dari negeri Belanda. Namun Matulessija hanya sendirian karena Maksoedi terus ditempel oleh Lefrandt.Disamping itu, kipper Linek bermain sangat bagus. Meski demikian, Sidolig masih dapat menang dengan skor tipis 1-0. Klassemen sementara adalah sebagai berikut:

11e58d4d891c1becf50b09bf1b738aa5_image001

 

 

Pertandingan terakhir akan dilanjutkan pada minggu-minggu berikutnya antara Sparta vs UNI (8 Nov), Sidolig vs Velocitas (15 Nov), dan UNI vs Stormvogel (22 Nov). Dalam pertandingan Divisi Dua mempertemukan Osvia vs SVV dengan terminasi permainan 2×20 menit untuk bermain Minggu 22 Novermber sebelum pertandingan kelas pertama (Divisi Satu) dimulai.

 

 

Bataviaasch nieuwsblad, 18-11-1925: Sidolig vs Velocitas (0-0).Adapun pertandingan terakhir hari Minggu antara tim Stormvoge vs Uni. Pertemuan ini berakhir dengan cara yang sangat disayangkan karena UNI kalah dengan dua penalti. Namun demikian posisi UNI dalam klassemen tidak mempengaruhi sebagai juara musim 1925. Klassemen sementara sebelum pertandingan adalah sebagai berikut:

 

 

f7b1e7f9d389fc8586f8ca6489d9d87d_image001

 

 

 

Peran Matulesea yang sekarang kita melihat dua pertandingan yang dimainkannya sebenarnya tidak bisa dikatakan permainan Sidolig terlalu buruk. Kini Sidolig harus melakukan playoff yang menentukan apakah yang terjadi degradasi (Sidolig) atau promosi (YMC). Sidolig akan memiliki kekuatan penuh menghadapi YMC. Kami berharap untuk si biru putih, bahwa mereka akan dapat muncul pada waktu itu dengan permainan tim terbaik mereka dan mereka harus tahu diri mereka adalah potret tim kelas pertama. YMC di dalam negara, dengan tim fanatik siap banyak yang harus dilakukan pada tur ini akan berpikir tentang kekuatan yang benar-benar dari Sidolig sehingga diharapkan ada ketegangan bagi YMC dalam kompetisi ini.

 

 

Pengurus dan pemain Sidolig lega tidak terdegradasi, 1925

Pengurus dan pemain Sidolig lega tidak terdegradasi, 1925

 

 

Bataviaasch nieuwsblad, 14-12-1925: kemarin di situs Sidolig di Jalan Raya Pos (Grooten Poststraat)mempertunjukkan dua tim yang bermain promosi dan degradasi. Permainan lamban tim kelas pertama Sidolig terhadap juara divisi dua, YMC. Hasil akhir berakhir dengan kemenangan 2-0 untuk Sidoligert. Gol pertama terjadi tak lama setelah dimulainya karena mengaku secara pribadi tahu penalti. Sisa waktu berikutnya melihat si biru putih biru menekan YMC. Akhirnya berbuah gol menjadi 2-0. Sidolig mendominasi permainan. Kita sudah bisa mengatakan sekarang bahwa Sidoligen untuk berada pada kelas akan dipertahankan. Ini akan memiliki lingkaran yang sangat gila jika Sidolig tidak tidak bisa meraih kemenangan dalam pertemuan kedua ini. YMC untuk bermain di kelas pertama setidaknya belum.

 

Catatan

 

Sistem kompetisi yang diterapkan oleh BVB di Liga Bandoeng sudah lebih sempurna. Dengan adanya degradasi dan promosi akan membuat setiap klub bersaing secara sehat di lapangan. Namun permasalahan sepakbola Bandoeng di bawah naungan BVB tidak hanya sekadar aturan kompetisi tetapi permasalahan yang muncul kemudian terkait dengan kehadiran liga pribumi. Bagaiman kelanjutan riwayat sepakbola Bandoeng terus ikuti pada serial artikel berikutnya.

 

(bersambung)

 

 

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber tempo doeloe.

-