Kasus Klub Persibo di AFC Cup: Pelanggaran Fair Play Keuangan

11 Apr 2013

Dalam lanjutan fase grup Piala AFC, Persibo, klub profesional Indonesia bertandang ke Hong Kong. Hasilnya sangat memalukan. Persibo tidak hanya kalah telak, 0-8, pertandingan dihentikan di menit 65, karena Persibo hanya menyisakan enam pemain di lapangan (syarat minimum tujuh pemain). Permasalahan ini terjadi karena selama pertandingan ada enam pemain yang cidera (tidak bisa melanjutkan pertandingan). Pemain cidera kemungkinan karena kelelahan (perjalanan yang jauh dari Bojonegoro, tiba pagi hari bertanding sore hari). Permasalahan jumlah pemain timbul karena Persibo hanya membawa 12 pemain (11 starter dan satu cadangan). Permasalahan ini ada karena anggaran perjalanan tidak cukup (Persibo kesulitan dana).

Sementara itu, lawan tanding Persibo adalah Sunray Cave JC Sun Hei. Mereka tidak senang dengan kemenangan delapan gol. Para pemain Sunray justru kecewa berat dengan situasi yang mereka hadapi. Pelatih mereka munuding Persibo, tidak berniat main, tidak sportif. Media Hongkong memberitakan secara luas kasus ini. Dikabarkan AFC akan melakukan penyelidikan. Sedangkan pelatih Persibo hanya bisa minta maaf karena menurutnya para pemain sudah mencoba yang terbaik, tapi para pemainnya bermain dengan buruk dan punya banyak pemain cedera. Pelatih tetap bersemangant: “Kami ingin terus main di Piala AFC, tapi kami tidak punya dukungan keuangan. Kami akan berusaha sebisa kami untuk bisa main di sisa pertandingan Piala AFC.”

***

Apa yang salah dengan kasus Persibo ini? Pemain telah bermain dengan semangat juang yang tinggi. Mereka senang berangkat ke Hongkong karena mewakili Indonesia, lebih senang lagi karena setiap pemain akan bermain. Masalahnya adalah mereka kelelahan dan gampang cedera. Penyebab kelelahan karena tiba pagi bertanding sore hari. Ini bukan kesalahan pemain, tetapi kesalahan oleh manajemen klub. Seharusnya klub mampu memberangkatkan lebih awal agar cukup waktu bagi pemain recovery akibat perjalanan. Tapi manajemen memilih karena demi efisiensi biaya-biaya lain, seperti akomodasi, uang saku dan lainnya. Pelatih hanya berharap sisa pertandingan harus dilanjutkan karena pelatih sudah menyusun program tahunan (bertanding di liga domestik dan juga liga internasional). Pelatih sudah tentu menyusun daftar pemain, tetapi kualitas yang mampu disediakan manajemen hanya merekrut pemain-pemain dengan harga yang terjangkau dengan kondisi keuangan yang ada. Siapapun pelatihnya dengan kualitas pemain seadanya akan sulit bersaing di level internasional.

Lantas mengapa tim diberangkatkan ke Hongkong. Ini wajib karena secara defacto AFC telah menetapkan Persibo, mewakili Indonesia sebagai kontestan AFC Cup berdasarkan rekomendasi Liga (LPIS) dan asosiasi (PSSI). Masalahnya adalah bahwa LPIS/PSSI tidak memantau kondisi (keuangan) klub Persibo sejak dari awal (liga domestik) hingga menjelang pertandingan AFC Cup di Hongkong. Berita mengenai permasalahan dana Persibo sudah sejak lama diberitakan tetapi mengapa pengelola liga (LPIS) tidak melakukan tindakan preventif atau talangan dana (bailout) agar persiapan dan pertandingan kondusif? Sebab salah satu tanggung jawab pengelola liga adalah mampu menutupi kesulitan dana klub ketika terjadi pertandingan yang sangat penting (kompetisi AFC Cup). Apakah dalam hal ini klub Persibo telah melanggar aturan profesional (dari aspek financial) sehingga LPIS membiarkannya? Jika ada pelanggaran, seharusnya pengelola liga melarang klub Persibo ikut kompetisi (liga) profesional apalagi mewakili Indonesia di AFC Cup.

Ini jelas suatu pelajaran pahit bagi sepakbola profesional di Indonesia. Pengelola liga profesional Indonesia seharusnya konsisten dengan aturan lisensi klub profesional yang mencerminkan good governance, transparasi dan akuntabilitas. Kasus klub Persibo tidak hanya telah mencoreng nama baik dan kredibilitas sepakbola Indonesia, juga klub Persibo telah menodai fair play keuangan klub, dan juga pengelola liga telah menciderai aturan liga profesional. Stakeholder sepakbola Indonesia tidak cukup dengan modal semangat, tetapi juga kriteria profesional. Kita sering mendengar suporter nekad (tidak memiliki anggaran perjalanan), lantas apakah sebuah klub harus dibiarkan dengan modal nekad (melanggar fair play keuangan klub dan keuangan yang tidak cukup), dan juga apakah pengelola liga tidak memiliki cukup cadangan dana untuk mengelola liga? Kenyataannya, beginilah yang terjadi. Harus kita benahi![Akhir Matua Harahap]


TAGS


-

Profil Penulis

akhirmh@yahoo.com

Bergabung dengan Blogdetik sejak 4 Juni 2008, menulis blog di waktu luang. Satu dasawarsa terakhir mempelajari ekonomi, industri dan bisnis sepakbola. Untuk lebih memahami topik sepakbola tersebut, sedang mempelajari sejarah sepakbola di Indonesia.

Follow Me