Sejarah PERSIB Bandung (5): Laga Internasional dan Skorsing Pemain

16 Mar 2015

Sementara itu, di Bandoeng sendiri, kegiatan sepakbola semakin marak. BVB (organisasi sepakbola Bandoeng) semakin menguat. Klub-klub semakin kompetitif. Animo penonton semakin meningkat. Bobotoh (media Belanda menyebutnya Soendanesche), khususnya pendukung klub Sidolig semakin banyak. Penonton bersedia membayar tiket masuk untuk menonton di lapangan. Bobotoh juga makin intens mendampingi tim kesayangannya untuk bertanding di luar kota. Publisitas makin meluas. Panitia di bawah pengawasan BVB semakin bergairah karena pemasukan semakin besar. Pajak tontonan, iklan promosi dan retribusi dari lapangan sepakbola menjadi sumber pendapatan baru bagi pemerintah kota.

b7001f6362a2f2cf0b0993c580af9358_image001

Bilboard (Iklan) Soese Tjap Nonni Njang Paling Baik (1925)

 

 

Hal-hal serupa inilah yang menjadi keunggulan kota Bandoeng dibanding kota-kota yang lain (terutama Batavia, Semarang dan Surabaija). Komunitas sepakbola di Java melihat ini sedikit iri, betapa dinamika sepakbola di Bandoeng sangat maju dan semarak, apalagi NIVB (organisasi sepakbola Hindia Belanda) menempatkan Bandoeng sebagai tujuan sepakbola internasional. Akibatnya, para pemain berkualitas dari kota lain mulai melirik Bandoeng sebagai tujuan karir sepakbola. Sejumlah pemain dari Batavia dan Semarang kini sudah ada yang berkarir di Bandoeng. Gibol bangsa Belanda di Batavia tidak sedikit yang datang ke Bandung pada akhir pekan, hanya sekadar nonton bola__tentu saja mereka memaksimumkan kunjungan untuk berlibur.

***

Kompetisi liga Bandoeng musim 1924 sudah dimulai sejak April. Sejumlah kegiatan sepakbola lainnya di sela-sela liga juga dilaksanakan, seperti Resident beker (Piala Residen) yang mana mempertemukan UNI dan Sidolig dengan hasil akhir UNI menang dengan skor 2-1[1]. Dalam lanjutan liga Bandoeng, kemarin sore UNI vs Sidolig berakhir dengan skor 0-1[2]. Sidolig menyelenggarakan Pertandingan Jubileum untuk memperingati pesta perak untuk menghormati ulang tahun ke-25 pemain andalan Sidolig, Eddy Alting Siberg dengan mengundang klub Batavia, Vios[3]. Hasil akhir 2-0 untuk kemenangan tuan rumah. Pada pertemuan kedua antara Vios dan Velocitas. Pada acara terakhir. sambutan yang diberikan kepada tamu juga dihadiri oleh para direktur Bandoengsche vereeniging: UNI, Sparta, Velocitas, Luno dan Stormvogels. Kehadiran Stormvogels dalam hal ini menunjukkan sikap yang baik dan patut dipuji.

 

Selain pertandingan Jubileum, Sidolig juga akan menyelenggarakan Piala Jaarbeurs. Di bawah kepanitiaan Asosiasi Olahraga Sidolig izin sudah diberikan oleh dewan Asosiasi Sepakbola Bandoengschen untuk hari Sabtu 21 dan 28 Juni dan 5 Juli untuk putaran pertama dan Minggu 22 dan 29 Juni dan 6 Juli untuk putaran kedua. Semua klub Divisi Satu Bandoengschen diundang untuk berpartisipasi. Hasil pengundian akan diumumkan kemudian. Pertandingan ini akan diadakan di tempat Sport Association Sidolig di Groote Poststraat atau yang di Riouwstraat. Selanjutnya, dilaporkan semua klub Divisi Satu kecuali Stormvogels ikut berpartisipasi[4]. Hasilnya sebagai berikut: Sparta vs Velocitas (3-1). UNI vs Sidolig dengan skor 3-0 untuk kemenangan UNI. Dalam partai final akan mempertemukan UNI dengan Sparta. Untuk besok di tempat yang baru di Melong mempertemukan Velocitas vs Sidolig untuk memperebutkan medali perunggu.

 

7a4d105e64b72f1512510093db748d80_image001

 

 

***

Liga Bandoeng untuk Divisi Satu tahun 1924 sesungguhnya tetap diikuti peserta sebanyak tujuh klub. Jumlah ini sama dengan tahun lalu. Namun pada tahun ini satu klub bertambah yaitu Stormvogels dan sebaliknya klub HBS tidak berpartisipasi. Pada pertandingan pembuka antara UNI vs Velocitas (awal April) terpaksa ditunda karena hujan yang menyebabkan lapangan banjir dengan skor sementara 0-0. Setelah dilanjutkan pada hari lain, hasil akhir 0-1 untuk kemenangan Velocitas. Hasil-hasil lainnya yang sudah dicapai adalah sebagai berikut:

 

d0c0feb2fe633c93c8edda97b043818d_image001

 

 

***

Dalam lanjutan kompetisi minggu lalu pada hari Sabtu, Osvia vs Luno berakhir imbang 1-1. UNI juara liga 1923 mengalahkan Sparta dengan skor 2-0. Pada minggu berikutnya hari Sabtu, Sidolig menghancurkan Osvia dengan skor 5-0. Pada hari Minggu lalu dua klub militer bentrok antara Sparta dan Velocitas yang berakhir 3-2. Klasemen sementara adalah sebagai berikut[5]:

 

4f28b4ddf000459e84448aa69025a4ad_image001

 

 

Pada lanjutan kompetisi berikutnya Sidolig bertemu dengan klub pendatang baru, Stormvogels yang merupakan sempalan dari Sidolig. Pertandingan berakhir 3-1 Sidolig memberikan sikap yang jauh cukup bagus. Penonton banyak yang datang. Susunan tim kedua klub adalah sebagai berikut[6]:

 

7421d6eb22bbd428e53fbd61233d1a2e_image001

 

Pertandingan internasional pertama di Bandoeng

 

Selama ini pertandingan sepakbola masih berskala lokal (intercity). Selain pertandingan antara bond (Bandoeng, Batavia, Semarang dan Surabaija), di Bandoeng, baru klub-klub dari Batavia dan Semarang yang pernah bertandang untuk bertanding ke Bandoeng. Kali ini yang akan datang adalah tim dari luar negeri yang menamakan dirinya Ke-XI-an Calcutta yang berasal dari Bengali (bukan India, karena India belum ada, seperti halnya, Indonesia belum ada).

 

Anehnya, NIVB menyarankan tim Bengali ini bertanding dengan tim Bandoeng (bukan tim Batavia). Alasannya hanya satu: antusiasme penonton. Petinggi NIVB di Batavia tahu betul cara menghormati tamu dengan memenuhi stadion. Suasana ini hanya ditemukan di Bandoeng. Tujuan NIVB lainnya dan yang utama adalah untuk menunjukkan sepakbola di Nederlandsche Indie (Hindia Belanda) lebih maju daripada di Bengali yakni dengan mempertontonkan begitu besarnya animo penonton. Klub Sidolig adalah tim yang memiliki fans fanatik yang disebut media sebagai Soendaneshe (mungkin maksudnya sekarang adalah bobotoh).

 

Penonton kelas utama (VVIP) sisi barat lapangan (1924)

Penonton kelas utama (VVIP) sisi barat lapangan Sidolig (1924)

 

Rencana itu menjadi kenyataan. Kemarin sore (17-10-1924) diadakan pertandingan persahabatan antara Sidolig dengan tamunya dari Calcutta. Pertandingan ini berlangsung pada lapangan cukup licin dan berat. Ada banyak penonton. Komandan militer melakukan kick-off. De Wilde adalah refaree. Pertandingan berakhir dengan skor 0-1 untuk kemenangan tim tamu[7]. Game kedua dari Bengali di Bandung bermain dibawah cuaca yang lebih baik daripada pertemuan pertama yakni dengan melawan tim ikatan Bandoengsch. Ini adalah pertandingan internasional pertama yang dilakukan di Bandoeng. Pertandingan ini dipenuhi penonton yang datang sekitar empat jam lebih awal di tempat pertandingan. Jumlah penonton sekitar 6.000 penonton yang didominasi penonton pribumi. Kick-off dilakukan oleh. komandan tentara Z-Ex, Kroesen. Sayang sekali, hasil akhir 1-0 untuk kemenangan Calcutta. Susunan pemain kedua tim adalah sebagai berikut[8]:

 

1d3e5a897a0b83a5e2441e78a07a2b11_image001

 

 

 

***

Dalam lanjutan liga Bandung, hasil-hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut[9]: Osvia vs Sidolig (0-8) dan pada setengah main sudah (0-4). Pertandingan lain antara Stormvogels vs UNI (0-1). Pertanbdingan ini dengan berat dan berlumpur. UNI dalam hal ini hanya bermain dengan sepuluh pemain. Pada pertandingan berikutnya Sidolig vs Sparta di lapangan Aloon-Aloon. Pertandingan yang dipimpin wasit Poltynski berakhir dengan kemenangan si merah hitam dengan skor 1-3[10].

 

Dalam partai terakhir yang menentukan bertemu Sidolig dengan Velocitas. Pertandingan ini sangat penting bagi Sidolig. Jika Sidolig meraih kemenangan maka Sidoligers harus bersaing dengan Sparta dalam selisih gol. Dengan kata lain Sidolig harus menang dengan lebih dari satu gol. Numun itu tidak akan mudah, karena Sidolig harus bertandang ke kandang Velocitas di Tjimahi. Posisi antara Sidolig dengan Sparta sebelum pertandingan dalam Liga Bandoeng Divisi Satu 1924 adalah sebagai berikut:

 

0538b323aac3ca30d33ca0d660b8b52c_image001

 

 

Dalam pertandingan yang menentukan bagi Sidolig ini disambut dengan perasaan dag dig dug oleh para publik Bandoeng. Sidolig sudah lama tidak mendapat gelar juara liga, terakhir Sidolig juara liga tahun 1921. Para bobotoh akan mendampingi Sidolig ke Tjimahi. Di dalam Bataviaasch nieuwsblad, 11-11-1924 melaporkan: tak terhitung penonton mengikuti adegan yang dilangsungkan di desa pegunungan militer, penonton Bandoeng juga melakukan penyeberangan (mungkin maksudnya ikut bertandang) ke kandang lawan.

 

Sebelum pertandingan dimulai dan sebelum pluit dibunyikan Bandoengsche Soendaneshe sendiri dalam jumlah besar datang dan tiba di markas klub Tjimahi ini, yang mereka cintai, dengan kekuatan mereka untuk memuji dan memberi dukungan yang diberikan. Pertemuan berakhir dengan 1-0 bagi si celana merah, yang dengan itu Perkumpulan Sepakbola Militer, Sparta yang berhak menjadi juara liga Bandung…. Ini berarti Sparta mengambil alih kembali mahkota itu dari tangan UNI yang tahun sebelumnya lepas dari genggaman Sparta.

***

Pasca kompetisi, sejumlah pertandingan dilangsungkan di Bandung, diantaranya dua kontes yang dimaksudkan untuk para korban musibah di Wonosobo. Pada hari Sabtu sore, Sparta vs Stormvogels (1-1) dan UNI vs Sidolig (3-1)[11]. Selanjutnya HBS, juara Surabaija melawat ke Bandung untuk melakukan dua pertandingan pada tanggal 25 dan 26 masing-masing melawan Hercules dari Batavia dan Sidolig sendiri sebagai tuan rumah[12].

 

Klub Bandoeng, Batavia dan Semarang dan klub militer

 

Liga Bandoeng 1925 dimulai pertengahan bulan Maret. Pertandingan perdana yang dilakukan hari Minggu mempertemukan Luno melawan Sidolig. Pertandingan ini berakhir dengan kemenangan Sidolig 0-2[13]. Di sela-sela liga, sejumlah pertandingan persahabatan dan turnamen dilakukan di Bandung. Pertandingan yang cukup menyita perhatian adalah turnamen yang diselenggarakan dalam rangka pembukaan lapangan sepakbola baru UNI. Beberapa klub diundang baik dari dalam kota maupun luar kota. Dalam turnamen ini disediakan piala bagi pemenang oleh Mr De Vries dan juara diberi medali emas dan runner up perak. Pada pertandingan pertama, Jumat tanggal 10 antara Sidolig dengan SVBB dari Semarang. Kemudian hari Sabtu antara Vios dari Batavia vs UNI. Pada hari Minggu Vios vs Sidolig. Hari Senin antara dua klub militer, Sparta dari Bandoeng melawan DOO, Meester Cornelis dari Batavia[14]. Hasil-hasilnya antara lain: SVVB- Sidolig 2-1[15]. Sidolig vs Vios 3-3 dan UNI vs Sidolig (1-0).

 

Lapangan UNI Bandoeng, 1926

Lapangan UNI Bandoeng, 1925

 

Selanjutnya dilakukan kontes yang disebut Fuld antara UNI vs Sidolig dalam rangka menyambut ulang tahun Ratu Juliana. Dalam pertandingan ini, Sidolig dalam dua puluh menit terakhir hanya dengan 10 pemain karena cedera (di sepakbola Bandung ada kebiasaan bahwa setelah jeda pertandingan (turun minum) pergantian pemain tidak diperbolehkan lagi). Pertandingan ini berakhir 3-1 untuk UNI[16]. Pertandingan lainnya adalah De Jaarbeurswedstrijden[17].

 

Sepakbola Bandoeng lesu darah, Ada apa?

 

Bataviaasch nieuwsblad melaporkan lanjuran kompetisi Liga Bandoeng antara Sidolig vs Sparta di lapangan Sidolig. Dalam pertandingan ini, diulas bagimana suasana terbaru di Bandoeng. Di Lapangan sepakbola Sidolig dianggap cuaca paling indah dan memikat di dunia. Selain langit biru jernih, tidak ada terik matahari menusuk dan angin sejuk. Namun di atas lapangan itu, pertandingan menyuguhkan permainan yang berada jauh di bawah tingkat normal. Klub si merah hitam, Sparta dari Tjikoedahpateuh tampak jalannya tidak kencang lagi (menyindir klub yang berhomebase di lapangan Tjikoedapateuh). Apakah yang menyebabkan pertandingan ini tampak lesu?. Sidolig yang menjadi tuan rumah juga tidak menunjukkan antusias. Pertandingan berakhir 1-1[18]. Koran yang terbit di Batavia tersebut juga melaporkan perhelatan Piala Sanatorium. Pada hari Minggu di Tjimahi, Velocitas dan De Stormvogelt melakukan duel. Pertandingan yang dilaksanakan di daerah pegunungan ini tidak tampak ketegangan dan jumlah penonton sangat minim. Hal ini berbeda dengan tim-tim yang dari Bandoeng yang dilakukan di tempat lain yang telah melangsungkan pertandingan antara Sparta vs Sidolig. Di partai final, Sidolig akan bertemu dengan pemenang dari Tjimahi ini[19].

 

Bataviaasch nieuwsblad edisi 04-08-1925 juga melaporkan turnamen yang disebut De Olympiade-Wedstrijden. Dalam pertandingan yang dilangsungkan klub tim zebra,Velocitas menang melawan klub kostum merah-putih (1-0). Pada hari Minggu sore Sidolig vs Stormvogeh. Pemenangnya melawan pemenang Sabtu antara UNI dan Luno. Partai final akan dilaksanakan pada hari Senin[20].

 

Skorsing Pemain

 

Sepakbola Bandung sesungguhnya semakin mekar. Namun klub-klub yang ada selama ini mulai menunjukkan keanehan. Selain sejumlah pertandingan tampak ada kelesuan juga frekuensi perkelahian di lapangan juga semakin meningkat. Organisasi yang mengelola sepakbola Bandung selama ini (BVB), menilai ada indikasi performance klub-klub mulai kendor. Para petinggi BVB mulai galau. Harapan NIVB terhadap sepakbola Bandoeng berbanding terbalik dengan kenyataan akhir-akhir ini. BVB mulai tegas.

 

Bataviaasch nieuwsblad edisi 28-08-1925 melaporkan berita yang tidak lazim dari markas BVB Bandoeng. Koran ini menulis: atas nama BVB, sekretaris dan bendahara memberikan konferensi pers: menyusul bentrokan antara Seket dan Tan Heng Bie (pemain Sidolig dan pemain HBS). Selama dan setelah pertandingan yang berkesudahan Sidolig vs HBS (2-3) pada hari Sabtu tanggal 9 Agustus, Bond (BVB) telah memutuskan. untuk menolak dua pemain ini terus partisipasi dalam pertandingan di bawah tajuk liga. Anggota dewan BVB (KNBSB-Board) tidak sepakat dengan keputusan ini dan meminta dibentuk tim penyelidikan untuk membuktikan ketidakpuasan dari KNBSB-Board apakah terbukti benar. Selain itu, Dewan KNBSB juga meminta mempertimbangkan pemain dari Sparta dan SVV (Deunen dan Sumual). Hal ini karena aksi mereka selama pertandingan Sparta vs SVV yang berakhir 3-1 pada tanggal 20 Agustus ditengarai bersumber dan disimpulkan dari materi suratkabar yang memberitakan cukup berlebihan[21].

 

Pertandingan terakhir putaran pertama, jumlah penonton menurun

 

Dalam memasuki fase penutupan putaran pertama kompetisi liga Divisi Satu Bandoeng, sejumlah pertandingan dilakukan. Bataviaasch nieuwsblad, 08-09-1925 melaporkan pertandingan antara Luno vs Sidolig. Pertandingan yang dihelat pada hari Minggu ini tampak lesu. Dalam pertandingan ini Luno kesulitan dan berakhir dengan kekalahan 2-0. Tim merah-putih ini sangat menderita dan putus asa untuk mendapatkan hasil Sidolig sebaliknya dimulai dengan antusiasme yang belum pernah terjadi beberapa waktu terakhir ini, meskipun pertempuran itu Sidolig hanya bermain dengan delapan orang. Game dimulai ketika wasit meniup pluit, irama Sidolig telah hampir lenyap. Baru mulai tampak tim si biru-putih yang mana pengatur serangan, van Dijk mulai memerankan fungsinya sebagai pusat untuk didistribusikan dan itu dilakukan dengan baik, tetapi dengan jumlah pemain yang ada tidak berkembang dari segi kecepatan[22].

 

Supporter Sepakbola (dewasa, wanita dan anak-anak) di Bandoeng, 1925

Supporter Sepakbola (dewasa, wanita dan anak-anak) di Bandoeng, 1925

 

Pada pertandingan terakhir yang menandai ditutupnya putaran pertama liga Bandoeng 1925, Bataviaasch nieuwsblad edisi 30-09-1925 melaporkan sebagai berikut: pertandingan UNI vs Sidolig, keduanya berada pada posisi nomor satu, namun atas dasar posisi keduanya di dalam liga saat ini, UNI akan cenderung untuk memprediksi kemenangan gemilang. Sebagaimana diketahui situasi sepakbola Bandoengsche, hubungan keduanya di dalam pertai-partai terakhir selalu memainkan permainan terbaik mereka dan tidak pernah menyerah diri sepenuhnya, namun ini secara berbeda dan akan memiliki pertandingan antara dua serikat ini tidak akan banyak masalah yang timbul di lapangan. Permainan mereka biasanya tidak akan mengecewakan. Jadi terjadilah juga di hari Minggu ini. Karena dalam hal ini jumlah rekor penonton tidak seperti biasanya (setidaknya jumlah penonton dari dua atau tiga tahun terakhir, ketika penonton di lapangan yang mampu mencapai delapan dan sembilan baris penonton di dalam lapangan. Dalam kontes kali ini, bendahara klub tuan rumah hanya menyebut dengan dua, paling banyak tiga baris penonton[23]. Pengertian baris di sini adalah semacam saf, sebab saat itu penonton di luar tribun semuanya menonton dengan berdiri.

 

Dalam pertandingan sepuluh menit pertama si biru-putih menguasai permainan, Sempat terjadi bentrok antara Loyman dari UNI dengan Soegeng dari Sidolig. Kiper Sidolig, Kooymans mengejar dan berusaha melerai dan keduanya dapat dipisahkan, Untungnya dua pemain yang berseteru selama pertandingan dapat menjaga sikap. Sementara itu, seorang pemain, Hunter Sr. mengalami cedera dan atas saran dari dokter divonnis tidak akan bermain sepak bola dalam waktu yang lama. Ini satu pukulan bagi UNI dan dianggap cacat serius bagi tim, karena peran Hunter sangat sentral dalam tim. Dua pemain dari klub yang berbeda ini pada hari Minggu ini bermain cukup bagus. Mastenbroek dari UNI mampu mengatasi pertahanan ketika Sidolig dengan langkah yang megah mampu cukup mudah menguasai terus setengahnya. Tembakan tinggi dari van Dijk, pengatur serangan Sidolig tidak berdampak lebih baik, sedangkan Soegeng berulang kali mendapat peluang hilang begitu saja. Setelah limun (maksudnya setengah main, pada saat istirahat biasanya minum limun) pertandingan tidak kunjung memukau penonton. Pertandingan berkesudahan 0-0. Wasit Foltynski terlihat puas karena tidak terjadi konflik yang cenderung merepotkan.

 

Catatan

 

Sepakbola Bandoeng sudah berumur 21 tahun, setidaknya kita membandingkan pertandingan terakhir__antara UNI dan Sidolig yang mengakhiri Liga Bandoeng 1925__dengan saat pertamakali Sidolig mendapat tawaran bermain dari klub Batavia pada tahun 1904. Pertandingan 1903 boleh jadi sebuah kontes perdana klub Bandoeng__yang memiliki nilai berita (news). Umur ini artinya, sepakbola Bandoeng sudah mulai beranjak dewasa. Sejak 1918, sepakbola Bandoeng yang berusia 14 tahun memasuki masa remaja, tumbuh dan berkembang pesat dan mencapai puncaknya tahun 1922. Setelah melampaui usianya 18 tahun sepakbola Bandoeng mulai diselimuti berbagai kejadian penting.

 

Keretakan di tubuh klub Sidolig, kebanggaan para bobotoh Bandoeng yang bermula dari pengurus BVB vs Sidolig yang akhirnya melahirkan klub sempalan Stormvogels, lalu merembet ke perseteruan klub yang parallel permusuhan antar supporter. Sejauh ini prestasi sepakbola Bandoeng biasa-biasa saja, meski belum pernah menjadi juara baik antar bond (perserikatan) maupun antar klub, tapi melihat animo penonton Bandoeng yang luar biasa (kala itu) plus apresiasi yang tinggi dari petinggi sepakbola NIVB terhadap maraknya persepakbolaan di Bandoeng, sepakbola Bandoeng dengan sendirinya telah mendapat tempat yang prominent di kancah sepakbola di Hindia Belanda. Pemerintah kota telah menikmati hasil dari maraknya sepakbola Bandung, seperti pajak tontonan, pajak iklan dan retribusi lainnya.

 

Billboard iklan promosi di pinggir lapangan sepakbola

Billboard iklan promosi di pinggir lapangan sepakbola (1925)

 

 

Semua itu akan sirna jika masa suram sepakbola datang, jika pertandingan antar tim mulai tampak kurang heroik dan berjalan lesu. Hal yang paling ditakutkan dalam dunia sepakbola adalah animo penduduk mulai berkurang dan penonton yang datang ke stadion mulai berkurang. Skorsing klub dan skorsing pemain di satu sisi adalah baik jika hal itu diberikan pada tempatnya, dan mendorong ke arah sportivitas dan menjamin sepakbola tetap bersifat kompetitif. Namun jika pertandingan tidak mengindikasikan semangat bukan tak mungkin penonton kemungkinan untuk mengubah haluan baru. Pertandingan yang bermutu dalam sepakbola adalah syarat perlu, tetapi tidak cukup jika tidak ada penonton. Jumlah penonton yang membludak menunjukkan system tatakelola sepakbola berjalan baik. Sepakbola tetaplah sepakbola. Bagi bobotoh, siapapun tuannya, baik Belanda atau pribumi mereka akan memilih yang memberikan hiburan. Bagaimana kelanjutan sepakbola Bandoeng, mari kita lacak terus serupa apa yang akan terjadi.

 

(bersambung)

 

 

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.


[1] Bataviaasch nieuwsblad, 23-04-1924

[2] De Indische courant, 07-05-1924

[3] Bataviaasch nieuwsblad, 07-05-1924

[4] Bataviaasch nieuwsblad, 25-06-1924

[5] Bataviaasch nieuwsblad, 14-08-1924

[6] Bataviaasch nieuwsblad, 20-08-1924

[7] Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 18-10-1924

[8] Bataviaasch nieuwsblad, 18-10-1924

[9] Bataviaasch nieuwsblad, 05-11-1924

[10] Bataviaasch nieuwsblad, 11-11-1924

[11] Bataviaasch nieuwsblad, 18-12-1924,

[12] Bataviaasch nieuwsblad, 24-12-1924

[13] Bataviaasch nieuwsblad, 17-03-1925

[14] Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 08-04-1925

[15] Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 11-04-1925

[16] Bataviaasch nieuwsblad, 06-05-1925

[17] Bataviaasch nieuwsblad, 23-06-1925

[18] Bataviaasch nieuwsblad, 21-07-1925

[19] Bataviaasch nieuwsblad, 22-07-1925

[20] Bataviaasch nieuwsblad edisi 04-08-1925

[21] Bataviaasch nieuwsblad edisi 28-08-1925

[22] Bataviaasch nieuwsblad, 08-09-1925

[23] Bataviaasch nieuwsblad edisi 30-09-1925

-