Industri Sepakbola di Indonesia

11 Mar 2012

Sepakbola Indonesia kini berada dalam masa transisi menuju industri sepakbola. Karakteristik industri sepakbola ditandai oleh peran klub sepakbola sebagai core business suatu perusahaan yang berbadan hukum (legal formal). Ini berarti klub-klub yang sebelumnya bersifat amatir berubah menjadi klub yang bersifat profesional. Dengan kata lain, klub menjadi sebuah unit bisnis (firm) yang tujuan utamanya untuk menghasilkan keuntungan (profit).


Sebuah klub dikatakan sebagai profesional jika setiap pihak yang berkaitan dengan klub sebagai pekerjaan utamanya (profesi) yang harus dilakukan secara transaksional berdasarkan aturan main (norma) bisnis yang berlaku. Interaksi yang bersifat transaksional ini masing-masing pihak akan mendapat manfaat ekonomi (wage, profit, rent, interest/return).


Industri adalah kumpulan unit-unit bisnis (firm) yang sejenis. Ini berarti industri sepakbola adalah lapangan/sektor ekonomi yang pada intinya terdiri dari klub-klub yang menjalankan fungsi bisnis utama di bidang (pertunjukan) sepakbola.

***

Industri sepakbola adalah industri yang unik. Secara umum industri ini kurang lebih serupa dengan industri-industri lainnya. Yang membedakan adalah bahwa setiap klub terintegrasi secara keseluruhan dengan klub-klub yang ada di berbagai negara (dunia). Sebagai konsekuensinya, setiap klub patuh dan harus mematuhi aturan main bersama berdasarkan regulasi yang berasal dari induk organisasinya (FIFA) yang dalam hal ini di Indonesia direpresentasikan oleh PSSI.


Oleh karenanya, di dalam industri sepakbola, setiap klub menjalankan dua fungsi sekaligus, yakni: fungsi kompetisi/liga dan fungsi usaha/bisnis. Dua fungsi ini bersifat komplementer (saling membutuhkan). Setiap klub yang berkompetisi pada liga dengan level yang lebih tinggi maka prospek bisnisnya akan semakin besar untuk menghasilkan profit atau sebaliknya semakin besar skala bisnisnya sangat berpotensi untuk masuk ke liga yang levelnya lebih tinggi.


Di dalam negeri, level kompetisi (liga) dibedakan atas beberapa divisi. Di Indonesia, liga profesional terdiri dari dua divisi, yaknik: Liga Primer/Super sebagai level tertinggi dan Liga Divisi Utama sebagai level kedua. Antar kedua level liga ini dilakukan aturan interchange dalam bentuk promosi/degradasi. Klub-klub yang telah menyelesaikan kompetisi setiap musim (satu tahun kalender) dapat berpartisipasi dalam kompetisi/liga internasional. Pada tingkat benua (Asia/AFC) ada tiga level kompetisi (Liga Champion, Liga AFC dan President Cup) dan hanya klub yang berkompetisi di Liga Champion yang berhak maju ke kompetisi klub dunia (antar benua) yang dikenal sebagai FIFA World Club. Level kompetisi dan kuota untuk masuk level kompetisi Asia tergantung dari kriteria AFC/FIFA. Kriteria yang digunakan pada dasarnya mencerminkan tingkat perkembangan industri sepakbola dalam negeri masing-masing.


Perlu diperhatikan, bahwa dalam industri sepakbola, postur struktur industri sepakbola haruslah dilihat dari sisi kemampuan masing-masing klub dalam memberi kontribusi (share) dalam ekonomi pasar. Pangsa pasar (market share) masing-masing klub ini dapat diukur dari berbagai aspek. Misalnya, dari segi operation adalah seberapa banyak jumlah penonton (home maupun away), infrastruktur, sekolah/akademi sepakbola dan sebagainya; dari segi marketing adalah seberapa besar nilai sponsor, penjualan merchandise dan nilai-nilai komersial lainnya; dari segi finance adalah seberapa besar asset, omzet, profit dan tingkat pengembalian investasi (return), serta nilai-nilai transfer atau bahkan harga saham yang ditawarkan ke publik; dan dari segi human resources adalah seberapa banyak (kuantitas dan nilai) pemain muda yang berhasil dibina melalui sekolah/akademi sendiri atau rekrutmen di pasar (bursa) pemain.


Dengan demikian, pencapaian level kompetisi adalah hal lain, sedangkan tingkat pencapaian nilai transaksi komersial perusahaanlah yang menentukan positioning klub di dalam industri, baik dalam dinamika persaingan klub/usaha dalam jangka pendek (saat ini) maupun dalam kesinambungan usaha/klub dalam jangka panjang (nanti). Sebagai contoh, di Liga Inggris, sekalipun klub Arsenal tidak selalu masuk dalam struktur big four kompetisi, tetapi dari waktu ke waktu Arsenal sebagai unit bisnis/klub termasuk yang konsisten sehat dari segi finansial. Atas dasar ini Arsenal sebagai klub menjadikannya selalu masuk klub papan atas di dalam industri sepakbola dunia.


Oleh karenanya, klub sepakbola yang memiliki multi tujuan di dalam industri sepakbola, maka klub haruslah diukur dari dua sisi sekaligus tujuan yang satu dengan yang lainnya bersifat komplementer, yakni: level dalam liga (domestik maupun internasional) dan level dalam usaha (bisnis). Inilah yang membedakan industri sepakbola dengan jenis-jenis industri lainnya di dunia ekonomi. (Akhir Matua Harahap)


TAGS Industri Sepakbola


-

Profil Penulis

akhirmh@yahoo.com

Bergabung dengan Blogdetik sejak 4 Juni 2008, menulis blog di waktu luang. Satu dasawarsa terakhir mempelajari ekonomi, industri dan bisnis sepakbola. Untuk lebih memahami topik sepakbola tersebut, sedang mempelajari sejarah sepakbola di Indonesia.

Follow Me