Sejarah PERSIB Bandung (4): Kisruh dan Politik Sepakbola di Bandung

13 Mar 2015

Pada jelang penyelenggaraan Kejuaraan Antarkota yang dilangsungkan di Batavia tahun 1919 telah dilaksanakan suatu pertemuan antar pengurus perserikatan (bond) dari empat kota (Batavia, Semarang, Surabaya dan Bandoeng). Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah hal terutama sepakat membentuk federasi sepakbola yang disebut Nederlandsch-Indische Voetbal Bond yang disingkat NIVB pada tanggal 20 April 1919. Kemudian statuta NIVB disahkan 20 Oktober 1919 dan NIVB diusulkan masuk FIFA lalu kemudian diterima secara resmi 24 Mei 1924. Dalam fase ini, di Bandung terjadi sejumlah perkara mulai dari level liga (1923) hingga level klub (1924) bahkan adanya bentrok antara penonton dengan aparat di level pertandingan (lapangan). Kisruh bergeser ke arah dugaan munculnya politik sepakbola di tubuh BVB.

 

***

Memasuki awal tahun 1922, seperti biasa liga didahului oleh pertandingan kesebelasan (ke XI-an) Bandung vs Cimahi. Oleh karena sudah diagendakan turnamen yang disebut Sidoligvaandel yang dimulai tanggal 8 Januari, maka pertandingan Bandung vs Cimahi terpaksa dimajukan pada tanggal 1 Januari 1922. Namun para pemain keberatan dan pertandingan tradisi Bandung vs Cimahi tersebut menjadi batal. Sementara itu turnamen Sidoligvaandel tetap dilaksanakan. Pada tanggaal 8 antara Luno vs Osvia, kemudian tanggal 15 Sparta vs Velocitas, dan tanggal 22 antara Sidolig vs UNI. Tanggal 29 antara pemenang tanggal 8 vs pemenang tanggal 22 dan tanggal 5 Februari antara pemenang tanggal 22 vs pemenang tanggal 15.

 

Semua pertandingan ini dilaksanakan di Bondsterrein (Aloon-Aloon). Hasil dari Sidoligvaandel adalah Sidolig vs UNI (3-1), Luno vs Osvia (0-1) dan Sparta vs Velocitas (1-0). Dalam pertemuan antara Sidolig vs UNI selalu punya daya tarik karena penonton datang berduyun-duyun dan sepanjang garis persegi lapangan penuh sesak. Lapangan Aloon-Aloon tampak tidak kondusif, karena sebelumnya hujun dan drainase lapangan yang buruk, di beberapa tempat seakan tampak bagaikan rawa[1]. Pada pertandingan terakhir yang dilangsungkan tanggal 5 Februari yang dimulai pukul 4.45, diluar dugaan Sidolig dikalahkan Osvia dengan skor (2-3). Osvia akan bertemu dengan Sparta di partai final yang akan dilaksanakan minggu depan[2]. Sparta akhirnya menjadi juara turnamen Sidoligvaandel ini.

***

Turnamen yang dilakukan pada bulan September yang disebut Jaarbeursbeker (Piala Jaarbeurs) yang hanya diikuti lima klub. Osvia tidak ikut berpartisipasi. Skemanya sebagai berikut: 17 Sepetember (A) UNI vs Sidolig dan (B) Luno vs Velocitas. Pada tanggal 24 September antara Sparta vs Pemenang (A). Tanggal 8 Oktober sebagai final. Hasilnya UNI vs Sidolig berakhir 0-0 lalu diundi dan UNI yang dianggap pemenang, sementara itu Luna vs Velocitas juga berakhir imbang dengan skor 1-1 lalu diundi dan pemenangnya adalah Luno[3]. Kantor berita Aneta melaporkan bahwa bulan Oktober telah dilangsungkan pertandingan pada hari Sabtu yang mempertemukan klub Hercules dari Batavia dan Sidolig yang berakhir dengan hasil imbang (0-0). Sementara pada hari Minggu pagi Hercules mengalahkan UNI dengan skor 2-0[4]. Pada minggu berikutnya, Sidolig mengalami kekalahan 0-4 dalam Veli Six Bekershen di Bandung melawan SVBB Semarang[5].

***

Pertandingan antara Sidolig dengan Luno terpaksa dibatalkan karena lapangan di Javastreet (jalan Jawa) banjir karena hujan. Sementara itu, UNI bertandang ke Tjimahi melawan Velocitas. UNI yang berkostum putih-hitam harus menelan kekalahan 1-3. Dalam pertandingan ini, Velocitas hanya bermain dengan sepuluh pemain karena seorang pemain terlambat lima menit saat peluat dimulai jalannya pertandingan. Meski pertandingan di bawah hujan gerimis selama 20 menit pertama, tetapi antusias penonton tidak berkurang. Dengan kepemimpinan wasit yang baik semua pihak puas[6]. Pada hari Sabtu dilakukan pertandingan amal di Sidoligveld antara Sidolig vs Sparta. Pertandingan ini merupakan prakarsa seorang militer, Kapten Hogewind yang hasilnya akan dihibahkan kepada para pensiunan militer yang kurang beruntung. Kickoff dilakukan oleh anglima militer dengan wasit Politynski. Dari pertandingan ini terkumpul sebesar 600 dollars[7].

 

***

Liga Bandoeng musim 1922 tidak dapat diselesaikan hingga akhir tahun. Banyak hal terjadi, satu diantaranya penundaan pertandingan karena hujan. Akibatnya jadwal liga menjadi molor dan tidak bisa diselesaikan selama tahun 1922. Pada tahun kalender yang sudah memasuki tahun 1923 dilangsungkan pertandingan terakhir liga Bandung antara Velocitas vs Luno yang berakhir 3-1. Luno dalam hal ini hanya bermain dengan sembilan pemain pada saat kick off. Pada saat yang sama berlangsung antara Sidolig vs Sparta di Sidoligveld di Javastreet yang pertandingan ini berakhir dengan skor 3-1 untuk kemenangan Sidolig. Dengan berakhirnya pertandingan tersebut maka yang menjadi juara adalah klub (militer) Sparta (Bandoeng). Klassemen akhir Divisi Satu liga Bandoeng 1922 adalah sebagai berikut[8]:

 

b43748b94acee9664519215b517633c2_image001

 

Kisruh Liga

 

Liga Bandoeng sejauh ini identik dengan liga big four. Empat klub yang sejak awal diadakannya kompetisi Bandoeng Voetbal Bond (1914) tetap berpartisipasi dalam liga. Tiga klub dari Bandoeng (Sidolig, UNI dan Sparta) dan satu dari Tjimahi (Velocitas). Tiga klub Bandoeng ini sudah pernah juara, sedangkan Velocitas berasal dari luar Bandung, tetapi keberadaannya tetap menunjukkan perlawanan yang baik (underdog). Sementara itu, Luno dan Osvia tetap berada di dasar klassemen setiap akhir liga.

 

Peta Bandoeng - Tjimahi, 1920

Peta Bandoeng - Tjimahi, 1920

 

Pada musim kesebelas Liga Bandoeng ini jumlah perserta pada Divisi Satu bertambah satu klub yakni HBS. Klub ini selama ini berkompetisi di Divisi Dua. Dengan demikian kompetisi tahun 1923 diikuti tujuh klub[9]. Namun, hal ini bukan dianggap sesuatu yang baik, malahan menimbulkan adanya reaksi dan berlanjut pada protes kepada BVB. Diskusi dan perdebatan tentang kualitas kompetisi dan keberadaan klub mulai digugat. Prestasi klub Luno dan Osvia tidak kunjung menunjukkan kinerja yang baik, kini persoalan ditambah dengan masuknya HBS dalam liga utama yang beberapa pihak menganggap tidak begitu layak. Namun demikian kompetisi tetap berjalan. Klassemen sementara Divisi Utama adalah sebagai berikut[10]:

 

14027e72b1ab0f20b7cff29291556e65_image001

 

***

Persoalan akhirnya pecah. Direktur Sidolig (Mr. Brandsma) dan Presiden BVB (Mr Muscle) dalam perang urat syaraf. Kritik dan komentar dari Mr. Brandsma dari Sidolig yang beberapa waktu ini telah membuat Mr Muscle berang. Kritik itu juga termasuk soal afiliasi Bandoeng dengan NIVB. Presiden BVB menganggap sikap pimpinan Sidolig dianggap dapat bahaya laten tatanan BVB dan perdamaian dunia sepakbola di Bandoeng. Presiden mengancam akan menskorsing Sidolig (pada masa itu klub identik dengan pimpinannya, perilaku pengurus dianggap perilaku klub)[11].

 

Kisruh Klub

 

Kisruh antara Mr. Brandsma dan Mr Muscle semakin terbuka dan nyata-nyata telah melebar kemana-mana. Buntut awal perselisihan itu menyebabkan pimpinan Sidolig tidak bersedia melawan klub UNI (musuh bebuyutan Sidolig) dalam satu pertandingan yang diagendakan BVB. Kisruh ini dalam perkembangan lebih lanjut juga telah membuka pula adanya keretakan di internal Sidolig atas pimpinan yang sekarang dengan pengurus lama, mempertanyakan kehadiran HBS sebagai klub Bandung juga melebar dengan keberadaan Velocitas yang dianggap bukan klub Bandung. Klub Velocitas beberapa oknum menganggap Velocitas klub kampong di luar kota.

 

Permasalahan-permasalahan yang timbul beberapa waktu lalu akhirnya BVB membuat keputusan bahwa Velocitas tetap menjadi ikut kompetisi di Bandung karena olahraga tetaplah olahraga, klub baru muncul yang bernama Stormvogels yang pemainnya berasal dari Sidolig dan sejumlah pemain yang berasal dari Batavia dan Semarang. Salah satu keputusan yang memojokkan Sidolig adalah pimpinan BVB dan pimpinan NIVB bersepakat untuk melarang (menunda) Rapat Tahunan Sidolig yang akan dilaksanakan pada bulan Februari 1924 dan semua game Sidolig dibatalkan[12].

 

Dalam perkembangannya, akhirnya jatuh skorsing sepihak untuk Sidolig[13]. Hukum skorsing ini ditengarai karena buntut perselisihan yang terus memuncak ketika Sidolig tidak begitu sepakat dengan pencalonan tunggal pimpinan BVB dalam kongres yang akan diadakan sementara Sidolig memiliki calon alternative (Mr. Stenger). Sehubungan dengan skorsing ini, pimpinan Sidolig tidak ambil diam, malah melancarkan protes kepada pimpinan BVB. Sidolig membuat pernyataan yang dikutip pers: ..ini adalah praktik yang bertentangan dengan hukum, yang pasti setiap orang di hadapan hokum memiliki hak untuk didengar sebelumnya”serangan anda membuat suasana hati terhadap prestise, penghinaan, penyerangan seksual terhadap kehormatan dan nama baik kami. Demikian komunike dari markas Sidolig.

***

Selanjutnya liga dilanjutkan dengan penangguhan game yang akan dimainkan oleh Sidolig. Di markas Sidolig dilakukan dengan sikap demonstratif dengan bendera klub setengah tiang[14]. Kisruh sepakbola Bandoeng ini menjadi pembicaraan di kota-kota lain. Berbagai pihak menyayangkan bahwa sepakbola dengan kometisi yang marak di Bandoeng telah mengalami degradasi. Pertandingan antara Sparta vs Osvia dilakukan di Tjikoeda (mungkin dimaksudkan agak menjauh dari markas Sidolig) dengan hasil akhir 2-0 untuk Sparta. Pertandingan lainnya antara UNI vs HBS yang dimenangkan UNI dengan skor dua nol. Namun dalam perkembangan lebih lanjut game Sidolig tetap dilaksanakan yang semuanya dimainkan di lapangan Aloon-Aloon. Dari hasil-hasil tersebut, posisi klub dalam klassemen sementara adalah sebagai berikut[15]:

 

f850ec906bc1620a5ea17cab7f7097ed_image001

 

Dalam koran ini, dari Markas BVB dilaporkan dalam kongres luar biasa yang dilakukan hari Minggu telah berhasil memilih pimpinan sebagai berikut: Spier, voorzitter, Nagel, vice-voorzitter; Bissard, Brookman, Foltynski, van Helsdingen dan Melsen, Commissarissen; De Wilde, Secretaris-Penningmeester[16]. Dari markas tertinggi sepakbola Bandung ini juga dilaporkan adanya penambahan klub baru: Odio (Ons Doel Is Overwinnen), De Stormvogels dan SVV (Studenten Voetbal Vereeniging).

 

Kisruh Pemain

 

Dalam lanjutan, sisa pertandingan Liga Bandoeng 1923 kembali dilaksanakan. Dalam hal ini 99 persen UNI akan menjadi juara[17]. Namun dalam hal ini masih menantikan segera pertandingan yang cukup menentukan dan menegangkan antara Sidolig vs UNI dua klub yang saling berseteru. Hujan yang turun sejak pukul 3.00 sore telah membuat lapangan bagaikan banjir sementara bobotoh sudah datang berbondong-bondong dan telah berkumpul. Akhirnya game Sidolig vs UNI segera dimainkan yang ditandai dengan pluit panggilan wasit Poltiynski. Namun, Sidolig tidak beranjak ke tengah lapangan. Ternyata pemain Sidolig belum lengkap. Bobotoh masih terus berdatangan meski sudah banyak penontong yang hadir sejak lima jam yang lalu. Tepat pukul 4.45 Poltynski meniup peluit yang kedua, meski Sidolig berada di tengah lapangan tetapi masih menunggu, masih ada dua pemain yang belum datang. Wasit terbaik ini akhirnya memenggil kedua kapten tim untuk memulai game. Sidolig bermain dengan tim yang tidak lengkap. Sldollg: Woudstra. Gout, Siberg. Timmermans, Visman, Jusuf. Middleton, Extor dan Quentin; UNI: Bochem, Hunter, Glesel, v.Leyen, Hagenaar, Claessen, F. Qoldman, v. Wells, d. v.Goidman, Vink dan Djin (kipper).

 

Pertandingan ini cukup seru dengan sorak sorai penonton yang didukung dominan para bobotoh yang mendukung klub kesayangan mereka si biru putih (blauw-witten). Serangan Sidolig selalu kandas. Gawang UNI yang dikawal anak Tionghoa, Djin tetap aman untuk sementara. Sempat terjadi ketegangan. Wasit Poltynski tiga kali menghentikan pertandingan karena ada adu jotos antar pemain di tengah permainan. Akhirnya game ini berakhir: Si biru putih Sidolig menelan kekahalahan pahit dari si celana hitam, UNI dengan skor 0-1. Dalam pertandingan lain di Tjimahi Velocitas vs Osvia 2-2[18]. Dalam pertandingan ini juga terjadi ketegangan antar pemain karena perselisihan tentang handsball.

***

Klub yang baru didirikan Stormvogels dan Goudvisschen melakukan pertandingan persahabatan. Klub ini sekarang bahwa pemisahan telah menjadi kenyataan, konflik di Sidolig. Ada pemain dari Batavia dan Semarang. Dalam berita ini juga dilaporkan sisa pertandingan liga[19]. Pertandingan yang bersifat eksebisi ini dimaksudkan untuk membiasakan diri sebagaimana klub yang baru dibentuk. Klub Stormvogels anggotanya kini sudah hampir 100 pemain dan sudah siap untuk ikut kompetisi dalam liga yang berikut. Susunan tim Stormvogels sebagai berikut: M.Lellveld Altmann, Hooydonk Deng, v Dongen, Weber Sr, Mols, E.Leliveld, vd Worm dan Weber Jr. Tim si hitam ini tiga pemain dikenal berasal dari Batavia, yaitu M. Lellveld, G. Hooydonk dan Mols serta tiga dari SVBB Semarang. Yang lainnya sudah dikenal selama ini sebagai Sldoligspelers. Sempat ketinggalan, lalu satu menit jelang usai, Worm menjebol gawang lawan yang akhirnya pertandingan berkesudahan 1-1. Pertandingan ini dihadiri oleh penonton yang terbilang cukup banyak. Koran ini juga melaporkan pertandingan sisa liga Bandung dilaksanakan sejumlah game terakhir. HBS vs Velocitas (0-1) dan Osvia-Sparta (0-6). Bobotoh dari Sidolig mendukung Osvia dan mereka pulang dengan sangat kecewa.

 

Kisruh Turnamen

 

Kini klub Luno yang menyelenggarakan turnamen setelah liga berakhir. Turnamen ini disebut Luno-wedstrijden. Penyelenggaraan turnamen ini mengikuti aturan main yang disebut Fuldschoen-competitie. Pangkal adanya masalah dalam turnamen ini karena klub Stormvogels berpartisipasi[20]. Tim kostum merah-putih Luno dan tim kostum zebra kuning-hitam Velocitas keberatan. Keinginan BVB agar Stormvogels disertakan dalam turnamen sesame klub Bandoeng ini disebut media sebagai Fuldschoen Drama. Bagaimana munculnya kisruh yang ditengarai berbau politis mari kita simak.

 

Keluarga Klub Luno Bandoeng, 1927

Keluarga Klub Luno Bandoeng, 1927

 

Ternyata perdamaian di dunia sepakbola Bandoeng belum mereda. Kerukunan dan sportivitas terganggu dan dapat membangkitkan perselisihan baru. Ibarat kata, ada yang berusaha memadamkan api tetapi ada juga yang memulai menyulut api baru. BVB mengusulkan adanya aturan baru sehubungan dengan masuknya Stormvogels dalam kompetisi liga musim berikut. Luno merasa tersaingi oleh pendatang baru dan Velocitas merasa terusik karena dianggap klub non BVB. Luno dan Velocitas berpegang pada Pasal-1 dari ketentuan Fuldschoen yang menyebutkan bahwa klub yang berkompetisi pada Divisi Satu Liga BVB dapat berpartisipasi. Ketentuan baru, klub masuk Divisi Satu jika klub memiliki tiga tim yang berbeda di semua divisi. Velocitas tidak memenuhi ketentuan ini sementara Stormvogels dapat memenuhinya.

 

Hal itu yang memicu mengapa kebencian Velocitas muncul terhadap klub Stormvogels. Satu hari sebelum dimulainya kompetisi Luno dan bergabung dengan Velocitas untuk memprotes lagi. Luno tidak mau menerima kehadiran Stormvogels dan Velocitas mau menarik diri dari kompetisi. Reaksi datang dari Stormvogels dan pihak-pihak yang pro dengan mereka. Sikap agresif Velociias terhadap Stormvogels dianggap sebagai bukti bahwa dunia sepakbola kita masih tampak gunung berapi dan bergemuruh, kemarahan protes Velocitas karena tidak mampu mengikuti rancangan ketentuan yang baru. Apakah ini tidak berlebihan, karena sebelum ini mereka (Velocitas) tidak memprotes atas pendaftaran HBS.

 

Dengan penarikan Velocitas ini maka juara Bandoengsche, UNI di dalam turnamen ini tanpa perlawanan di semi-final, di mana mereka sebelumnya mengalahkan Osvia dengan 3-0. Pada pertandingan lain, Luno berhasil mengalahkan HBS dengan skor 3-2. Sparta mengalahkan Sidolig dengan skor 5-2. Dalam semi final lain, Sparta vs Luno. Pemenang dari pertandingan ini akan bersua UNI di final. Dalam perkembangannya turnamen Luno-wedstrijden atau Lunobeker terjadi perubahan yang mana UNI dihadapkan dengan Sidolig sebagai pengganti Velocitas yang mengundurkan diri.

 

Kisruh di Lapangan

 

Pada pertengahan Maret, 1924 pertandingan UNI vs Sidolig ini sangatlah mendebarkan bukan di partai final, tetapi partai semi final antara UNI dan Sidolig[21]. Ada apa? Koresponden Bataviaasch nieuwsblad dalam hal ini melukiskan pertemuan yang kesekian dua musuh bebuyutan, sebagai berikut: Penonton pribumi tidak meninggalkan kesempatan ini, di tiga sisi lapangan (sisi lain depan tribun) sudah penuh sesak penonton dengan bunyi petasan dimana-mana. Di berbagai titik sudah ditempatkan militer untuk menjamin agar penduduk pribumi tidak membuat kekacauan. Tidak perlu terjadi peritiwa 9 Maret lalu. Jika tidak kita tidak pernah menyelesaikan penonton Bandoengs, dimana investasi kita dalam olahraga sudah sangat terkenal. Disamping itu di sana-sini sudah ditempel poster anti kembang api. Ini dilatarbelakangi kebencian supporter Sidolig yang sudah jauh hari menebar kebencian terhadap klub UNI.

 

Jalannya pertandingan: UNI melakukan kickoff. Game langsung bersemangat, penonton kedua belah pihak sangat antusias. UNI, juara liga, dengan kostum celana hitam, berusaha menekan dan para pemain si biru putih (blauw-witten) Sidolig sempat kewalahan…akhirnya terjadi gol buat UNI. Supporter UNI bersukacita, supporter Sidolig tidak berkecil hati. Pada akhir babak pertama si celana hitam mengendorkan permainan hingga usai babak pertama, 35 menit. Para penonton benar-benar menikmati permainan yang indah, dengan semua 22 pemain untuk bertempur dengan semangat. Pertandingan yang dilangsungkan di lapangan Tjikoeda ini pada babak kedua, UNI langsung memborbardir dan tidak lama kemudian terjadi gol menjadi skor 2-0. UNI terus menggempur dan gol bertambah menjadi 3-0. Selanjutnya, Sidolig mulai bangun pada sepuluh menit terakhir. Pemain belakang UNI membuat kesalahan yang membuat penyerang Sidolig jatuh di kotak terlarang lalu wasit Poltynski menunjuk titik putih. Harry Nitzschke mengambil eksekusi, lalu gol yang membuat kehormatan Sidolig terselamatkan menjadi skor 3-1. Di final, UNI akan bertemu Sparta pada hari Sabtu.

 

Pertandingan si biru putih (Sidolig) vs si putih-putih (Osvia), Aloon-Aloon, 1925

Pertandingan si biru (Sidolig) vs si putih (Osvia), Aloon-Aloon, 1925

 

***

Pada awal April 1924 liga dimulai lagi. Pertandingan pembuka antara UNI vs Velocitas di lapangan Aloon-Aloon. Pertandingan ini tidak dapat diselesaikan karena hujan dan deras yang mengakibatkan banjir. Hari sebelumnya meski lapangan stengah banjir pertnadingan antara Luno vs Sidolig tetap diselesaikan. Hari pertama liga tanpa hiburan di Bandung, lapangan bagaikan kolam renang Tjihampelas. Setelah menunggu lima belas menit, wasit Poltinski yang memimpin laga UNI vs Velocitas coba dibujuk namun tetap berkeyakinan pertandingan tidak bisa dilanjutkan. Alasannnya, pemain tidak bisa bermain nyaman di depan khalayak yang banyak. BVB yang diminta mempengaruhi wasit hanya berkomentar bahwa keputusan wasit mutlak. Dia (Poltynski) adalah wasit terbaik dan dia tahu apa yang seharusnya, bahkan dia termasuk salah satu wasit terbaik di Jawa. Para penonton mulai gelisah, bahkan penonton pribumi sudah berteriak-teriak minta dikembalikan uang yang mereka bayar untuk tiket.

 

Provokasi penonton ini mendapat reaksi dari polisi dan lalu para polisi memburu penonton yang mulai tak terkendali. Pertandingan Sabtu 5 April itu terpaksa dihentikan dengan skor sementara 0-0 dan akan dilanjutkan Senin pagi: bahwa setiap pertandingan ditinggalkan harus diputar tanpa dipungut biaya alias gratis. Pertandingan Luno vs Sidolig tidak berjalan mulus. Pertandingan ini dimulai tepat waktu tetapi pemaian si biru putih tidak kunjung lengkap. Luno protes dan akhirnya babak pertama dimainkan dengan jumlah pemain Sidolig hanya delapan orang. Luno menang 1-0 pada babak pertama. Pada babak kedua Sidolig sudah lengkap dan berhasil membalikkan skor hingga berakhir pertandingan di bawah hujan dan lapanga banjir dengan skor (1-2)[22].

 

Catatan

 

 

Sepakbola Bandoeng terus tumbuh, perserikatan Bandoeng telah menjadi bagian dari federasi sepakbola nasional (NIVB) dan dunia (FIFA). Animo penduduk pribumi Bandoeng juga bertambah bergelora. Namun dalam dua tahun terakhir (1923 dan 1924) tingkat ketegangan juga meningkat karena banyaknya kisruh yang terjadi mulai dari pengurus level liga hingga perseteruan antar klub anggota perserikatan serta reaksi dan ulah para penonton di luar lapangan dan perkelahian antar pemain di dalam lapangan. Insan sepakbola dikota lain menyesali adanya kisruh yang bertautan di Bandoeng dan dianggap sebagai degradasi maraknya sepakbola di Bandoeng. Namun di sisi lain, kisruh-kisruh tersebut boleh jadi menjadi faktor koreksi terhadap mulai lunturnya adagium sportivitas dan bergeser dengan mencuatnya sepakbola komersial dan ditengarai adanya politik praktis di dalam tubuh kepengurusan sepakbola?

 

 

(bersambung)

 

 

 

 

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.


[1] Bataviaasch nieuwsblad, 24-01-1922

[2] Bataviaasch nieuwsblad, 07-02-1922

[3] Bataviaasch nieuwsblad, 19-09-1922

[4] Bataviaasch nieuwsblad, 02-10-1922

[5] Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 04-11-1922

[6] Bataviaasch nieuwsblad, 22-11-1922

[7] Bataviaasch nieuwsblad, 09-01-1923

[8] Bataviaasch nieuwsblad, 23-01-1923

[9] Bataviaasch nieuwsblad, 19-06-1923

[10] Bataviaasch nieuwsblad, 11-10-1923

[11] Bataviaasch nieuwsblad, 13-11-1923

[12] Bataviaasch nieuwsblad, 16-11-1923

[13] Bataviaasch nieuwsblad, 22-11-1923

[14] Bataviaasch nieuwsblad, 27-11-1923

[15] Bataviaasch nieuwsblad, 18-12-1923

[16] idem

[17] Bataviaasch nieuwsblad, 09-01-1924

[18] Bataviaasch nieuwsblad, 09-01-1924

[19] Bataviaasch nieuwsblad, 30-01-1924

[20] Bataviaasch nieuwsblad, 27-02-1924

[21] Bataviaasch nieuwsblad, 19-03-1924

[22] Bataviaasch nieuwsblad, 09-04-1924


TAGS sepakbola


-

Profil Penulis

akhirmh@yahoo.com

Bergabung dengan Blogdetik sejak 4 Juni 2008, menulis blog di waktu luang. Satu dasawarsa terakhir mempelajari ekonomi, industri dan bisnis sepakbola. Untuk lebih memahami topik sepakbola tersebut, sedang mempelajari sejarah sepakbola di Indonesia.

Follow Me