Lisensi Klub Profesional Indonesia: Paspor Menuju Liga Champion Asia

30 Mar 2013

1. Liga Sepakbola Profesional Indonesia

Liga sepakbola Indonesia sesungguhnya sudah berumur 34 tahun–sejak Liga Sepakbola Utama (Galatama), kemudian unifikasi kompetisi perserikatan dan Galatama menjadi Liga Indonesia (1994) dan kemudian diproklamirkan dengan label ‘Liga Profesional Indonesia’ (Liga Super Indonesia pada 2008 yang disusul dengan kehadiran LPIS yang kemudian dilakukan unifikasi pada 2013). Namun, sangat disayangkan klub-klub yang berlaga di liga sepakbola Indonesia belum semuanya memiliki sertifikat Lisensi Klub Profesional. Klub-klub yang ada dan tengah berkompetisi atas nama label profesional, ternyata merupakan gabungan tiga status klub sepakbola di dalam satu liga: profesional, semi-profesional dan amatir. Berdasarkan penilaian PSSI (akhir 2012), klub yang memenuhi syarat Lisensi Klub Profesional justru baru 10 klub, yakni; Arema Indonesia, Deltras, Pelita Jaya, Persib, Persema, PSM, Persibo, Persebaya 1927, Semen Padang dan Sriwijaya FC. Sungguh, sangat ironis, bukan?.

2. Aspek Penting Pembentukan Klub Sepakbola Profesional

Lisensi Klub Profesional adalah sertifikat yang mengkonfirmasi pemenuhan semua persyaratan minimum yang diwajibkan bagi klub untuk memulai prosedur untuk bisa masuk Liga Champions Asia, AFC Cup dan atau President Cup. Untuk mendapat sertifikat lisensi terdapat lima aspek (kategori) yang menjadi dimensi pengukuran, yakni: sporting, infrastructure, personnel and administrative, legal, financial. Masing-masing aspek ini dalam operasionalnya, dirinci ke dalam sejumlah variabel yang nilai skornya dihitung berdasarkan tingkat pencapaian/pemenuhan yang dimiliki oleh sebuah klub.

a. Sporting

Aspek sporting (youth and coaching) dimaksudkan untuk menjaga masa depan sepakbola agar tetap cukup tersedia pemain yang memiliki keterampilan yang diperlukan dan memiliki motivasi untuk menjadi pemain profesional. Oleh karena itu, penting untuk mendorong pengembangan program usia muda (youth) dan meningkatkan partisipasi anak laki-laki masuk ke dalam dunia sepakbola dengan tingkat pendidikan yang lebih baik dan juga mensosialisasi agar anak-anak perempuan yang tidak hanya untuk ikut bermain sepakbola, tetapi juga berpartisipasi juga sebagai pendukung (suporter). Bagi klub, aspek sporting ini pada intinya bertujuan untuk berinvestasi dalam kualitas berbasis program pembangunan sepakbola usia muda; mendukung pendidikan sepakbola dan mendorong institusi pendidikan (non-sepakbola) terhadap pemain kaum muda; menjaga perawatan medis pemain muda; berlaku adil dalam bermain sepakbola dan juga ketika berada di luar lapangan (termasuk pemahaman umum hal wasit antara semua pihak yang terlibat dalam pertandingan seperti wasit, pemain, pelatih dan ofisial).

Keuntungan pertama dan utama dari pemenuhan aspek sporting ini bagi klub adalah untuk mengorbitkan bakat sepakbola bagi skuad pertama (senior) klub setiap tahunnya. Para pemain muda ini juga biasanya cocok, lebih mudah dan lebih cepat masuk ke tim skuad pertama (senior) karena para pemain muda ini sebagian telah dilatih di dalam klub yang sama, dan mereka itu telah mengetahui taktik yang ada di dalam klub serta berbicara dengan bahasa yang sama. Yang juga tidak kalah penting adalah mengingat sistem transfer FIFA, yang mana klub yang telah melatih pemain di bawah 23 dan yang kemudian ditransfer ke klub lain berhak menerima kompensasi keuangan dari klub peminat. Ini berarti, klub akan menerima profit atas investasi klub jika klub melatih pemain muda di dalam klub. Program ini akan terkait dalam meningkatkan hubungan dan rasa hormat antara pelatih, ofisial, pemain dan wasit dalam mendukung gagasan fair play baik di dalam lapangan maupun di luar lapangan. Dalam kaitannya ini juga akan tercipta peningkatan citra para pemain dan klub di satu sisi dan di sisi lain kemungkinan adanya denda sanksi disiplin bagi klub dapat dikurangi.

b. Infrastructure

Aspek infrastruktur merujuk pada kebutuhan utama klub: stadion. Stadion adalah tempat untuk pertandingan kompetisi, termasuk, namun tidak terbatas pada, semua properti dan fasilitas dekat ke stadion tersebut (misalnya, kantor, lokasi perhotelan, pusat pers dan lainnya). Secara khusus, stadion yang digunakan harus memiliki persyaratan yang meliputi semua standar minimum. Pemenuhan standar ini pada hematnya ditujukan untuk kebutuhan Liga Champions AFC atau AFC Cup. Bagi klub, infrastruktur harus dilihat sebagai investasi jangka panjang, maka jika stadion yang akan dibangun atau direnovasi dalam jangka pendek (misalnya satu sampai tiga tahun), maka dalam perencanaan stadion atau penyewaan stadion agar dipesan untuk meningkatkan standar kualitas atas dasar sukarela.

Kepemilikan stadion yang memadai pada dasarnya bertujuan untuk memfasilitasi jika klub yang bersangkutan bertanding di kompetisi AFC yang mana stadion ini harus mampu melayani penonton, media dan dengan ketersediaan ruang pers yang aman dan nyaman; memiliki fasilitas pelatihan yang cocok untuk pemain dan membantu meningkatkan keterampilan teknis para pemain. Namun demikian, keutamaan stadion saat ini harus juga dikaitkan buat penonton yang mengikuti event pertandingan yang kini semakin menarik, semakin menghibur dan karenanya penonton semakin bersedia datang ke stadion dengan sukarela membayar. Dengan kata lain, pada masa ini sebuah pertandingan antara dua tim sepakbola tidak lagi cukup untuk membawa orang ke dalam stadion sepakbola untuk menonton pertandingan live, tetapi manfaatnya bagi penonton lebih dari itu. Oleh karenanya, setiap klub, bersama-sama dengan pemilik stadion (pemda) dan masyarakat setempat, harus berupaya untuk menghadirkan dan menjaga stadion agar tetap cukup menarik untuk dikunjungi, safe dan secure, mudah diakses dengan mobil (termasuk fasilitas parkir) dan atau transportasi umum, memiliki kursi yang nyaman dengan pandangan yang cukup dekat ke lapangan, fasilitas perhotelan yang bersih dan toko-toko, fasilitas yang dilengkapi dengan higienis dan toilet yang memadai baik pria maupun wanita, menyediakan instalasi komunikasi (pengeras suara dan layar video) dan, juga secara khusus memiliki kursi dan toilet bagi penyandang cacat. Standar kualitas stadion yang lebih tinggi dan fasilitas yang lebih baik akan sendirinya tercipta peluang bisnis yang lebih besar dan karena itu bagi pemilik dan atau klub akan mendatangkan pendapatan lebih, yang dapat membantu untuk membiayai investasi fasilitas stadion. Unsur lainnya yang perlu mendapatkan perhatian adalah agar stadion mampu menampung kerumunan massa yang besar dalam mendukung timnya di lapangan.

c. Personnel and administrative

Klub sepakbola pada masa ini tidak hanya dipandang sebagai klub olahraga semata, tetapi juga dalam relasi dan kontak dengan pihak lain. Para pengurus, para suporter, media, sponsor, pemasok, mitra komersial, masyarakat setempat, dan dalam beberapa hal khusus, pemegang saham klub yang tertarik dalam pengembangan dan hasil dari sebuah klub sepakbola. Oleh karena itu, dukungan profesional harus dicari dari para ahli dibidangya khususnya keahlian yang berlatar belakang ekonomi, industri dan bisnis (yang expert dalam bidang marketing, operation, finance, hiburan, media, dan lainnya). Para ahli ini diharapkan dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan klub sepakbola agar klub lebih mumpuni dalam memenuhi kebutuhan dan tuntutan dari para pengurus dan stakeholder sepakbola yang harus diperlakukan sebagai klien.

Klub sepakbola yang sudah beroperasi dalam lingkungan yang kompetitif di sisi olahraga, dan di sisi lain klub akan semakin terlibat dalam persaingan bisnis (industri) dan ekonomi (daerah). Dalam hubungan ini, klub harus memperkuat profitabilitas dalam jangka panjang. Ini berarti klub sepakbola akan termotivasi untuk meng’create‘ sumber-sumber pendapatan baru dan berbeda dari pendapatan selain yang sudah ada (TV dan sponsor) agar pendapatan lebih leluasa dari keberhasilan olahraga klub dan memiliki kemungkinan lebih besar berfungsi sebagai unit bisnis yang sukses secara finansial. Oleh karenanya, mau tak mau klub sepakbola jelas memerlukan rekomendasi dari profesional lainnya, yang berpengalaman, berpendidikan yang lebih baik dan orang-orang inovatif yang dapat membawa keterampilan yang berbeda (know-how) ke dalam klub dan membantu untuk memenuhi kebutuhan tambahan dan tuntutan sepakbola masa ini.

Dalam pengelolaan personil dan administrasi. setiap klub harus dikelola secara profesional; memiliki tenaga ahli terdidik, berkualitas dan terampil yang tersedia dengan tingkat pengetahuan dan pengalaman tertentu; para pemain dari tim pertama (senior) dan lainnya (junior) yang dilatih oleh pelatih yang berkualitas dan didukung oleh staf medis yang diperlukan. Para professional–staf terdidik dan berpengalaman– adalah kunci sukses untuk menjalankan klub sepakbola dengan cara yang efisien dan efektif. Menjadi profesional di semua tingkat dan dalam semua fungsi tidak berarti bahwa klub harus merekrut staf yang hanya penuh-waktu. Fokusnya adalah pada cara di mana orang-orang yang ditunjuk melakukan tugasnya secara profesional. Pemenuhan unsur-unsur ini benar-benar penting bagi kelancaran dan sukses menjalankan klub, dan dengan begitu setiap klub akan bisa atau mampu membiayai setiap fungsi-fungsi di dalam klub. Profesionalisme klub juga akan membaik jika klub mendefinisikan tugas dan tanggungjawab (job desc) yang jelas untuk masing-masing fungsi dan orang, yang meliputi kegiatan utama, tanggungjawab utama (teknis dan keuangan) dan persyaratan untuk pekerjaan (pendidikan, pengalaman kerja, pengetahuan teknis, keterampilan IT, kompetensi manusia, penguasaan bahasa dan termasuk orang lain yang kompeten dalam know-how sepakbola). Klub dalam hal ini terserah untuk mencari orang yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan untuk melibatkan para kandidat yang sesuai dengan job desc yang didefinisikan (misalnya staf atau tenaga ahli penuh waktu, paruh waktu, relawan).

Hal yang juga penting adalah pentingnya pelatih berkualitas yang merupakan dasar untuk kualitas pendidikan yang tinggi dalam tim sepakbola klub. Untuk mencapai tujuan ini, klub membutuhkan dukungan dari asosiasi (PSSI) untuk mengadakan program pendidikan pelatih. Untuk meningkatkan keterampilan sepakbola tim muda (junior) serta tim skuad pertama (senior) dalam semua aspek (secara teknis, taktis dan fisik) sangat diperlukan pelatih terlatih dan berkualitas. Setiap pemain muda yang bercita-cita menjadi pemain sepakbola profesional kelak juga perlu memenuhi syarat pelatih terbaik untuk usia muda. Keterampilan lain yang diperlukan adalah seperti pelatihan psikologi, pelatihan media, keterampilan sosial, keterampilan bahasa, dan lain-lain) diperlukan dan harus dicapai melalui pelatihan khusus yang diselenggarakan oleh asosiasi (PSSI) untuk mengeluarkan lisensi untuk pelatih. Hal ini tidak hanya diinginkan tetapi adalah suatu keharusan. Pelatih yang memiliki sertifikasi yang lebih tinggi, AFC juga telah menerapkan sistem pendidikan pelatih AFC di seluruh Asia yang mana aosiasi mengirim kandidat yang memenuhi standarisasi dan kualitas dalam mengikuti sertifikasi pendidikan pelatih AFC-Pro, AFC-A dan AFC-B dan AFC- C. Hal lain yang termasuk dalam personil dan administrasi ini adalah adanya dukungan dari spesialis dalam keselamatan dan masalah keamanan yang akan memastikan setiap pertandingan diatur sebagai event yang aman.

d. Legal

Setiap klub seharusnya memenuhi aspek legalitas yang meratifikasi hukum yang mengikat berupa aturan perundang-undangan yang berlaku di setiap negara yang bersangkutan dan juga keputusan-keputusan yang berasal dari FIFA, AFC, PSSI dan pengelola liga (Liga Indonesia). Selain itu, klub harus juga mengakui yurisdiksi eksklusif CAS (Pengadilan Arbitrase Olahraga di Lausanne) untuk setiap sengketa internasional dan khususnya yang melibatkan FIFA dan atau AFC; juga dalam kaitan ini adalah mengakui adanya larangan berperkaran melalui pengadilan biasa baik menurut Statuta FIFA maupun AFC; di tingkat nasional, klub harus bersedia bermain di kompetisi yang diakui dan disahkan oleh asosiasi (PSSI) misalnya kejuaraan nasional atau Piala Indonesia); di tingkat kontinental, klub hanya diizinkan berpartisipasi dalam kompetisi yang diakui dan disahkan oleh AFC (ketentuan ini tidak berlaku dengan pertandingan persahabatan); dan klub harus mematuhi ketentuan yang dikeluarkan dan terdapat dalam Peraturan Perizinan Klub Nasional (kementerian, kehakiman dan kepolisian).

Sudah barang tentu setiap klub mengupayakan agar klub sebagai badan hukum (perusahaan) yang sah yang meliputi pengajuan akte notaris, izin usaha yang mengandung informasi tentang nama, alamat, bentuk hukum, daftar penandatangan yang berwenang dan tandatangan yang dibutuhkan. Klub harus memiliki deklarasi yang sah di dalam akte yang menguraikan struktur kepemilikan dan mekanisme pengendalian (control) terhadap klub. Dalam hal ini, tidak ada orang atau badan hukum yang terlibat dalam manajemen, administrasi dan kinerja klub, baik secara langsung atau tidak langsung (yang memiliki surat berharga, saham dan menguasai mayoritas saham) dari klub lain yang turut berpartisipasi dalam kompetisi yang sama. Hal lainnya adalah setiap klub menetapkan secara hukum kode etik bagi pemain dan ofisial yang sesuai dengan hukum nasional, FIFA, AFC dan AD/ART asosiasi (PSSI) beserta aturan dan peraturan yang dikeluarkan. Klub juga diharapkan agar menunjuk badan hukum (penuh waktu atau paruh waktu) yang bertanggung jawab untuk menangani semua permasalahan terkait hukum (pengurusan legalitas klub sampai dengan upaya hukum bagi klub. Para penasihat hukum harus memiliki kualifikasi hukum yang diperlukan.

e. Financial

Keuangan klub berhubungan dengan informasi keuangan historis tentang kinerja keuangan klub dan posisi; Informasi keuangan masa depan tentang prospek masa depan klub serta pelaksanaan penyusunan dan penyajian laporan keuangan keuangan terus disusun atas dasar persyaratan praktik akuntansi nasional. Pelaksanaan keuangan harus dipenuhi bahwa informasi keuangan sehubungan dengan tahun keuangan berakhir pada tahun takwin. Penetapan aturan keuangan klub ini bertujuan terutama untuk meningkatkan kemampuan ekonomi dan keuangan dari klub; meningkatkan transparansi klub ‘dan kredibilitas; tempatkan pentingnya diperlukan pada perlindungan kreditor; menjaga kelangsungan kompetisi internasional selama satu musim, dan memantau fair play keuangan dalam kompetisi AFC klub.

Pelaksanaan aturan keuangan akan membantu memberikan baik jangka pendek dan jangka panjang perbaikan untuk klub untuk insan sepakbola pada umumnya. Aturan keuangan ini harus membantu untuk: menjaga kesinambungan dan integritas kompetisi; meningkatkan transparansi dan kredibilitas operasi keuangan klub ‘dan, dengan demikian, sepakbola Asia umumnya meningkatkan kepercayaan terhadap keandalan dari industri sepakbola; membuat pasar yang lebih menarik bagi mitra komersial permainan dan investor, dan memberikan dasar untuk kompetisi yang adil, karena persaingan bukan hanya tentang tim di lapangan. Dalam hubungan ini, aturan keuangan harus membantu untuk: meningkatkan pemahaman mereka tentang posisi keuangan dan prospek mereka klub anggota; mendorong klub untuk menyelesaikan kewajiban kepada kreditur secara tepat waktu; meningkatkan kemampuan mereka untuk menjadi proaktif dalam membantu klub dengan masalah keuangan, dan menyediakan titik awal untuk pembandingan klub, pada tingkat nasional. Untuk klub, aturan keuangan ini membantu untuk: meningkatkan standar dan kualitas pengelolaan keuangan dan kegiatan perencanaan; aktifkan manajemen yang lebih baik pengambilan keputusan; meningkatkan kredibilitas klub ‘keuangan dan bisnis dengan para pemangku kepentingan; meningkatkan stabilitas keuangan, dan meningkatkan kemampuan menghasilkan pendapatan dan pengelolaan biaya.

3. Lisensi Klub Sepakbola Profesional di Indonesia

Kini Liga Indonesia telah memasuki fase industrialisasi sepakbola di Indonesia. Animo penonton yang besar dan banyaknya klub yang eksis di Indonesia dalam kenyataannya tidak cukup untuk menjamin klub-klub Indonesia untuk bersaing di Liga Champion Asia. Klub-klub Indonesia kedodoran untuk memenuhi syarat dan kriteria untuk mendapatkan sertifikat Lisensi Klub Sepakbola Profesional. Akibatnya, ketika aturan ini diterapkan oleh AFC, maka jatah Indonesia di Liga Champion Asia yang sebelumnya sebanyak dua klub, lambat laun tergerus yang akhirnya habis dan kini hanya menyisakan slot untuk satu setengah klub (satu klub langsung dan satu klub harus play off) di kempetisi AFC Cup (kompetisi level kedua AFC).

Dampak lainnya adalah terjadi pula pada penyelenggara liga profesional Indonesia (Liga Indonesia). PT Liga Indonesia (dan PT LPIS) sebagai penyelenggara resmi liga profesional di Indonesia yang diharapkan mendapat label Liga Profesional menjadi tidak sepenuhnya sebagai Liga Profesional. Terdapatnya sebagian besar klub yang berkompetisi (baik Liga Super/Prima atau Divisi Utama) yang tidak memenuhi Lisensi Klub Sepakbola Profesional semakin mengukuhkan labal liga profesional menjadi jauh dari yang diharapkan.

Oleh karena itu, setiap klub seharusnya berinisiatif untuk menjadi klub profesional dengan cara memenuhi unsur-unsur yang menjadi kriteria untuk mendapat lisensi dari lima aspek Lisensi Klub Sepakbola Profesional. Hanya dengan cara memenuhi lisensi tersebut, sebuah klub di Indonesia dimungkinkan untuk menjadi kontestan Liga Champion Asia dan memberi jalan yang aman untuk meraih profit perusahaan (bisnis) di era industri sepakbola (Gambar-1). Sudah waktunya semua klub di Indonesia mampu memenuhi Lisensi Klub Sepakbola Profesional dalam rangka mengikuti kompetisi di level Liga Profesional di Asia (AFC). Untuk memperpendek jalan menuju pencapaian Lisensi Klub Sepakbola Profesional, salah satu opsi adalah memberi kesempatan bagi klub-klub Liga Super Indonesia (LSI) yang belum memenuhi salah satu aspek Lisensi Klub Sepakbola Profesional (AFC) disarankan merger dengan klub Liga Prima Indonesia yang sudah berkiprah tanpa dana APBD. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa rata-rata manajemen klub LPI lebih siap jadi model klub tanpa APBD (kepemilikan saham). Sudah terbukti ada klub yang berhasil melakukan merger dengan tetap menggunakan nama klub lama. [Sumber Utama berdasarkan AFC CLUB LICENSING] [Akhir Matua Harahap]


eaab38384317ab028aeef692fc8e3c91_image001


TAGS


-

Profil Penulis

akhirmh@yahoo.com

Bergabung dengan Blogdetik sejak 4 Juni 2008, menulis blog di waktu luang. Satu dasawarsa terakhir mempelajari ekonomi, industri dan bisnis sepakbola. Untuk lebih memahami topik sepakbola tersebut, sedang mempelajari sejarah sepakbola di Indonesia.

Follow Me