Pemain Asing vs Pemain Nasional: Suatu Siklus Transfer Internasional Pemain Profesional dalam Industri Sepakbola

15 Mar 2012

Oleh Akhir Matua Harahap


Introduksi liga sepakbola di Indonesia pada dasarnya bukan hanya semata-mata dimaksudkan untuk menggantikan bentuk kompetisi sepakbola perserikatan, tetapi juga untuk menaikkan status para pemain sepakbola dari pemain amatir menjadi pemain profesional. Pemain amatir ini pada era perserikatan bekerja untuk sepakbola umumnya paruh waktu (part-time) dan bahkan tidak sedikit diantaranya bekerja untuk sepakbola hanya sekadar asal sempat saja (spare-time). Sedangkan pemain profesional di era liga, para pemain sepakbola sudah bekerja sepenuhnya untuk sepakbola alias bekerja penuh waktu (full-time). Ini dengan sendirinya, liga sepakbola telah mengubah kegiatan sepakbola dari sifatnya non-ekonomi menjadi sepakbola sebagai lapangan/pekerjaan ekonomi yang baru. Suatu lapangan pekerjaan yang sebelumnya tidak teridentifikasi dalam perekonomian nasional Indonesia menjadi sebuah lapangan pekerjaan yang (akan) mampu mendatangkan manfaat ekonomi.


Liga sepakbola yang berbasis klub dan klub yang diorganisasikan layaknya sebuah unit bisnis, maka liga sepakbola yang awalnya sebagai sebuah kompetisi permainan sepakbola dari berbagai klub sepakbola juga menjadi sebuah kompetisi unit-unit bisnis yang core business-nya klub dalam meraih keuntungan (profit). Dalam jangka panjang, klub-klub yang berumah bisnis ini harus menunjukkan kinerja usahanya melalui profit yang dari waktu ke waktu menunjukkan peningkatan. Ini berarti profit jangka panjang tersebut harus dipandang sebagai bentuk konpensasi (penutup) atas biaya-biaya yang tidak sedikit di awal karir klub dan tentu saja untuk balas jasa bagi penyandang modal (investor) dalam bentuk deviden (return). Dalam kerangka inilah sesungguhnya penggunaan pemain asing oleh klub dapat ditolerir di dalam mengikuti liga sepakbola profesional di suatu negara.

***


Pelan tapi pasti, sejumlah klub yang mengikuti liga semakin merasakan ketatnya kompetisi untuk meraih kemenangan. Tanpa kemenangan, klub-klub sulit untuk menjadi juara kompetisi. Jika tidak mungkin menjadi juara dan peluang untuk menang sangat kecil dalam setiap pertandingan, maka bukan tidak mungkin penonton atau supporter akan meninggalkan klub. Situasi dan kondisi semacam ini menjadi alamat buruk bagi klub untuk segera gulung tikar atau bubar. Akan tetapi, pengelola klub punya rasionalitas sendiri. Klub seharusnya tidak boleh bubar dan bisnis harus tetap jalan. Jika klub sebagai entitas bisnis mundur dari kompetisi apalagi bubar (membangkrutkan diri) maka beban-beban sebelumnya berupa utang harus tetap dipertanggungjawabkan. Lebih-lebih para pemilik klub/bisnis sudah tentu tidak mau dana-dana yang telah ditanamkan di dalam klub lenyap begitu saja. Oleh karena itu, bagi investor tidak ada istilah mundur/bubar. Bisnis atau klub harus mampu bertahan, klub harus dibangkitkan dan kinerja klub harus dapat tumbuh dan terus berkembang.


Inilah arti penting pemain berkualitas di dalam sebuah klub profesional yang menjalani liga yang kompetitif. Namun, jumlah pemain berkualitas dari dalam negeri sangat terbatas dan umumnya pemain berkualitas adalah pemain nasional. Banyaknya klub yang ikut liga menyebabkan pemain domestik yang berkualitas tidak sebanding dengan yang dibutuhkan mereka. Persaingan dan merebut pemain berkualitas dengan sendirinya meningkatkan harga pasar para pemain. Dengan meningkatnya harga pemain domestik, maka harga pemain sepakbola di pasar internasional relatif menjadi bisa dijangkau oleh klub-klub. Ini berarti, mendatangkan pemain asing merupakan solusi atas rasionalitas klub dalam menjalankan fungsi bisnis sepakbola. Karenanya, pemain asing bagi klub profesional menjadi tidak terbantahkan (Gambar-1).


0df407e2fd5e25b3d155a7db332148b6_image001


Akan tetapi, kehadiran pemain asing di dalam liga domestik bukan tanpa resiko ekonomi. Bagi klub, pemain asing dengan harganya yang relatif lebih mahal dari harga rata-rata pemain lokal otomatis menjadi resiko bisnis bagi klub dengan meningkatnya biaya (anggaran) pembelian pemain. Sementara di mata pemerintah (negara), pemain asing adalah tenaga profesional asing yang bekerja di dalam negeri. Ini di satu sisi menjadi sumber devisa bagi negara asalnya dan di sisi lain negara penerima pemain asing akan kehilangan devisa. Ini adalah suatu dilema. Upaya untuk menghambat pemain asing sudah tak mungkin, karena pemain asing memang sangat dibutuhkan oleh klub.

***


Klub adalah suatu entitas bisnis. Bagi pemerintah (negara), bisnis adalah salah satu elemen ekonomi nasional yang bisa mengkreasi nilai tambah. Sejauh klub mampu membiayai sendiri atas kebutuhannya terhadap pemain asing, resiko ekonomi nasional dapat dieliminasi. Oleh karenanya, industrialisasi sepakbola menjadi jalan keluar. Sepakbola nasional via liga sepakbola haruslah berubah wujud menjadi suatu industrisuatu sektor/lapangan kerja yang perlu diwadahi oleh pemerintah (negara) sebagaimana sektor-sektor lain yang telah lebih dahulu tumbuh dan berkembang. Dengan melihat potensi sepakbola Indonesia, sesungguhnya industri sepakbola nasional dimungkinkan kondusif untuk tumbuh dan berkembang.


Liga sepakbola nasional yang notabene menjadi industri sepakbola nasional kini diharapkan berkembang lebih baik seiring dengan keberadaan klub-klub profesional (klub sebagai unit bisnis). Liga dan klub otomatis bisa bersinergi. Liga melalui klub di satu sisi dapat menjadi kawah candradimuka dalam pembentukan tim nasional sepakbola Indonesia yang mewakili negara di arena sepakbola internasional. Dalam hal ini klub sudah barang tentu akan menjalankan dwifungsi yang satu sama lain bersifat komplemen, yakni: kompetisi sepakbola dan kompetisi usaha. Adanya pemain asing di klub akan meningkatkan performa klub dalam berkompetisi dan peran pemain asing sudah tentu akan meningkatkan daya tarik (daya jual) klub bagi penonton atau pihak-pihak lain yang terkait. Yang lebih penting pemain domestik bisa belajar dari pemain asing yang juga akan menaikkan tingkat kompetitif pemain domestik terhadap pemain asing. Hasil sinergi ini akan menguntungkan klub dan juga menjadi penghematan bagi pemerintah (negara) dalam pembentukan tim nasional sepakbola Indonesia.

***


Liga yang stabil (regulasi yang berorientasi nasional dan klub-klub yang semakin profesional) akan dengan sendirinya terbentuk industri sepakbola dan memunculkan nilai tambah ekonomi di berbagai aspek sepakbola. Klub-klub yang dikelola dengan standar bisnis tidak hanya mendatangkan keuntungan bagi klub, tetapi juga menjadi pemicu lahirnya bentuk-bentuk bisnis baru yang pada gilirannya membentuk industri-industri baru terkait sepakbola. Kumulatif nilai tambah dari berbagai industri sepakbola ini sudah tentu memperbesar nilai manfaat bagi pemerintah (negara). Industri melahirkan industri. Beban terhadap pemain asing pada awalnya lambat laun menjadi hanya sekadar faktor produksi belaka dan dengan kontribusi sepakbola terhadap pendapatan nasional semakin signifikan akan dengan sendirinya devisa yang hilang atas penggunaan pemain asing menjadi tidak begitu berarti lagi. Dengan demikian, sudah seharusnya industrialisasi sepakbola mendapat perlakuan yang adil dan mendapat perhatian pemerintah (negara) dan pantas mendapat pembinaan utamanya dalam pengembangan infrastruktur sepakbola.


Dalam tahap pertumbuhan industri umumnya, ketergantungan negara terhadap tenaga kerja asing (TKA) adalah hal yang biasa. Demikian juga yang terjadi di dalam industri sepakbola, kehadiran pemain asing (kata lain untuk istilah TKA) di dalam klub-klub sepakbola nasional tentu saja harus memberi manfaat dalam bentuk transfer knowledge/skill. Inilah esensi kehadiran pemain asing. Harga yang harus kita bayarkan atas upah/salary yang relatif lebih tinggi daripada tenaga kerja lokal dalam jangka panjang harus memberi dampak bagi kemampuan/skill pemain lokal/tenaga kerja domestik. Atas prestasi pemain-pemain lokal ini akan tiba waktunya untuk memperbaiki kualitas pemain lokal baik sebagai pemain di klub maupun pemain di tim nasional.


Bentuk lain pembinaan sepakbola nasional oleh pemerintah (negara) melalui fasilitasi tim nasional atau klub di turnamen-turnamen atau liga-liga internasional akan memungkinkan pemain lokal yang berkualitas akan dapat terpantau oleh negara-negara lain yang membutuhkan pemain sepakbola yang berkualitas. Dalam rangka untuk meningkatkan minat dan permintaan terhadap pemain sepakbola nasional sudah tentu dukungan pemerintah sangat diharapkan. Ini jelas, dukungan dan pembinaan pemerintah (negara) terhadap industri sepakbola akan mempercepat lahirnya pemain-pemain yang berkualitas yang mampu bermain di negara-negara lain. Ini berarti impor pemain asing di liga sepakbola Indonesia dapat diimbangi dengan ekspor pemain ke manca negara. Dalam konteks transfer pemain ini di tingkat internasional adanya kekhawatiran terhadap kehilangan devisa akan terbantu dengan masuknya devisa melalui pemain Indonesia di luar negeri. Devisa dibayar dengan devisa. Peranan pemain sepakbola ini sudah terbukti di Negara Brazil yang dari waktu ke waktu selalu mengalami surplus perdagangan pemain sepakbola dengan semua negara. Sementara Negara Portugal, neraca perdagangan dengan negara lain sudah mengindikasikan balance hanya dengan diwakili oleh seorang Ronaldo (CR7) saja***


TAGS Industri Sepakbola


-

Profil Penulis

akhirmh@yahoo.com

Bergabung dengan Blogdetik sejak 4 Juni 2008, menulis blog di waktu luang. Satu dasawarsa terakhir mempelajari ekonomi, industri dan bisnis sepakbola. Untuk lebih memahami topik sepakbola tersebut, sedang mempelajari sejarah sepakbola di Indonesia.

Follow Me