Parade Bundesliga di London: Kunci Sukses Industri Sepakbola Jerman

19 May 2013

Liga Champion Eropa sudah ada sejak musim 1955/1956, namun baru di musim 2012/2013 ini dua klub sepakbola Jerman bertemu di partai puncak (final). Akan tetapi ini bukan kali pertama dua klub dari satu negara saling berhadapan. Pada musim 2002/2003 terjasi All Italian Final antara AC Milan dan Juventus, pada 1999/2000 juga terjadi All Spanish Final antara Real Madrid dan Valencia serta pada musim 2007/2008 All English Final antara Manchester United dan Chelsea.

Pada musim 2012/2013 ini babak final Liga Champion Eropa akan diselenggarakan di Stadion Wembley, London, Inggris pada 25 Mei untuk mempertemukan dua klub Jerman antara Bayern Munchen (bahasa Inggris, Munich) dengan Borussia Dortmund. Menariknya, riwayat klub-klub Jerman (Bundesliga) selama ini tidaklah segemilang klub-klub yang berasal dari Italia, Spanyol dan Inggris. Klub-klub Spanyol sebanyak 13 kali juara, Italia dan Inggris masing-masing 12 kali, sementara Jerman dan Belanda masing-masing enam kali. Dengan terjadinya All German Final pada musim ini, maka klub-klub Jerman akan menjadi kali ketujuh menjadi juara Liga Champion Eropa.


All German Final pada musim 2012/2013 ini semakin menarik karena klub Jerman yang menjadi juara Liga Champion Eropa terakhir terjadi pada musim 2000/2001 yakni Bayern Munchen. Sejak itu, kecuali pada musim 2003/2004 (oleh Porto), klub-klub Spanyol, Italia dan Inggris yang menjadi juara masing-masing sebanyak tiga kali. Anehnya, klub-klub Jerman yang pernah menjuarai Liga Champion Eropa baru dua klub yakni Beyern Munchen dan Borussia Dortmund yang kebetulan kedua klub ini yang akan bersaing sebagai All Germany Final untuk menjadi juara Liga Champion yang baru. Dengan terjadinya All German Final untuk memperebutkan juara Liga Champion di Stadion Wembley, London, maka ini juga berarti akan menjadi parade klub-klub Bundesliga di Inggris.

Persaingan Industri Sepakbola di Eropa

Hegemoni Liga Champion Eropa di seluruh dunia pada masa ini merupakan puncak dari keberhasilan industri sepakbola di Eropa, khususnya di Spanyol, Italia, Inggris dan Jerman. Terjadinya All German Final pada musim ini, menjadi suatu bukti industri sepakbola Jerman maju pesat. Dan karena itu. kehadiran klub-klub Jerman di level Champion Eropa tidak bisa diremehkan lagi pada musim-musim mendatang. Sangat menarik untuk disimak, faktor apa saja yang membuat klub-klub Jerman pada masa ini menjadi klub-klub yang diperhitungkan di seluruh penjuru Eropa.

Pertama, supporter Bundesliga merupakan yang terbaik di Eropa. Jumlah penonton di stadion setiap pertandingan rata-rata sekitar 68.000. Di Liga Premier Inggris yang hanya rata-rata sekitar 35.000. Sedangkan di LA Liga hanya sekitar 29.000 meskipun rata-rata kehadiran di Nou Camp sekitar 90.000. Di Italia lebih rendah lagi, sekitar 25.000. Persentase kursi kosong di Bundesliga sangat rendah, sementara di Liga Premier jauh lebih tinggi. Signal Iduna Park, kandang Borussia Dortmund, memiliki kehadiran rata-rata tertinggi di Bundesliga per musim, sekitar 70.000.

Kedua, setiap pertandingan di Bundesliga tampak lebih semarak. Tiket masuk stadion di Jerman relatif lebih murah tetapi terdapat pengelolaan entertainment yang maksimum di dalam stadion. Borussia Dortmund rata-rata tiap musim memiliki penontong 50.000 dengan tiket musiman yang harganya hanya dihitung sekitar 150. Bandingkan dengan tiket musiman di Inggris yang sangat mencekik. Arsenal - 1,825, Tottenham Hotspur - 1,695, Chelsea - 1,210, Manchester United - 931, Liverpool - 785 dan Manchester City - 632. Dari sebuah hasil survei ditemukan bahwa 59% dari pendukung Manchester United yang memiliki tiket musiman pada musim sebelumnya tidak memperbaharui tiket musim untuk musim berikutnya, dan 15% dari mereka tidak akan dating lagi ke Old Trafford untuk seterusnya.

Ketiga, Bundesliga menerapkan peraturan 50+1 persen bagi pemilik saham utama dan sisanya sebanyak 49 persen saham dijual kepada supporter (ada pengecualian bagi klub Bayer Leverkusen dan Wolfsberg). Ini menunjukkan bahwa Bundesliga telah aktif memanusiakan sepakbola karena sepakbola sendiri adalah tentang supporter, Konsep keseimbangan ekonomi, profitabilitas, solvabilitas klub, dan dukungan khusus dari supporter bergabung dalam peraturan ini yang di kalangan pengamat industri sepakbola dikenal sebagai liga harmoni. Bandingkan dengan di Liga Premier dimana Abrahimovics, Syaikh, dan Glazer, yang memiliki 100% saham klub. Sementara sebaliknya di Spanyol ada sejumlah klub (termasuk klub raksasa Barcelona dan Real Madrid) yang dikelola dengan cara koperasi.

Kempat. klub-klub di Bundesliga tidak tergantung pada investor asing. Mereka menolak investasi asing (pemodal dari luar Jerman). Dengan pengaturan keuangan yang lebih ketat bagi klub, terbukti sejak 1963 (Bundesliga) tidak pernah klub professional di Jerman yang bubar. Di Inggris sejaka 1992 sudah 55 klub yang bubar karena kesulitan keuangan [Akhir Matua Harahap]


TAGS


-

Profil Penulis

akhirmh@yahoo.com

Bergabung dengan Blogdetik sejak 4 Juni 2008, menulis blog di waktu luang. Satu dasawarsa terakhir mempelajari ekonomi, industri dan bisnis sepakbola. Untuk lebih memahami topik sepakbola tersebut, sedang mempelajari sejarah sepakbola di Indonesia.

Follow Me